Wednesday, September 2, 2015

Explore Yogyakarta: Manisnya And Or Bookstore

Akhirnya menginjakkan kaki kembali ke Yogya setelah terakhir kali kesana tahun 2013 dimana tidak sampai setengah hari saja saya disana.
Biarlah saya dibilang out of date, yang penting hati ini senang, karena ini adalah pertama kali saya ke Yogya naik kereta api. Kemudian, pertama kali juga saya naik bus trans Yogya. Pertama kali ke House of Raminten. Pertama kali ke alun-alun Kidul (Saya mengunjungi Alun-alun Kidul di siang hari, biar gak mainstream dong). Sementara semua yang saya sebutkan tadi adalah sesuatu/tempat yang sudah sangat sering dilakukan atau kunjungi oleh kebanyakan orang.

Yogya sangat manis, salah satu tempat manis yang paling berkesan adalah And Or Bookstore.
Berbekal motor sewaan dan GPS, sampailah saya dan adik ke And Or Bookstore.
Letaknya memang agak nyempil sih diantara toko-toko lain yang berjejer sepanjang jalan Bougenville. Oh ya, alamat lengkapnya adalah Jalan Bougenville IC Karangasem CTX, Gejayan, Sleman, Yogyakarta. Dekat dengan UNY.

Sempat penasaran dengan Roti Papi nya, ternyata belum ready saat itu. Fyi, And Or Bookstore ini tidak hanya menjual buku (yang bisa dibaca ditempat karena rata-rata secondhand book) tetapi juga ada cafe di lantai dasar, sedangkan toko bukunya berada di lantai dua.



Begitu masuk, wah, saya terkagum-kagum. Sangat unik dan bikin mulut komat kamit sendiri, "so cute, so cute", berulang-ulang. Pingin banget deh punya beginian di rumah. Semoga suatu hari nanti bisa punya semacam ini *.*

Menawan, bukan?

Fixed, saya kesengsem dengan toko buku ini.
Kebetulan saat kami datang, toko buku ini sedang disewakan menjadi studio foto wisuda, jadinya bagian tertentu saja yang bisa kami nikmati.

Bagaimana dengan sudut yang ini?

Aah, tapi tidak mengapa. Setelah cek buku ini itu dibeberapa bagian rak, justru mata saya tertarik pada satu buku kecil, dongeng putri tidur. Segera saya ambil dan beruntungnya, saya mendapatkan buku cerita tersebut edisi ilustrasi 3D minimalis di dalamnya. Mungkin di toko buku seperti gramedia, banyak dijual seperti itu, tetapi mendapatkan buku dongeng tersebut di And Or Bookstore tidak kalah menariknya seperti menemukan harta karun. Aaak, I found a cute book.

Manis dan Menawan

Beruntungnya juga sempat ketemu dengan salah satu ownernya yang bule. Ternyata dia membuat toko buku itu dengan temannya (join an). Saat saya membayar buku dongeng tersebut, si bule menawari saya untuk memakai kantong plastik atau tidak. Saya menolak menggunakan plastik selain buku tersebut kecil, juga hitung-hitung mengurangi penggunaan plastik. Wah, bagus juga, And Or Bookstore menawari pembeli untuk menggunakan kantong plastik atau tidak, mengingat saat ini jarang ada toko menawari pembelinya menggunakan kantong plastik atau tidak, yang ada mereka diam saja sambil memasukkan barang ke plastik, tanpa menawari pembeli.
Ah, bingo, berarti ini juga pertama kalinya saya membeli sesuatu dengan ditawari terlebih dahulu menggunakan plastik atau tidak.

Itulah salah satu manisnya Yogyakarta. Sepertinya pilihan yang tidak salah, saya pernah berharap bisa tinggal di kota manis ini. Someday, semoga ada kesempatan lagi untuk menggali Yogyakarta lebih dalam lagi. 

