Friday, January 1, 2016

Sup Tomat dan Sepatu Basah : A Review

Postingan pertama pada hari pertama di tahun 2016, dengan pertama kali pula posting tentang review buku.

Judul buku ini adalah Sup Tomat & Sepatu Basah, pengarangnya adalah Uki Lukas.
Bisa dibilang ini adalah salah satu buku terbaik yang pernah saya baca. Simple, cool, yet so deep.
Buku ini begitu sederhana, tetapi maknanya mendalam tanpa menggurui yang berlebihan.
Kalau ala-ala juri salah satu ajang pencarian bakat sih gini, "aku sih yes" :p



Bab-bab awal disuguhi pengalaman penulis yang kakinya tidak sengaja tercebur ke panci berisi sup tomat yang akan diikutkan dalam lomba memasak di sekolah. Karena penulis takut perbuatannya diketahui orang lain, penulis diam saja dan mengharuskan ia berbohong bahwa penulis alergi tomat agar tidak memakan sup tersebut.
Hingga bab berikutnya bergulir, penulis bercerita dengan sederhana tentang kehidupan sehari-hari. Bagaimana orang tua seharusnya mengajarkan anaknya agar tidak tamak dari hal kecil, misalnya daat makan di restoran all you can eat.
Penulis juga menuturkan bahwa nama adalah identitas seseorang. Memberikan julukan kepada orang lain belum tentu membuat orang tersebut bahagia atau biasa saja, bisa jadi julukan tersebut dianggap sebagai menunjukkan kelemahan atau kekurangan orang tersebut.
Ada lagi bagian yang menarik yaitu ketika penulis diminta pendapat oleh temannya yang bosan dengan pekerjaannya sekarang ini. Penulis memberikan pendapatnya namun si teman nyatanya belum keluar juga dari pekerjaannya. Semuanya kembali pada masing-masing individu, apakah sebenarnya memang ia ingin 'mengubah nasib' ataukah sebenarnya takut untuk mengubah nasib.

Satu bab yang masih saya ingat adalah tentang impian. Bahwa memang tidak semua mimpi jadi kenyataan, walaupun negitu mimpi tersebut tidak pernah menjadi sia-sia.

Berikut akan saya tampilkan beberapa bagian menarik dari buku ini.







Acknowledge : recommended by my sister and borrowed from her, thanks :D

Thursday, December 31, 2015

2015 : A Review

Halo, Long time no see :D

Hari ini adalah hari terakhir ditahun 2015. Cepet banget 2015 berakhir.

Tahun 2015 menjadi tahun dimana saya melakukan beberapa hal yang sebelumnya belum pernah lakukan. Ada satu hal yang terwujud, saya melakukan satu hal dimana dulu bayangin aja nggak pernah, takut dan ogah-ogahan, tetapi sekitar tahun 2013/2014an kepikiran untuk mencoba hal tersebut, yaitu belajar ngelapak hihihi. Mungkin kalau gak ada partner-nya sampai sekarang pun belum terwujud. Alhamdulillah, akhirnya ngincipin juga suka duka dunia bisnis *ecie bisnis

Kemudian tahun 2015 ini banyak acara yang 'mungkin' seharusnya sudah saya datangi dari jaman dulu. Bisa dikatakan ini adalah wujud kesibukan yang dilakukan dari sosok yang sibuk mencari kesibukan hehe.
Pertama, bisa datang ke konferensinya TEDx Tugu Pahlawan. Asli ini keren. Speaker-nya inspiring sekali, bahkan ada disalah satu sesi saya hampir saja mbrebes mili, lalu mikir, "duh, umur sudah 20 something masih gini-gini aja" :')

Kedua, datang ke munasnya HIPMI. Ini juga kebetulan lihat spanduk dijalan acaranya terbuka untuk umum. Lalu, melihat narasumbernya oke-oke banget dan jarang banget bisa ketemu mereka dalam satu acara. Ada gubernur BI, ketua OJK, Ketua Badan Ekonomi Kreatif, dan CEO Bukalapak. Aslinya pingin datang dihari kedua karena ada Sandiaga Uno, tetapi penyakit mager seketika datang melenyapkan niat baik. Gak apa-apalah, yang penting sudah datang ke sesi hari pertama. Yang inspiring banget sih waktu Pak Triawan Munaf (Ketua Badan Ekonomi Kreatif) dan CEO Bukalapak, rasanya mereka membuat orang lain untuk selalu optimis.

