Sunday, April 20, 2014

Jackpot

Sometimes, work means JENUH. Terkadang saya begitu merindukan suasana kantor. Terkadang saya sangat jenuh dengan rutinitas kantor. Suatu hari, ada sosialisasi dari kantor pusat mengenai manjemen risiko. Setiap unit kerja memiliki risiko sendiri-sendiri. Misalnya, dibagian back office memiliki risiko salah membukukan transaksi, salah kurs, salah dalam menafsirkan cek/BG yang masuk, dll. Saat ngisi risiko-risiko yang mungkin sudah terjadi, berasa lagi ujian, banyaak banget. Kadang-kadang pengendali internal suka menggaungkan ati-ati kena zero deffect -____- oh men, seriously. Zero deffect merupakan sebutan jika kita melakukan kesalahan fatal.

Kedatangan tim dari kantor pusat membuat kita melek betapa pentingnya meminimalkan risiko disetiap unit kerja. Ada post test diakhir sesi dan ada tanya jawab. Daaan, saya memberanikan diri menjawab salah satu pertanyaan dari tim kantor pusat. Diakhir acara saya dapat coklat silverqueeennn. Yaudah deh, tak perlulah saya sensor, soalnya lagi malas ngedit. Tentunya pilihan hadiah tidak ada hubungannya sama sekali dengan perusahaan tempat saya bekerja sekarang.

Kemudian, ada salah satu tim pusat tanya ke saya. "Mbak, disini yang berjilbab berapa orang? Saya ada sedikit oleh-oleh" :)
Jackpot kedua dapat oleh-oleh. Mungkin ini sederhana saja, dapat coklat dan oleh-oleh jilbab. Alhamdulillah. Biar semangat lagi menyimak sosialisasi.hehehe. Terimakasih :)

Saturday, March 22, 2014

New Family

Hidup terus mengalir. Setelah lulus dari SD, beranjak SMP, memulai kehidupan dimasa SMA, lulus, hidup sebagai mahasiswa, berakhir dengan wisuda, dan tibalah di masa bekerja. Setelah lulus kuliah saya dihadapkan dua pilihan antara lanjut S2 atau bekerja. Saya memilih option bekerja dan suatu saat saya ingin kembali ke bangku kuliah *Aamiin.

Pada postingan lama saya, saya pernah bercerita betapa kita harus menghargai masa-masa masih bebas karena belum terikat dengan suatu pekerjaan. Dan, sekarang saya dihadapkan kondisi dimana hari Sabtu dan Minggu terasa amat sangat berarti. Serius deh!

Bekerja disektor perbankan yang jam pulangnya gak menentu, paling cepet bisa pulang jam 17.15, bisa juga kok sampe nginep di kantor. Nginap di kantor ini merupakan pengalaman pertama saya lho. Saya pindah ke kantor cabang Madiun, dan manajer saya menyertakan saya di tim closing akhir tahun. Lumayan juga sih, pengalaman pertama saya lihat kembang api secara langsung pas malam pergantian tahun ya disini, waktu ikut jadi tim closing.ahahahaha. Dannn, awal tahun 2014 lalu disambut dengan dag dig dug menunggu hasil laporan keuangan tahunan.