Thursday, July 23, 2015

Pernah Mudik

Seumur-umur, saya merasakan mudik lebaran baru 2 kali.
Pertama, mudik dari Mataram. Kedua, mudik dari Madiun. Seneng banget deh waktu itu bisa merasakan mudik. Jauh-jauh hari udah mantengin tiket pulang sekalian balik. Waktu itu saya dikasih libur agak panjang, ngurus reschedule tiket pun saya belain jauh-jauh ke BIL karena kantor perwakilan maskapai tersebut nggak ada di kota Mataram. Biaya reschedulenya Alhamdulillah murah, malah mahal ongkos dari Mataram ke BIL (mau naek motor malas amat karena pas puasa).

Pun juga begitu saat mudik dari kota Madiun. Jauh-jauh hari mulai cek tiket kereta. Saya nggak bayangin kalau harus naik bus, macetnya duh duh duh. Mending naik kereta turun stasiun Gubeng (kalau malem kereta Madiun-Sidoarjo gak ada hiks), paling kena macetnya pas perjalanan ke Sidoarjo saat melewati jalan A. Yani.

Waktu mudik LOP-SUB, senengnya bukaan main. Dapet libur duluan *big thanks to my SPV, alhasil saya masih bisa buber dengan teman-teman, meskipun cuma sehari saja sempetnya, tetep Alhamdulillah banget deh, karena waktu itu rasanyaa rinduu sekali Sidoarjo-Surabaya.

Mudik MAD-SGU juga seneng banget karena mudiknya rame-rame, errr bertiga aja sih sebenernya dan hampir tiap minggu kami pulangnya juga bareng naik kereta atau bus. hehehe. tapi sueneng banget, akhirnya libur tiba setelah merasakan hectic banget beberapa hari mendekati libur, selain karena ada pengambilan gaji, THR, gaji ke-13 para pensiunan, juga penukaran uang baru dan isi ATM yang sempet ada selisih sampe lembur hingga hampir jam 24.00 di kantor :') Aduh, jadi rindu dengan teman-teman. Kami bersyukur tiada tara karena mendapat tiket tujuan Surabaya Gubeng dengan jadwal reguler (bukan kereta tambahan), karena beberapa teman mendapat tiket dari kereta tambahan tersebut dan mengalami keterlambatan kedatangan kereta, alhasil nunggu beberapa jam di stasiun Madiun, padahal saat itu kami sudah tiba di stasiun Gubeng.

Sebagai warga aseli Sidoarjo, mudik adalah hal yang pernah menjadi wishlist saya karena sumur-umur belum pernah mudik. Keluarga juga asli Sidoarjo. Silaturrahim saat lebaran pun di Sidoarjo. Bersyukur sekali akhirnya pernah mengalami mudik dan mendapatkan kelancaran dalam mudik.

Menjalang lebaran kemarin, media sosial ramai dengan teman-teman yang sedang merantau dan mengalami hambatan dalam mudik. Gunung Raung meletus sehingga bandara di Jawa Timur ditutup. Ada yang tetep tetap mudik dengan jatah libur lebaran yang minim dan ada yang membatalkan mudik (I know your feeling, libur lebaran nggak jadi pulang huhuhu). Ada pula yang sedang merantau di negeri orang, dengan situasi yang mungkin belum mendukung untuk pulang, jadinya belum berkesempatan mudik lebaran.

Salah satu perasaan yang paling menyenangkan adalah ketika mudik. Serius. Rasanya gak sabar ketemu orang tua, kembali ke rumah, berkumpul dengan keluarga, menyantap masakan rumah, dan lain sebagainya. Rasanya kita mendapat suntikan energi untuk menghadapi ke perantauan yang jauh dari keluarga. Kemudian, saat akan kembali ke perantauan adalah saat-saat yang rasanya-kalau-bisa-pause-pasti bakalan saya pause. Tidak semua orang beruntung mendapat pekerjaan pertama yang 'sesuai' dan terlebih lagi dekat rumah. Tapi dengan merantau akan membawa cerita tersendiri dan memberikan pembelajaran tersendiri. Satu pembelajaran yang saya dapat adalah, dengan merantau (jauh dari rumah), kamu akan jadi tangguh :')