Ketiga, datang ke workshopnya holopis. Workshop-nya bertemakan "Gardening for Dummies". Sempet email panitianya untuk memastikan bahwa acara ini memang tentang tanam-menanam *LOL. Gak tau kenapa waktu itu curious banget sama acara ini. Pas hari H, saya datang agat telat, 15 menitan, eh, ternyata baru 1 orang panitianya aja yang datang. Semakin was-was kan jadinya. Akhirnya muterin dulu galeri biennalle Jatim, lumayan, cuci mata. Akhirnya workshop dimulai 1,5 jam kemudian dari jadwal dan pesertanya yang hadir hanya 2, padahal ada wartawan Jaw* Pos lho bikin liputan -_-
Show must go on dong, acara tetap berlangsung, lalu ada satu peserta lagi datang dan beberapa panitianya ikut nimbrung, jadi kelihatan agak banyakan hehe.
Mulai belajar deh mengenai benih dan mendapatkan benih, lalu acara tanam menanam dimulai.
Pesertanya dikasih buah tangan tanaman yang sudah ditanam tadi. Sampai sekarang masih hidup lho tanaman okranya di rumah, yeay!

by holopis
Apalagi ya?
Oh, ada 1 lagi. Ini yang super nggak nyambung sebenernya dengan pengalaman saya selama ini. Tapi ini menarik. Akhir-akhir ini semakin marak anak muda bikin start up, nah saya anak ekonomi, kudet beginian, diajakin ikut dalam sebuah tim bikin start up. Pertamanya gak mau, tapi mikir lagi ini menarik. Yaa, benar saja, meskipun saya roaming dengan istilah-istilah mereka, tetapi sempat incipin sesi mentoring. Sengaja datang ke sesi mentoring yang general, bukan yang khusus programming. Bingo, lagi-lagi so inspiring sekali. Ada Ko Rolles yang selalu memotivasi dan cerita yang masih inget sampai sekarang tentang telur Colombus, intinya setiap orang bisa melakukan hal-hal yang hebat, tetapi begitu keduluan orang lain, biasanya ada saja yang mencemooh, "gitu doang mah gampang". Nah, kalau gampang, tiap individu memiliki kesempatan yang sama untuk melakukan hal yang hebat, kenapa gak duluan? Kalau kurang jelas, coba googling tentang telur Colombus ini :p
Kemudian ada Ko Yansen pernah bilang gini, kebetulan ada yang mengabadikan kutipannya. "while a lot of people want to be successful, I choose to be useful. I always believe that the world would be a much better place if everyone want to be useful for others. To be successful is always about yourself, but being useful is always about people."
Menurut mereka ini, melalui start up, maka kita bisa membantu banyak orang, memudahkan orang-orang melalui teknologi informasi.


Terimakasih 2015, memberikan kesempatan sekaligus pembelajaran yang seringkali bikin sedih juga XD

Bagaimana dengan 2015 mu?


Selamat tahun baru, semoga 2016 menjadi pribadi yang lebih baik!
Penasaran 2016 bakalan seperti apa ;)

Wednesday, September 2, 2015

Explore Yogyakarta: Manisnya And Or Bookstore

Akhirnya menginjakkan kaki kembali ke Yogya setelah terakhir kali kesana tahun 2013 dimana tidak sampai setengah hari saja saya disana.
Biarlah saya dibilang out of date, yang penting hati ini senang, karena ini adalah pertama kali saya ke Yogya naik kereta api. Kemudian, pertama kali juga saya naik bus trans Yogya. Pertama kali ke House of Raminten. Pertama kali ke alun-alun Kidul (Saya mengunjungi Alun-alun Kidul di siang hari, biar gak mainstream dong). Sementara semua yang saya sebutkan tadi adalah sesuatu/tempat yang sudah sangat sering dilakukan atau kunjungi oleh kebanyakan orang.

Yogya sangat manis, salah satu tempat manis yang paling berkesan adalah And Or Bookstore.
Berbekal motor sewaan dan GPS, sampailah saya dan adik ke And Or Bookstore.
Letaknya memang agak nyempil sih diantara toko-toko lain yang berjejer sepanjang jalan Bougenville. Oh ya, alamat lengkapnya adalah Jalan Bougenville IC Karangasem CTX, Gejayan, Sleman, Yogyakarta. Dekat dengan UNY.