Saya jadi kangen dengan teman-teman di kantor cabang lama. Kangen Mas Atmo buat authorize transaksi dan selalu ngasih tahu mana yang bener dan salah, kangen mbak Linda yang selalu heboh dengan dagangan dan cerita tentang anaknya, kangen mbak Bulan yang suka nyanyi (tiap kita ngomong sesuatu pasti dia nyayi), kangen saya suka sewot ke mas Hari dan gangguin kerjaan dia karena di komputer saya kagak ada aplikasi RTGS, kangen Mas Budi ngingetin saya pelimpahan pajak dan nyetak nota debet, kangen para prabakti yang suka nungguin saya nulis mau pesen makan siang apa (saya mesti lama mau makan apa karena saya belum doyan makanan sana), kangen mas Jaka ngasih laporan setoran ke BI atau bank lain, kangen para Teller ngasih slip pelimpahan payment point, kangen mbak-mbak CS minta 10 rupiah, kangen sosialisasi PKO sampe ngantuk, kangen mbak Sitha yang sama-sama suka jejepangan dan kekoreaan, kangen mbak Dinda, mas Doni, mas Hadi karena kita satu angkatan masuk, kangen nelpon AO nagih para CA, kangen ditanyain list penerima pensiunan, kangen mbak Anggi yang suka minta cetak laporan autodebet nasabahnya dan minta special rate buat ngirim valas, kangen semuaa muaa deh. Kangen ngurus payroll lagi. Oh ya, saya pernah lho, watu itu awal bulan, lagi banyak-banyaknya payroll. Tugas payroll saya belum kelar, tapi ada sosialisasi PKO. Di mesin ATM depan karyawan dari perusahaan lain sudah pada ngantri mau ambil gaji, tapi gajinya belum saya upload. Mati deh saya, sampe security nelpon banyak yang nunggu gajian. Gomen ^.^v

Saya memang hanya 6 bulan di kantor cabang Mataram, namun mereka sudah seperti keluarga. Kerja dibank, mengharuskan rutinitas saya kembali teratur. Bangun pagi jam 05.00, lalu saya tidur lagi. Jam 6.30 bangun, mandi, dan  bersiap-siap ke kantor. Jam 7.30 saya sudah harus tiba di kantor karena jam layanan dibuka pulul 08.00.

Hari kerja saya Senin-Jumat. Otomatis setiap hari waktu saya banyak dihabiskan di kantor. Bertemu dengan atasan maupun teman sejawat. Karena waktu kami banyak dihabiskan di tempat kerja, bertemu hampir setiap hari, tentu saja kami jadi akrab. Bahkan kami seperti keluarga sendiri. Berbagi makanan, berbagi cerita, curcol, dan sebagainya. Terkadang kami keluar untuk makan bersama dihari libur. Kalau ada tim audit ikut cemas bersama, pokoknya satu masalah yang dibuat oleh seorang staf menjadi masalah bersama, ditanggung bersama-sama.

Pun begitu juga ketika saya pindah di kantor cabang Madiun. Bertemu teman-teman baru lagi. Apalagi kantor cabang Madiun ini kantor cabang yang baru dibuka, jadi terasa sekali jatuh bangunnya merintis :')
Kadang ketawa-ketiwi bareng, kadang saling beradu argumen, kadang melankolis bareng, makan nasi jotos bareng karena untuk mengirit *HAHAHA, saling berebut melobi untuk mendapatkan arisan bulanan, dan masih banyak lagi deh.hahahaha

Yaah, mungkin karena waktu kami jarang bertemu keluarga sendiri-sendiri, maka terjalinlah keakraban. Saya pernah dengar ada yang bilang, yang jauh jadi dekat, yang dekat jadi jauh. Seperti ini sih kehidupan, dimana ada pertemuan nanti ada perpisahan juga. Lepas dari kuliah, berpisah dengan yang sudah akrab, disambut dengan perjumpaan teman-teman baru yang lama kelamaan seperti keluraga sendiri. Mungkin ini juga bayaran dari kami yang jauh dari keluarga. Fyi, di kantor baru ini yang asalnya Madiun hanya beberapa aja, lainnnya dari luar kota juga. Bahkan ada yang dari Makassar. Satu lagi, keluarga ibu kos baik di Mataram ataupun di Madiun sudah saya anggap seperti orang tua sendiri. Bertambahlah keluarga baru lagi. Bahkan saya jadi suka kangen dengan keluarga Pak Ketut sama Bu Kadek. Kangen mbak Putri dan mbak Meirin yang seperti keluarga kecil kecil di kos Mataram.