Entahlah, dimasa depan saya bakalan merasakan mudik lagi atau enggak :)

Ngomong-ngomong, mumpung masih bulan syawal nih, saya mengucapkan Taqabbalallhu minna wa minkum. Selamat idul fitri 1436 H. Mohon maaf atas segala kesalahan maupun kekecewaan. Semoga kita menjadi pribadi yang lebiiiiiih baik lagi. Aamiin

Tuesday, July 7, 2015

Pencarian The Greatest Love of All

Judulnya sengaja gitu biar agak menarik, dikit XD
Biar blog ini berasa kalau masih ada ruhnya XD

Mungkin sudah pada tahu itu judul lagu yang dipopulerkan Whitney Houston, tetapi saya telat tahunya.
Dulu, waktu jaman SMA (kelas 10), saya bersama Dina (teman SMA yang gak pernah sekelas tapi kami akrab), mengikuti sebuah acara yang intinya tentang perlindungan anak.
Seneng deh, ketemu anak-anak se Jawa Timur, inti acaranya kita dikenalkan apa saja hak anak.

Setelah acara itu selesai (acara berlangsung selama 2 hari 1 malam), keesokan harinya saya ada ujian di sekolah, matpel Kewarganegaraan tentang hak asasi manusia, tapi apalah daya, otak ini sudah terlanjur hafal hak-hak anak yang dibikin nyanyian maupun tepuk-tepuk hak anak oleh panitia agar kami mudah menghafal, materi ujian hak asasi manusia gak masuk 100% diotak, hasil ujian jeblok, kena remidi karena sebagian besar jawaban tentang HAM malah saya isi dengan hak anak T.T

Fyi, menururt UU perlindungan anak, dibawah 18 tahun masih dikategorikan anak. Jadi, meskipun kami udah SMA kelas 1, selama belum berusia 18 tahun, masih bisa dikatakan anak-anak. Seneng?

Nah, disalah satu segmen acara, ada seorang gadis tunanetra *maaf
Gadis tersebut mendapat kesempatan menyanyi diacara tersebut. Suaranya bagus sekali dan saya jadi terharu karena dia tunanetra tapi dia begitu powerfull membawakan lagi itu, seolah memberikan semangat kepada semua peserta.
Saya nggak ngeh dengan makna lagunya, tapi lagu itu membuat bersemangat. Dari situ, saya mulai cari tahu, itu lagu siapa, suka benget sama lagu itu. Tidak semudah itu untuk tahu itu lagu siapa. Lagunya berbahasa Inggris, dan lirik yang saya ingat cuma "because the..." dan "is...to me"
Kalaupun tanya ke teman, pasti mereka gak paham juga apa yang saya cari karena petunjuk dari saya cuma sekelumit.

Hingga akhirnya saya kos di kos pertama jaman kuliah. Kamar sebelah, gak sebelah banget, ada kamar lainnya, adalah kamar mbak kos, kamar mbak Mila. Mbak Mila suka menyanyi dan mendengarkan lagu-lagu, apalagi dia punya sound system (kok kayak kondangan ya) mini.
Suatu hari, mbak Mila muter lagu yang saya cari-cari itu, tapi saya nggak segera tanya itu lagu siapa. Waktu itu saya mikirnya, nanti aja aku tanyanya.
Akhirnya lagi itu selesai, ganti lagu yang lain, hingga beberapa lagu terlewati. Lalu, tentu saja saya lupa mau tanya itu lagu siapa, judulnya apa.

Keesokan harinya saya baru tanya. Mbak Mila tentu saja gak paham juga apa yang saya maksud. Saya sadar banget suara saya sumbang waktu coba-coba nyanyiin siapa tahu mbak Mila paham dengan apa yang saya maksud. Saya coba-coba googling, gak nemu sama sekali. Saya yakin banget penyanyinya adalah Maria Carey, sampe download lagu-lagunya Maria Carey. Hasilnya nihil, belum nemu apa yang saya maksud.