Sempat penasaran dengan Roti Papi nya, ternyata belum ready saat itu. Fyi, And Or Bookstore ini tidak hanya menjual buku (yang bisa dibaca ditempat karena rata-rata secondhand book) tetapi juga ada cafe di lantai dasar, sedangkan toko bukunya berada di lantai dua.



Begitu masuk, wah, saya terkagum-kagum. Sangat unik dan bikin mulut komat kamit sendiri, "so cute, so cute", berulang-ulang. Pingin banget deh punya beginian di rumah. Semoga suatu hari nanti bisa punya semacam ini *.*

Menawan, bukan?

Fixed, saya kesengsem dengan toko buku ini.
Kebetulan saat kami datang, toko buku ini sedang disewakan menjadi studio foto wisuda, jadinya bagian tertentu saja yang bisa kami nikmati.

Bagaimana dengan sudut yang ini?

Aah, tapi tidak mengapa. Setelah cek buku ini itu dibeberapa bagian rak, justru mata saya tertarik pada satu buku kecil, dongeng putri tidur. Segera saya ambil dan beruntungnya, saya mendapatkan buku cerita tersebut edisi ilustrasi 3D minimalis di dalamnya. Mungkin di toko buku seperti gramedia, banyak dijual seperti itu, tetapi mendapatkan buku dongeng tersebut di And Or Bookstore tidak kalah menariknya seperti menemukan harta karun. Aaak, I found a cute book.

Manis dan Menawan

Beruntungnya juga sempat ketemu dengan salah satu ownernya yang bule. Ternyata dia membuat toko buku itu dengan temannya (join an). Saat saya membayar buku dongeng tersebut, si bule menawari saya untuk memakai kantong plastik atau tidak. Saya menolak menggunakan plastik selain buku tersebut kecil, juga hitung-hitung mengurangi penggunaan plastik. Wah, bagus juga, And Or Bookstore menawari pembeli untuk menggunakan kantong plastik atau tidak, mengingat saat ini jarang ada toko menawari pembelinya menggunakan kantong plastik atau tidak, yang ada mereka diam saja sambil memasukkan barang ke plastik, tanpa menawari pembeli.
Ah, bingo, berarti ini juga pertama kalinya saya membeli sesuatu dengan ditawari terlebih dahulu menggunakan plastik atau tidak.

Itulah salah satu manisnya Yogyakarta. Sepertinya pilihan yang tidak salah, saya pernah berharap bisa tinggal di kota manis ini. Someday, semoga ada kesempatan lagi untuk menggali Yogyakarta lebih dalam lagi. 

Thursday, July 23, 2015

Pernah Mudik

Seumur-umur, saya merasakan mudik lebaran baru 2 kali.
Pertama, mudik dari Mataram. Kedua, mudik dari Madiun. Seneng banget deh waktu itu bisa merasakan mudik. Jauh-jauh hari udah mantengin tiket pulang sekalian balik. Waktu itu saya dikasih libur agak panjang, ngurus reschedule tiket pun saya belain jauh-jauh ke BIL karena kantor perwakilan maskapai tersebut nggak ada di kota Mataram. Biaya reschedulenya Alhamdulillah murah, malah mahal ongkos dari Mataram ke BIL (mau naek motor malas amat karena pas puasa).

Pun juga begitu saat mudik dari kota Madiun. Jauh-jauh hari mulai cek tiket kereta. Saya nggak bayangin kalau harus naik bus, macetnya duh duh duh. Mending naik kereta turun stasiun Gubeng (kalau malem kereta Madiun-Sidoarjo gak ada hiks), paling kena macetnya pas perjalanan ke Sidoarjo saat melewati jalan A. Yani.

Waktu mudik LOP-SUB, senengnya bukaan main. Dapet libur duluan *big thanks to my SPV, alhasil saya masih bisa buber dengan teman-teman, meskipun cuma sehari saja sempetnya, tetep Alhamdulillah banget deh, karena waktu itu rasanyaa rinduu sekali Sidoarjo-Surabaya.

Mudik MAD-SGU juga seneng banget karena mudiknya rame-rame, errr bertiga aja sih sebenernya dan hampir tiap minggu kami pulangnya juga bareng naik kereta atau bus. hehehe. tapi sueneng banget, akhirnya libur tiba setelah merasakan hectic banget beberapa hari mendekati libur, selain karena ada pengambilan gaji, THR, gaji ke-13 para pensiunan, juga penukaran uang baru dan isi ATM yang sempet ada selisih sampe lembur hingga hampir jam 24.00 di kantor :') Aduh, jadi rindu dengan teman-teman. Kami bersyukur tiada tara karena mendapat tiket tujuan Surabaya Gubeng dengan jadwal reguler (bukan kereta tambahan), karena beberapa teman mendapat tiket dari kereta tambahan tersebut dan mengalami keterlambatan kedatangan kereta, alhasil nunggu beberapa jam di stasiun Madiun, padahal saat itu kami sudah tiba di stasiun Gubeng.