Begitulah alur kehidupan saya akhir-akhir ini. Saya juga belum tahu bagaimana nasib saya berikutnya. Saya tetap disini atau saya akan berpindah tempat lagi. Kalaupun nantinya saya tidak disini lagi, dimanapun itu, bertemu orang baru lagi, semoga menjadi keluarga baru yang lebih fantastis lagi :)

Operasional Buki Madiun

Sunday, February 2, 2014

Budaya Suku Sasak : Nyongkolan

Kalau di Jawa Timur, khususnya di Sidoarjo, saat ini lagi hits-hitnya musik patrol. Kurang tau juga sih di Surabaya mulai marak atau enggak. Musik patrol itu semacam drumband mini *menurutku. Jadi ada yang main gambang, drum, ditambahi ada yang main kenong, dll (aku lupa nama alat musiknya ^^v ). Biasanya grup patrol ini dipanggil kalau ada acara mantenan ataupun sunatan. Saya sih baru sekali liat patrol ini.hehe.

Nah, kalau di Mataram ada namanya nyongkolan. Itu sih adat suku sasak untuk pesta pernikahan. Fyi, suku sasak adalah suku asli orang Lombok. Dalam nyongkolan, pihak lelaki yang akan bertandang ke rumah perempuan, sepanjang jalan akan dikarak bersama pasangannya. Karakan itu diisi musik-musik melayu dengan irama yang bikin goyang-goyang para pengantar/pengiring. Para pengiring ini memakai baju kebaya. Bisa dibayangkan lha ya betapa hebohnya kalau ada nyongkolan. Katanya sih, sekarang ini nyongkolan mulai dibatasi soalnya bikin macet. Bayangkan aja, orang-orang asik-asik joget disisi lain ada orang yang buru-buru mau ke BIL tapi macet karena ada nyongkolan ini.

Sopir taxi pernah cerita, nanti kalau udah dirumah pihak perempuan, akan ada semacam pantun-pantunan. Jadi, dari pihak lelaki dan perempuan akan ada perwakilan yang saling berbalas pantun. Mereka dapat bayaran lho yang mewakili dari masing-masing pihak dan bayarannya mahal karena mereka harus cepet dalam membalas pantun. Namun, semakin kesini, acara pantun-pantunan itu semakin jarang diadakan.

Selama aku di Mataram, mungkin udah 3 kali lihat nyongkolan. Karena musiknya yang bikin orang gabisa gak noleh itu, jadinya saya bela-belain lihat nyongkolan dari sebrang jalan. Katanya juga, kalau disana ada nikahan dan pihak keluarga lelaki gak ngadain nyongkolan, maka mereka akan jadi bahan gunjingan tetangga. Bahkan, para tetangga akan bela-belain patungan untuk ngadain nyongkolan. Kabarnya sih mahal untuk ngadain nyongkolan itu. Lebih dari 3 juta gitu biayanya. Yah, mungkin ada pihak keluarga yang menganggap 3 juta itu murah, namun kan ada juga 3 juta itu lebih baik digunakan untuk yang lain.

Coba cek deh foto nyongkolan yang berhasil aku abadikan, kurang jelas sih sebenernya soalnya buru-buru motonya.hehe. Nyongkolan difoto-fotoku ini adalah nyongkolan didaerah Karang Bedil, pas gak dijalan raya utama, melainkan digang-gang perumahan.
Manten Cowok yang Memakai Baju Biru

Manten Cewek yang Memakai Baju Biru


Hebohnya Crew Nyongkolan

Penyanyi Bersama Sound Systemnya

Tuh Kan Goyang-goyang Sepanjang Jalan

Saturday, January 25, 2014

Induk Semang

Ketika saya menginjak bangku kuliah, saya memutuskan untuk ngekos. Ya, saya memilih untuk kos meskipun rumah saya dikota sebelah Surabaya, yaitu di Sidoarjo. Perjalanan dari rumah k kos sekitar 1 jam (naik motor). Capek juga lho motoran 1 jam itu. Apalagi sepanjang jalan panasnya pol-polan, macet, dan asap dimana-mana. Nanti takutnya telat nyape kampus, jadi capek dan konsen kuliah :p