Saya lulus dari bangku kuliah dan pindah ke Mataram karena pekerjaan. Disana ada teman kerja namanya mbak Bulan. Mbak Bulan pandai menyanyi, sama seperti mbak Mila. Mbak Bulan suka memutar lagu ketika kami bekerja, kebetulan kami satu ruangan. Hari itu mbak B (sapaan mbak Bulan, untuk membedakan panggilan mbak Wulan yang dipanggil mbak W) lagi asyik muter lagu-lagu dari handphonenya. Daaaan, lagu yang saya cari-cari mengalun indah. Saya dengerin dulu baik-baik. Bingo, itu lagu yang saya cari selama ini. "Mbak B, itu judulnya apa? Siapa yang nyanyi?". "Yang mana Pira?". "Yang barusan mbak B putar". "Ooh, itu lagunya Whitney Houston. Greatest Love of All." "Makasi mbak B".

Alhamdulillah, akhirnya ketemu juga lagu tersebut. Dari jaman SMA kelas 10 penasarannya, eeh, pas kerja baru tau itu lagu siapa. Ya Allah, kayak nemu jodoh aja, prosesnya panjang bener *padahal sendirinya juga belum ketemu jodoh

Saya masih suka lagu ini hingga sekarang, seolah-olah memberikan inspirasi dan power.
Misalnya pada salah satu liriknya

I decided long ago, never to walk in anyone's shadows
If I fail, If I succeed
At least I'll live as I believe
No matter what they take from me
They can't take away my dignity
*source lyrics

Saya jadi bersemangat lagi tiap mendengarkan lagi ini, apalagi ingat dengan gadis tunanetra yang menyanyikan dengan penuh semangat juga waktu itu.
Begitulah cerita perjalanan menemukan lagu yang selama ini dicari-cari, panjang, tetapi akhirnya ketemu juga.
Begitu juga dengan proses menuju/menemukan apapun, mungkin panjang dan berliku, berbelok-belok dahulu, tapi akhirnya ketemu, meskipun mungkin bukan seperti yang dibayangkan, tetapi yakin saja, Insyaallah yang terbaik.

Thursday, July 2, 2015

Dunia [Gak] Harus Tahu

Terkadang, tangan rasanya gak enak kalau gak update di media sosial kalau lagi sedih, bahagia, galau, ceria atau apalah. Entah itu normal atau bagaimana. Terkadang, saking senengnya mendapatkan apa yang dicita-citakan, rasanya ingin memberitahu semua orang bahwa saya manusia terbahagia atau beruntung atau apalah, lalu wajib memakai hashtag duniaharustahu XD hehe
Terkadang pula, saat mengalami kegagalan, untuk menghibur sendiri, jadilah ngepost sesuatu yang menguatkan diri atau apa-apa yang bisa menginspirasi *curcol kamu nak? XD

Tapi, memang sih, terkadang dunia gak harus tahu kondisi kita saat ini. Sesekali memang harus tahu, tetapi dunia gak harus tahu 'semua' hal tentang kondisi kita kan, sekedarnya saja :)

Tidak semua orang ingin tahu bahkan peduli pada kondisi kita, bisa-bisa malah 'mengganggu' orang lain karena kerjaan kita mengeluh atau pamer mulu. Duh, jangan terlalu mengartikan secara sempit ya, bukan berarti kita gak perlu curhat ke orang lain. Ya perlu-perlu aja curhat karena tentu saja kita butuh pertimbangan orang lain. Curhat di media sosial yang harus lebih termanage ^^

Mungkin yang kita butuhkan adalah diam, sabar, dan tenang sembari mengatur strategi.
Sepertinya lebih menyenangkan ketika kita memberikan kejutan pada dunia bahwa kita telah mencapai sesuatu yang merupakan buah dari diam, sabar, dan tenang padahal sedang terus usaha mencapai apa yang sedang dikejar.