Sebagai warga aseli Sidoarjo, mudik adalah hal yang pernah menjadi wishlist saya karena sumur-umur belum pernah mudik. Keluarga juga asli Sidoarjo. Silaturrahim saat lebaran pun di Sidoarjo. Bersyukur sekali akhirnya pernah mengalami mudik dan mendapatkan kelancaran dalam mudik.

Menjalang lebaran kemarin, media sosial ramai dengan teman-teman yang sedang merantau dan mengalami hambatan dalam mudik. Gunung Raung meletus sehingga bandara di Jawa Timur ditutup. Ada yang tetep tetap mudik dengan jatah libur lebaran yang minim dan ada yang membatalkan mudik (I know your feeling, libur lebaran nggak jadi pulang huhuhu). Ada pula yang sedang merantau di negeri orang, dengan situasi yang mungkin belum mendukung untuk pulang, jadinya belum berkesempatan mudik lebaran.

Salah satu perasaan yang paling menyenangkan adalah ketika mudik. Serius. Rasanya gak sabar ketemu orang tua, kembali ke rumah, berkumpul dengan keluarga, menyantap masakan rumah, dan lain sebagainya. Rasanya kita mendapat suntikan energi untuk menghadapi ke perantauan yang jauh dari keluarga. Kemudian, saat akan kembali ke perantauan adalah saat-saat yang rasanya-kalau-bisa-pause-pasti bakalan saya pause. Tidak semua orang beruntung mendapat pekerjaan pertama yang 'sesuai' dan terlebih lagi dekat rumah. Tapi dengan merantau akan membawa cerita tersendiri dan memberikan pembelajaran tersendiri. Satu pembelajaran yang saya dapat adalah, dengan merantau (jauh dari rumah), kamu akan jadi tangguh :')

Entahlah, dimasa depan saya bakalan merasakan mudik lagi atau enggak :)

Ngomong-ngomong, mumpung masih bulan syawal nih, saya mengucapkan Taqabbalallhu minna wa minkum. Selamat idul fitri 1436 H. Mohon maaf atas segala kesalahan maupun kekecewaan. Semoga kita menjadi pribadi yang lebiiiiiih baik lagi. Aamiin

Tuesday, July 7, 2015

Pencarian The Greatest Love of All

Judulnya sengaja gitu biar agak menarik, dikit XD
Biar blog ini berasa kalau masih ada ruhnya XD

Mungkin sudah pada tahu itu judul lagu yang dipopulerkan Whitney Houston, tetapi saya telat tahunya.
Dulu, waktu jaman SMA (kelas 10), saya bersama Dina (teman SMA yang gak pernah sekelas tapi kami akrab), mengikuti sebuah acara yang intinya tentang perlindungan anak.
Seneng deh, ketemu anak-anak se Jawa Timur, inti acaranya kita dikenalkan apa saja hak anak.

Setelah acara itu selesai (acara berlangsung selama 2 hari 1 malam), keesokan harinya saya ada ujian di sekolah, matpel Kewarganegaraan tentang hak asasi manusia, tapi apalah daya, otak ini sudah terlanjur hafal hak-hak anak yang dibikin nyanyian maupun tepuk-tepuk hak anak oleh panitia agar kami mudah menghafal, materi ujian hak asasi manusia gak masuk 100% diotak, hasil ujian jeblok, kena remidi karena sebagian besar jawaban tentang HAM malah saya isi dengan hak anak T.T

Fyi, menururt UU perlindungan anak, dibawah 18 tahun masih dikategorikan anak. Jadi, meskipun kami udah SMA kelas 1, selama belum berusia 18 tahun, masih bisa dikatakan anak-anak. Seneng?