Kos pertama saya di Jl. Gubeng Airlangga 2 No.30. Hahahaha, saya masih hafal nama jalan dan no rumah. Gimana gak lupa, saya hampir 3 tahun kos disitu. Kos kedua saya tetep di Jl. Gubeng Airlangga 2 tapi no rumahnya saya lupa. Kos ketiga di Jl. Gubeng Airlangga 6 dan saya juga lupa no rumahnya. Kos keempat di Jl. Dharmawangsa IX dan lagi-lagi saya lupa no rumahnya. Saya sebenarnya gak mau pindah-pindah kos kayak gitu. Tapi, apa daya, mau dikata apa. Kami warga Guber 2 No.30 diminta ibu kos pindah kos dengan alasan kos mau direnovasi. Well, ujung-ujungnya kita cuma lihat yg direnovasi adalah pintu kamar saja.

Setelah saya lulus dan diterima kerja di Lombok, saya hijrah deh ke Mataram. Saya juga ngekos disana meskipun ada bibi di Mataram. Kos saya di Mataram di Jl. Merak No.9, dekat banget sama kantor. Kalau jalan kaki dari kos ke kantor nggak nyampe 5 menit.

Kehidupan saya terus bergulir, saya mutasi ke kota Madiun. Saya lagi-agi ngekos. Kos pertama di Jl. Merpati (lupa no berapa) dan hanya 12 hari saya disitu lalu pindah ke Jl. Salak Barat VI No.D-10.

Pindah dari satu kos ke kos yang lain tentu saja saya mengamati karakter masing-masing induk semang aka pemilik kos. Induk semang di Surabaya cenderung cuek *bukan bermaksud menjelek-jelekkan. Mungkin banyak juga induk semang di Surabaya yg baik hati tapi saya belum bertemu mereka. Lain lagi dengan induk semang di Mataram dan Madiun. Mereka ini superr baik *bukan bermaksud memuji-muji juga. Saya menulis berdasarkan apa yang saya alami. Induk semang di Mataram dan madiun berasa orangtua sendiri. Mereka memperlakukan anak kos seperti keluarga sendiri. Bukan bermaksud membanding-bandingkan kok. Atau saya yang belum bertemu induk semang di Mataram dan di Madiun yang cuek-cuek.

Seringkali perlakuan induk semang yang super baik ini bikin sungkan. Terkadang saya nitip buah, uangnya bakalan saya ganti, eh tapi ujungnya saya gak boleh ganti. Belum lagi kalau pas libur kerja dibuatin teh dan diberi makanan seperti kue-kue basah. Saya mau pulang ke Sidoarjo jam 3 pagi, saya nggak boleh naik taxi, mereka yang ngantar saya ke stasiun. Bayangkan, belum shubuh, pagi-pagi buta mereka ngeluarin mobil untuk ngantar saya ke stasiun. Gimana saya jadi gak sungkan.hehe. Yah, pokoknya masih banyak sih kebaikan-kebaikan induk semang di Mataram dan Madiun. Semoga kebaikan kalian Allah yang membalas. Padahal juga induk semang di Mataram non-muslim, tapi baiknya ke anak kos juga nggak diragukan lagi deh.

Intinya sih, saya jadi tau bagaimana mereka treating customernya. Mereka tahu caranya agar konsumennya gak lari. Yah, meskipun sih menurut saya itu murni kebaikan mereka, bukan semata-mata demi kelancaran bisnis. Gara-gara sering ngekos, suatu hari nanti saya pingin punya bisnis kos ^^ Aamiin. Semoga duitnya segera ngumpul ya xD