Btw, sudah lama sekali tidak ngepost di blog. Beberapa kali mau ngepost tetapi ujungnya bertengger didraft. Aduh, susah sekali mendisiplinkan biar rajin nulis *ups, dunia cuma perlu tahu saya harus rajin nulis, gak mau tahu keluhanku :p

Friday, April 3, 2015

Belanja Melalui Buka Lapak

Sudah bulan April, cepat sekali~
Kali ini saya mau cerita pengalaman belanja online disalah satu situs belanja online, yaitu bukalapak.
Sebelumnya saya belum pernah sih beli barang dari situs-situs lainnya yang sejenis misalnya tokopedia, olx, dll. Kalau pasang iklan pada olx pernah sih, bantu ibu kos promosi kosnya hehe

Nah, saat itu saya butuh sebuah buku, udah muter-muter dibeberapa toko buku di Surabaya (Gramedia, Petra Togamas, Uranus, dan satunya lupa nama toko bukunya) tapi buku tersebut sudah tidak dijual lagi dan mereka belum restock karena belum ada tawaran dari penerbit buku yang saya maksud. Alhasil, browsing dan menemukan buku yang saya cari masih ada diGramedia Pusat dan ada salah seorang penjual diBuka Lapak. Saya butuh 2 buku karena 1 buku untuk teman. Saya coba pesan di Gramedia Pusat, kok gabisa diganti ya jumlah buku yang mau dibeli (ganti 2 tetep balik jadi 1), saya pikir stok tinggal 1 akhirnya saya pesen via Buka Lapak dan Gramedia. Itung-itung coba pesen melalui Buka Lapak ini.

Proses pesen cepet dan gampang dimengerti tiap step by step. Buka Lapak ini unik, Unik karena barang akan segera dirposes begitu pembeli transfer. Tujuan transfer bukan langsung pada pemilik masing-masing lapak/toko/olshop, melainkan melalui si Buka Lapak ini. Bank tujuan pengiriman uang otomatis atas nama perusahaan Buka Lapak. Nah, si Buka Lapak akan menghubungi pemilik lapak/toko/olshop yang dimaksud pembeli (dimana pembeli booking/beli). Jika sampai 3x24 jam tidak ada jawaban dari toko tersebut, maka uang akan dikembalikan oleh Buka Lapak kepada pembeli.

Saya menilai cara yang digunakan Buka Lapak ini sangat melindungi pembeli. Mereka meminimalisir kecurangan salah satu pihak. Konsumen akan merasa aman karena ada kejelasan dari pihak Buka Lapak, Waktu itu, kebetulan saya dapat konfirmasi dari Buka Lapak kalau penjual buku yang saya maksud tidak memberikan jawaban kepada pihak Buka Lapak, sehingga jual beli tidak dapat diteruskan, uang saya dikembalikan. As simple as that :) Mudah, nyaman, dan aman adalah beberapa faktor yang bisa membuat konsumen puas.

Btw, saya nulis beginian karena kemarin ada tugas salah satu mata kuliah yang memberikan tugas review jurnal. Nah, kebetulan jurnal yang saya review membahas seputar kepuasan dan loyalitas konsumen. Pinginnya saya mau mengembangkan lagi siapa tau bisa jadi judul tesis hehe.
Semangat \o/

Sunday, February 22, 2015

A Phenomenon : HIT AND RUN

Halo, semua, selamat datang 2015 *telat
Postingan pertama ditahun 2015, malah bukan tulisan yang menggemberikan.
Langsung saja deh saya cerita.