Nah, disalah satu segmen acara, ada seorang gadis tunanetra *maaf
Gadis tersebut mendapat kesempatan menyanyi diacara tersebut. Suaranya bagus sekali dan saya jadi terharu karena dia tunanetra tapi dia begitu powerfull membawakan lagi itu, seolah memberikan semangat kepada semua peserta.
Saya nggak ngeh dengan makna lagunya, tapi lagu itu membuat bersemangat. Dari situ, saya mulai cari tahu, itu lagu siapa, suka benget sama lagu itu. Tidak semudah itu untuk tahu itu lagu siapa. Lagunya berbahasa Inggris, dan lirik yang saya ingat cuma "because the..." dan "is...to me"
Kalaupun tanya ke teman, pasti mereka gak paham juga apa yang saya cari karena petunjuk dari saya cuma sekelumit.

Hingga akhirnya saya kos di kos pertama jaman kuliah. Kamar sebelah, gak sebelah banget, ada kamar lainnya, adalah kamar mbak kos, kamar mbak Mila. Mbak Mila suka menyanyi dan mendengarkan lagu-lagu, apalagi dia punya sound system (kok kayak kondangan ya) mini.
Suatu hari, mbak Mila muter lagu yang saya cari-cari itu, tapi saya nggak segera tanya itu lagu siapa. Waktu itu saya mikirnya, nanti aja aku tanyanya.
Akhirnya lagi itu selesai, ganti lagu yang lain, hingga beberapa lagu terlewati. Lalu, tentu saja saya lupa mau tanya itu lagu siapa, judulnya apa.

Keesokan harinya saya baru tanya. Mbak Mila tentu saja gak paham juga apa yang saya maksud. Saya sadar banget suara saya sumbang waktu coba-coba nyanyiin siapa tahu mbak Mila paham dengan apa yang saya maksud. Saya coba-coba googling, gak nemu sama sekali. Saya yakin banget penyanyinya adalah Maria Carey, sampe download lagu-lagunya Maria Carey. Hasilnya nihil, belum nemu apa yang saya maksud.

Saya lulus dari bangku kuliah dan pindah ke Mataram karena pekerjaan. Disana ada teman kerja namanya mbak Bulan. Mbak Bulan pandai menyanyi, sama seperti mbak Mila. Mbak Bulan suka memutar lagu ketika kami bekerja, kebetulan kami satu ruangan. Hari itu mbak B (sapaan mbak Bulan, untuk membedakan panggilan mbak Wulan yang dipanggil mbak W) lagi asyik muter lagu-lagu dari handphonenya. Daaaan, lagu yang saya cari-cari mengalun indah. Saya dengerin dulu baik-baik. Bingo, itu lagu yang saya cari selama ini. "Mbak B, itu judulnya apa? Siapa yang nyanyi?". "Yang mana Pira?". "Yang barusan mbak B putar". "Ooh, itu lagunya Whitney Houston. Greatest Love of All." "Makasi mbak B".

Alhamdulillah, akhirnya ketemu juga lagu tersebut. Dari jaman SMA kelas 10 penasarannya, eeh, pas kerja baru tau itu lagu siapa. Ya Allah, kayak nemu jodoh aja, prosesnya panjang bener *padahal sendirinya juga belum ketemu jodoh

Saya masih suka lagu ini hingga sekarang, seolah-olah memberikan inspirasi dan power.
Misalnya pada salah satu liriknya

I decided long ago, never to walk in anyone's shadows
If I fail, If I succeed
At least I'll live as I believe
No matter what they take from me
They can't take away my dignity
*source lyrics

Saya jadi bersemangat lagi tiap mendengarkan lagi ini, apalagi ingat dengan gadis tunanetra yang menyanyikan dengan penuh semangat juga waktu itu.
Begitulah cerita perjalanan menemukan lagu yang selama ini dicari-cari, panjang, tetapi akhirnya ketemu juga.
Begitu juga dengan proses menuju/menemukan apapun, mungkin panjang dan berliku, berbelok-belok dahulu, tapi akhirnya ketemu, meskipun mungkin bukan seperti yang dibayangkan, tetapi yakin saja, Insyaallah yang terbaik.