Sunday, January 19, 2014

Tutup Buku 2013

Update pertama di 2014. Hmm..review tahun 2013 (super telat, Januari mau habis). Tahun 2013 merupakan tahun yang super sekali. Banyak sekali kejadian yang sesungguhnya belum pernah saya bayangkan bakalan terjadi. Alhamdulillah Februari 2013 saya lulus sidang skripsi dan wisuda di bulan Maret. Juni saya mulai bekerja dan eng ing eng...saya bener-bener MERANTAU.hehehe Mungkin saya berlebihan sampai kata merantau saya capslock. Dulu, saya kuliah di Surabaya itu sudah saya anggap merantau. Hampir tiap Jumat malam pulang dan hari Minggu balik lagi ke Surabaya. Pertengahan minggu kalau saya lagi pingin pulang ya pulang besoknya balik lagi. Tapi, sejak saya di Mataram beneran kerasa deh yang namanya MERANTAU. Mau pulang pikir-piikir dulu. Lihat berapa digit nominal ditabungan, cukup apa gak buat sangu pulang.

Yaa..meskipun disana ada tante yang selalu siap membantu, tapi saya memilih untuk kos sendiri. Seumur-umur saya tidak punya kebiasaan memeriksa kalender dengan seksama. Tapi, sejak saya merantau, tiap pulang kerja saya ambil kalender, ngitung sisa hari menuju weekend. Jum’at datang hati senang. Hari Sabtu hati masih senang. Tibalah hari Minggu, udah mulai suntuk. Ritual hari Minggu malam adalah saya mencoret tanggal seminggu yang sudah berlalu. Lalu memeriksa ada tanggal merah apa tidak. Kira-kira memungkinkan saya pulang apa enggak.

Dari merantau ke Mataram ini saya merasa bener-bener merasa berjuang itu seperi apa. Sejujurnya saja saya ngerasa belum marem dengan kerjaan. Bawaannya saya pingin pulang dan ngitung sisa masa kerja saya -_- Saya jadi rajin update lowongan kerja lagi. Saya jadi rajin baca buku motivasi.hehehe Terkadang saya sampai bosan memotivasi diri saya sendiri. Kalau sudah bosan paling jadi bengong dan susah tidur.

Dahulu, ketika menjelang kelulusan, saya pernah berdo’a agar diberikan kesempatan sama Allah untuk merantau. Saya pingin tau rasanya mudik *plakk (saya ndarjo tulen). Waktu itu saya ingin merantau ke Jogja. Entah itu saya lanjut kuliah lagi di kota itu atau saya diterima kerja. Allah menjawab do’a saya. Saya dikasih merantau dan akhirnya tau rasanya mudik. Tapi bukan dari kota Jogja, yaah, mudiknya dari Mataram. Allah knows me so well deh pokoknya. Allah tau yang saya butuhkan, bukan yang saya inginkan.

Selama 22 tahun saya belum pernah jauh dari orangtua. Saya mengambil keputusan menerima pekerjaan di Mataram yang otomatis saya akan jauh dari keluarga. Sejauh saja merantau di Mataram, saya belajar cepat untuk mengambil keputusan, saya belajar lebih hati-hati dalam bergaul, belajar mengatur keuangan (HAHAHAHA), belajar menjadi single traveller, belajar merawat motor -_- dll. Saya merasa beribadah jauh lebih khusyuk (*sok-sokan) dan sering merasa saya hanya butiran upil. Tiap hari saya berdoa agar saya cepet balik ke Jawa. Bahkan, doa yang saya panjatkan disetiap morning briefing selain doa agar kerjaan lancar adalah ‘semoga saya segera kembali ke Jawa’. Kata bapak saya (yang super saya sayangi), do’a orang merantau itu cepat dijabah. Mungkin bener kata bapak saya, doa saya dijawab oleh Allah.