Hampir 2 bulan ini saya coba-coba syirkah alias joinan bikin usaha bersama salah seorang teman.
Pada awalnya saya enggak paham sama sekali dengan dunia jual beli makanan beku alias frozenfood.
Teman saya ini lebih berpengalaman karena sebelumnya sudah pernah joinan dengan temannya.
Alhasil, saya masih ngikut aja. Berbekal price list dan foto-foto produk saya mulai bikin akun instagram. Ala-ala lapak gitu deh. Respon pasar Alhamdulillah lha ya.

Ada satu produk yang mengharuskan kami mendatangkan langsung dari luar kota biar dapat harga miring.Produk tersebut ternyata ada yang menjual dengan harga yang bisa kita jangkau, disekitar Sidoarjo. Suatu hari kami membeli ke yang katanya 'supplier' tersebut. Oke, pembelian pertama lancar-lancar saja meskipun sebenarnya kami tidak terlalu puas dengan cara menyimpan produknya.
Berikutnya kami melakukan pembelian ulang, si supplier bilang produk ready pada hari Minggu, saat itu kami pesan hari Rabu dan setuju kalau Minggu produk baru ready.
Hingga hari Jumat line teman saya ke supplier tersebut belum dibaca. Karena belum dibaca, kami menjadi ragu-ragu apakah kami udah masuk dilistnya atau belum. Hingga akhirnya hari Jumat itu kami sepakat membatalkan dan mengirim pesan via line. Siang hari pesan baru dibaca supplier. Lalu dimulailah kata-kata yang kurang sedap.

Kami menjelaskan pesanan dibatalkan karena dari hari Rabu tidak ada jawaban dari supplier. Kalau sepengetahuan dan sepengalaman kami ya, yang namanya jual beli apalagi online seperti ini, seenggaknya supplier tersebut menjawab sekedar oke atau ya atau apalah yang menunjukkan kami sudah dilist. Boro-boro dijawab oke atau ya, di read aja kagak. Lalu, darimana kami tau dong kalau pesan dibaca aja enggak itu ternyata udah masuk list? Si supplier pun menimpali, bagaimana dia tau harus menjawab oke atau ya untuk kesepatan. Oh my God -_- Saya baru tau kesepakatan pesan tanpa dibalas berarti udah masuk list

Si supplier mulai mengeluarkan kalimat-kalimat yang menurut kami 'Bisa-bisanya dia bilang gitu'. 
Akhirnya kami sepakat tidak jadi cancel, tapi tetap mengatakan mungkin si supplier lupa kemarin bilang ke kami kalau jual beli lanjut. Si supplier malah menolak karena kami HIT AND RUN, malah mengatakan kami tidak perlu membelinya karena sudah ada yang mau beli. Astaghfirullah, atas dasar apa HIT AND RUN tersebut? Buat apa kami HIT AND RUN? Kami juga butuh produk tersebut kok. Kalaupun niat HIT AND RUN kami gak bakalan mengirim pesan ulang di hari Jumat pagi pukul 10.14 untuk konfirmasi ulang. Hingga Jumat siang tidak ada balasan maupun dibaca pesan dari kami, akhirnya pukul 12.38 kami memutuskan cancel. Kalaupun niat HIT AND RUN kami gak bakalan bilang akan tetap membeli. Si supplier kukuh pada pendiriannya karena menurutnya dia sudah ngasih kepastian produk ready hari Minggu. Kalaupun dia sakit sampai gabisa balas pesan line, kenapa juga gak bilang lagi sakit atau apalah. 

Perlu ditegaskan disini, kami paham banget kalau produk ready hari Minggu. Tapi yang jadi masalah adalah kami enggak tahu kami masuk dilist anda atau kagak. Hingga si supplier bilang semoga rejeki kami tidak HIT AND RUN juga. Astaghfirullah. Siapa sih yang pingin dapat customer HIT AND RUN? Dan, rasa-rasanya kami udah sering juga dapet customer HIT AND RUN. Siapa sih yang gak pingin dapet customer yang manut dan pasti-pasti aja? Kalau menurut kami sih, namanya juga berbisnis, HIT AND RUN merupakan bagian dari risiko, tinggal gimana kita meminimalisir risiko tersebut. Sepengetahuan saya dipekerjaan yang lalu, teman-teman bagian marketing sering banget lha mengalami HIT AND RUN ini, udah kayak makanan mereka. Udah deal sama nasabah ini, eh kok lama-lama si nasabah jadi ogah-ogahan ternyata udah ke bank lain.