Thursday, July 2, 2015

Dunia [Gak] Harus Tahu

Terkadang, tangan rasanya gak enak kalau gak update di media sosial kalau lagi sedih, bahagia, galau, ceria atau apalah. Entah itu normal atau bagaimana. Terkadang, saking senengnya mendapatkan apa yang dicita-citakan, rasanya ingin memberitahu semua orang bahwa saya manusia terbahagia atau beruntung atau apalah, lalu wajib memakai hashtag duniaharustahu XD hehe
Terkadang pula, saat mengalami kegagalan, untuk menghibur sendiri, jadilah ngepost sesuatu yang menguatkan diri atau apa-apa yang bisa menginspirasi *curcol kamu nak? XD

Tapi, memang sih, terkadang dunia gak harus tahu kondisi kita saat ini. Sesekali memang harus tahu, tetapi dunia gak harus tahu 'semua' hal tentang kondisi kita kan, sekedarnya saja :)

Tidak semua orang ingin tahu bahkan peduli pada kondisi kita, bisa-bisa malah 'mengganggu' orang lain karena kerjaan kita mengeluh atau pamer mulu. Duh, jangan terlalu mengartikan secara sempit ya, bukan berarti kita gak perlu curhat ke orang lain. Ya perlu-perlu aja curhat karena tentu saja kita butuh pertimbangan orang lain. Curhat di media sosial yang harus lebih termanage ^^

Mungkin yang kita butuhkan adalah diam, sabar, dan tenang sembari mengatur strategi.
Sepertinya lebih menyenangkan ketika kita memberikan kejutan pada dunia bahwa kita telah mencapai sesuatu yang merupakan buah dari diam, sabar, dan tenang padahal sedang terus usaha mencapai apa yang sedang dikejar.




Btw, sudah lama sekali tidak ngepost di blog. Beberapa kali mau ngepost tetapi ujungnya bertengger didraft. Aduh, susah sekali mendisiplinkan biar rajin nulis *ups, dunia cuma perlu tahu saya harus rajin nulis, gak mau tahu keluhanku :p

Friday, April 3, 2015

Belanja Melalui Buka Lapak

Sudah bulan April, cepat sekali~
Kali ini saya mau cerita pengalaman belanja online disalah satu situs belanja online, yaitu bukalapak.
Sebelumnya saya belum pernah sih beli barang dari situs-situs lainnya yang sejenis misalnya tokopedia, olx, dll. Kalau pasang iklan pada olx pernah sih, bantu ibu kos promosi kosnya hehe

Nah, saat itu saya butuh sebuah buku, udah muter-muter dibeberapa toko buku di Surabaya (Gramedia, Petra Togamas, Uranus, dan satunya lupa nama toko bukunya) tapi buku tersebut sudah tidak dijual lagi dan mereka belum restock karena belum ada tawaran dari penerbit buku yang saya maksud. Alhasil, browsing dan menemukan buku yang saya cari masih ada diGramedia Pusat dan ada salah seorang penjual diBuka Lapak. Saya butuh 2 buku karena 1 buku untuk teman. Saya coba pesan di Gramedia Pusat, kok gabisa diganti ya jumlah buku yang mau dibeli (ganti 2 tetep balik jadi 1), saya pikir stok tinggal 1 akhirnya saya pesen via Buka Lapak dan Gramedia. Itung-itung coba pesen melalui Buka Lapak ini.

Proses pesen cepet dan gampang dimengerti tiap step by step. Buka Lapak ini unik, Unik karena barang akan segera dirposes begitu pembeli transfer. Tujuan transfer bukan langsung pada pemilik masing-masing lapak/toko/olshop, melainkan melalui si Buka Lapak ini. Bank tujuan pengiriman uang otomatis atas nama perusahaan Buka Lapak. Nah, si Buka Lapak akan menghubungi pemilik lapak/toko/olshop yang dimaksud pembeli (dimana pembeli booking/beli). Jika sampai 3x24 jam tidak ada jawaban dari toko tersebut, maka uang akan dikembalikan oleh Buka Lapak kepada pembeli.

Saya menilai cara yang digunakan Buka Lapak ini sangat melindungi pembeli. Mereka meminimalisir kecurangan salah satu pihak. Konsumen akan merasa aman karena ada kejelasan dari pihak Buka Lapak, Waktu itu, kebetulan saya dapat konfirmasi dari Buka Lapak kalau penjual buku yang saya maksud tidak memberikan jawaban kepada pihak Buka Lapak, sehingga jual beli tidak dapat diteruskan, uang saya dikembalikan. As simple as that :) Mudah, nyaman, dan aman adalah beberapa faktor yang bisa membuat konsumen puas.

Btw, saya nulis beginian karena kemarin ada tugas salah satu mata kuliah yang memberikan tugas review jurnal. Nah, kebetulan jurnal yang saya review membahas seputar kepuasan dan loyalitas konsumen. Pinginnya saya mau mengembangkan lagi siapa tau bisa jadi judul tesis hehe.
Semangat \o/