Saya pernah mengutarakan keinginan saya untuk dimutasi ke Jawa ke supervisi aka OO (supervisi pertama dan terbaik yang pernah saya temui). Beliau menyarankan saya bilang ke bagian SDM. Kebetulan perusahaan tempat saya bekerja akan membuka kantor cabang baru di Kediri dan Madiun. Saya ingin mutasi ke Kediri. Saya utarakan keinginan saya itu ke bagian SDM dan tentu saja saya ditolak mutasi dengan alasan saya masih karyawan baru, status masih kontrak, dan posisi yang sama di Kediri sudah ada yang mengisi. Beberapa bulan kemudian supervisi saya mengutarakan ke Manajer kalau saya pingin balik ke Jawa dan mutasi ke Madiun. Gayung pun bersambut. Saya diminta membuat surat permohonan mutasi. Beberapa minggu belum ada kabar surat saya diapprove atau ditolak. Hingga pada suatu hari yang seperti biasanya (penuh dengan transaksi harian), OO saya bertanya,
OO: “Fira (panggilan di kantor menjadi Elfira. Awal-awal dipanggil Elfira saya nggak ‘ngeh’. Merasa itu bukan saya), kamu do’a apa semalam?”
Me: “berdo’a biar uang saya banyak kayak mas bagian IT kantor”
OO: “Permohonanmu diapprove. Tapi selama belum ada SK dari kantor pusat statusmu masih bisa berubah-ubah. Kemungkinan terburuk nggak jadi mutasi. Tinggal nunggu SK aja sekarang.
Me: “Makasi, mas” (datar banget pokoknya)

Waktu itu sih, saya nanggepinya biasa saja karena belum ada SK itu (padahal dalam hati bersorak-sorak). Apalagi selama dalam perjalanan hidup sesepuhnya perusahaan tempat saya kerja sekarang, belum ada ceritanya karyawan belum tetap bisa mutasi. Tapi, ingat, Allah kan tinggal kun fayakun. Sesuatu yang nggak mungkin bisa jadi terwujud. Alhamdulillah, betapa saya berdosanya kalau saya tidak bersyukur, saya beneran mutasi ke Madiun. SK dari kantor pusat turun dan terbanglah saya kembali ke Jawa. Menuju kota Madiun tempat saya bernaung sekarang. Saya tidak pernah mengira saya akan tinggal dikota orang lain lagi. Betapa saya tidak senang, saya mutasi ke Madiun yang artinya saya bisa bolak-balik pulang.kekeke Saya belum tau maksud apa lagi dari Allah saya berada di kota Madiun. Kota Madiun, yang saya tau makanan khasnya yaitu pecel dan brem yang sudah melang-lang buana. Bahkan di Mataram saya suka nyari pecel Madiun. Dan akhirnya saya tau ternyata ada lagi makan khas Madiun yang wajib dicoba yaitu bluder Cokro atau bluder Krisna (sama-sama uenaak).


Saya tidak pernah menyangka saya akan pindah dari satu kota ke kota yang lain. Setelah saya pikir-pikir, selama ini saya masih sangat bergantung kepada orang tua. Mungkin dengan berpindah-pindah ini Allah ingin membuat saya bisa berpijak dengan kaki saya sendiri. Wallahuallam. Baiklah, cukup sampai disini edisi kali ini. Tahun 2013 adalah tahun yang amazing buat saya. Semoga 2014 akan menjadi tahun yang lebih amazing lagi. Saya selalu inget nasehat dosen jaman kuliah dulu, hari ini harus lebih baik dari hari kemarin. Semoga saya akan menjadi lebih baik ditahun 2014. Siapa tau juga tahun ini saya bertemu sigaring nyawa saya *eeh.haha (Salah satu do’a kedua orang tua saya ketika saya ulang tahun ke 23 ;P ). 

Amazing Team in Mataram

Saturday, November 23, 2013

Kurva X^2 (X Kuadrat)

Percakapan antara saya dan mbak Putri. Mbak Putri adalah teman kos di Cakranegara. Setting percakapan ini di warung Abud, pas kita makan setelah pulang kantor.