Pernah juga tau HIT AND RUN dionlineshop yang lain, sepengetahuan saya, custumernya sudah langganan dan tiba-tiba menghilang belum bayar lunas. Ada lagi, udah deal antara pembeli dan penjual, bahkan si pembeli sudah minta no rekening, hingga beberapa hari tidak ada kabar lagi dari pembeli tersebut. Kalau itu murni kesalahan customer kan. 

Saya rasa namanya berbisnis bukan sekedar keuntungan saja. Perhatikan etika juga dalam mencari rejeki karena ada rejeki yang bisa memberikan keberkahan.
Yaaa..mungkin ini pengalaman pertama saya mulai usaha kecil-kecilan. Mungkin buat orang lain yang udah lama bermain diusaha seperti ini sudah makanan sehari-hari kalau ada masalah. Yeah, this is life, selalu ada kerikil diperjalanan. Yasudaah lah, dianggap pengalaman saja.

Panjang banget ya ceritanya^^ Semoga 2015 bisa lebih baik bagi. Semangat!!!


Pssst..boleh banget berkunjung ke lapak kami, Cek IG kami : lapakfrozenfood
Ditunggu orderannya :p

Sunday, December 14, 2014

Serba Serbi Tiket Kereta Api

Halo :) Desember udah hampir pertengahan, 2014 hampir kelar.
Rasa-rasanya cepet banget waktu berlalu ditahun 2014 ini, tanggal-tanggal segini tahun kemarin aku masih di Mataram. Masih belum jelas jadi pindah ke madiun apa gak.hahaha. Jadi, kesana kemari deh -.-
Back to kereta api. Ada apa dengan kereta api?

Jadi begini, kapan hari disalah satu grup chat whatsapp, kami sedang membahas perbedaan antar kelas kursi bisnis/eksekutif, bingung? Aku juga bingung mau kasih sebutan apa. Intinya, ada yang bertanya perbedaan kelas bisnis apa? Waktu mau booking tiket online tiket kereta api, tersedia kelas bisnis maupun eksekutif dengan berbagai macam harga. Dari harga bisnis/eksekutif paling murah hingga paling mahal. Bedanya apa sih?
contohnya diatas ini, beda-beda kan harga tiketnya.
Mungkin sudah ada yang tau alasan kenapa beda-beda. Kalau setauku sih pembedanya adalah gerbong. Waktu masih di Madiun, hampir tiap 2 minggu sekali pulang, mentang-mentang sudah di Jawa Timur XD Nah, kalau pas pulangnya kebetulan habis gajian, naiknya kereta argo wilis. Kereta argo wilis ini dulu ada semacam promo, kalau beli 1 jam sebelum berangkat (kalau tiket masih available), dapet diskon tuh, dari harga eksekutif yang paling murah sekitar Rp 175.000,00, dapetnya Rp 130.000,00 atau Rp Rp 120.000,00 ya? Lupa deh, tiketku entah kemana padahal udah tak simpen. Gak nyampe Rp 150.000,00 sih seingetku. Lumayan deh, Madiun-Surabaya 2 jam, terus pulang sidoarjo paling 1-1,5 jaman lha *Jumat macet. Nah, dengan harga segitu dapetlah tempat duduk di gerbong depan atau belakang. Jadinya, pas nyampe stasiun Gubeng, masih agak jauh jalan ke pintu keluar, gapapa lha ya, namanya juga dapet diskon. Lain waktu, aku, pak bos (bos saat aku masih karyawannya hihi), dan 1 orang teman lagi pingin segera pulang ke Surabaya, gak pingin nyampe Surabaya jam 21.00, alhasil kita bertiga beli tiket argo wilis yang tanpa diskon. Fyi, yang diskonan itu cepet pake banget habisnya *ya iya sih, kan diskon. Coba-coba deh beli yang harganya mehong diantara kawan-kawannya (tinggal itu dan pas buat bertiga T.T). Ulalaa, kita dapet gerbong tengah. Pas nyampe stasiun Gubeng, tepat di depan pintu keluar, lumayan gak jauh-jauh, biasanya kita pulang bawaannya bluder yang kotaknya lumayan menghabiskan tempat haha, bluder plus tas isinya baju yang jarang kepake di Madiun ataupun buku yang udah dibaca. Gak terlalu berat sih, tapi petentang petentengnya itu. Kalau kata salah satu mbak CS, hufft bingit --"