Mbak Putri : “Ini temenku sih yang kasih nasehat. Hidup kita sekarang ini dek kayak kurva x kuadrat”

Me : *mencoba mengingat bentuk kurva tsb

Mbak Putri: “Kalau kita sekarang ini merasa berada dikeadaan yang menurut kita paling down, berarti kita sudah di titik 0. Kalau sudah ditik 0, gak mungkin semakin turun atau negatif. Kalau negatif berarti kita sudah mati. Artinya manusia mati kan udah gak punya harapan”

Me: “hmmmm (ooh , kurva x kuadrat itu yg bentuknya U *dalam hati)

Mbak Putri: kalau sudah di titik 0, bergatung sama diri kita dek, kita mau stagnan dikeadaan ini atau sebaliknya, kita loncat biar kurvanya naik. Dititik 0 itu kita harus memutuskan stagnan atau melesat loncat.

Me: *mengangguk-angguk. “Semoga 2014 kita semakin ke barat ya mbak. Amiiiiin”

J
END



***btw, bagaimana dengan kurva kuadrat yg berbetuk U terbalik? -.- 
      mungkin ini dalam asumsi x kudrat yang berbentuk U ya

Thursday, October 31, 2013

Anak Kos

Hampir 5 bulan saya dikota ini dan sudah 4 bulan saya kos di rumah pak Ketut dan bu Kadek. Menjadi anak kos selama kuliah dulu sungguh sangat berbeda dengan kos saat saya sudah bekerja. Kos an saya sewaktu masih di Surabaya sederhana. Kamar mandi diluar dan kami bergantian dalam menggunakannya. Sambil mengantre mandi atau hanya sekedar buang air kecil, kami sering ngobrol dideket kamar yg paling dekat dengan kamar mandi. Tak jarang kami saling sindir kalau ada yang kelamaan dikamar mandi. Kalau sekarang, boro-boro deh ngantri, kamar mandi ada dikamar masing-masing, jadi gak perlu ngantri. Mau selama apapun dikamar mandi silakan, gak ada yang nggedor-nggedor atau diteriaki dari luar. Itu serunya kos waktu masih mahasiswa. Saling berebut dulu-duluan dan kami tidak segan-segan bergantian membersihkan kamar mandi. Televisi juga hanya satu biji, itu untuk diliat bareng-bareng. Sekarang, masing-masing kamar ada TVnya, malah jadi garing nonton TV sendirian dikamar -_-

Dulu, pulang dari kuliah, sejenuh apapun pikiran, akan jadi segar kalau udah bercengkrama sesama penghuni kos. Sebanyak apapun tugas, seberat apapun ujian untuk keesokan harinya, tapi saya tetap merasa senang karena banyak teman yang senasip sepenganggungan. Saling bercerita kehidupan kampus, percintaan, keluarga, keuangan, masa depan, dan sebagainya. Janjian jalan-jalan bersama, naik taxi diisi sampe 4-5 orang, beli makan bersama-sama, saling traktir jika ada yang sukses, saling meminjam apapun yang bisa dipinjam, saling merawat kalau ada yang sakit, saling kasak-kusuk kalau ada salah satu dari kami yang dianggap mulai ‘nggak nggenah’, nonton film bersama, dan sebagainya. Nah, kalau sekarang, boro-boro bergosip, yang ada pulang kerja udah sama-sama tepar, masuk kamar masing-masing, dan hari libur udah sibuk sama kegiatan masing-masing. Bertegur sapa kalau pas barengan berangkat atau pulang kerja saja. Tapi, Alhamdulillah, ada mbak kos baru pindah di sebelah kamar kos saat ini. Kami sering beli makan bersama, belanja bulanan sama-sama, jalan-jalan bareng dan sebagainya. Jadi benar-benar merasa ada teman senasip sepenanggungannya.

Simple saja, bagaimanapun itu, hakikat manusia adalah makhluk sosial. Selalu membutuhkan orang lain untuk berinteraksi. Saya rasa, manusia hidup tanpa ada interaksi rasanya hambar. Sebanyak apapun harta, kalau tidak ada orang lain disekitar kita yang bisa kita ajak berbagi juga gak ada artinya. Terkadang, hal-hal sepele dan mungkin kadang nyebelin, justru itulah yang bakal kita kangenin J

Happy blogger day :D

Meskipun telat, yang penting saya tetep ngucapin^^