Lain waktu, pas pulang mau libur lebaran 2014 kemarin juga dapet tiket yang harganya agak lebih dari kawan-kawannya itu, dapet gerbong tengah lagi, ulalaaa..asik asik *belum lebaran udah habis diongkos. hiks
Simpulan sementara nih, harga menentukan gerbong. Kalau fasilitas dalemnya sih sama. Tapi kata seorang teman, dia pernah dapet gerbong yang beda dari biasanya, kursinya lebih empuk lha, lebih nyaman katanya.
Itulah sekilas pengalamanku, bagaimana pengalaman kalian beda tarif itu?
Semoga tulisan saya bisa bantu dikit-dikit buat memutuskan beli bisnis atau eksekutif yang harganya beda-beda itu^^

Kalau gak mau naik bisnis/eksekutif, naik ekonomi oke juga kok. Dulu, waktu balik ke Madiun, aku lebih suka naik sritanjung (ekonomi jarak jauh). Gerbongnya nyaman, cuma beberapa kali pernah kejadian AC nya ngadat, padahal waktu itu musim panas. Tips aja sih, kalau naik kereta ekonomi mending milih kursi yang gak dekat pintu, kenapa? karena deket toilet, bau.hehe. Berlaku juga kalau naik bisnis atau eksekutif. Pengalaman, kebelet pipis di argo wilis, dan bau toiletnya kagak nahan, masih mending sri tanjung. Oh ya, mungkin ada yang suka duduk dekat jendela atau deket jalan lalu lalang. Kalian bisa atur sendiri mau duduk yang mana (selama seat nya belum kedahuluan di booking orang). Aku dulu gak terlalu suka pesen online, soalnya masih perlu nukerin. Jadinya, tengok dulu website PT. KAI, liat ketersediaan seat, biasanya aku coba-coba booking, lalu diakhir cancel, biar tau seat mana yang masih kosong dan sesuai dengan harapanku. hehe Lalu datang ke stasiun terdekat, beli tiket dan jangan lupa bilang ke petugas biar dipilihin tempat. Kadang liat website cuma liat jumlah seat yang tersedia aja, di stasiun baru request. Kebetulan stasiun deket rumah bukan stasiun yang rame kayak stasiun gubeng, jadi milih-milihnya enak.haha Biasanya sih aku minta tolong petugas biar gak dikasih tempat duduk yang dekat toilet dan deket AC (kalau naik sritanjung). Dulu aku hafal, seat mana aja yang posisinya pewe. Jadinya aku bilang ke petugas, kalau seat ini gak ada, seat itu ada gak? haha.
Satu lagi, serunya naik kereta ekonomi, lebih akrab dengan tetangga tempat duduk. Bukan berarti di kelas bisnis atau eksekutif enggak akrab. Pernah kok ngobrol-ngobrol dengan penumpang lain waktu naik Sancaka dan Argo Wilis. Tapi, beda kalau kalau naik sritanjung, apalagi kebanyakan penumpangnya 'orang kulonan', seru mendengar nyebut anaknya tole atau genduk :D

Selamat memilih-milih ya :D