Saturday, May 17, 2014

Tell Me Your Wish

Sama seperti judul salah satu lagu SNSD "tell me your wish", kali ini saya akan bercerita tentang suatu tempat untuk mengutarakan harapan anda, tempat tersebut di Lombok. Tidak jauh dari kota Mataram. Letaknya dekat dengan Pantai Loang Baloq.

Paris memiliki suatu tempat, yaitu jembatan yang melintasi sungai Seine. Sepanjang jembatan tersebut tersemat beribu-ribu gembok cinta. Pasangan-pasangan dari berbagai penjuru dunia menyematkan gembok cinta mereka dan berharap kelak cinta mereka abadi. Tidak hanya di Paris, di Korea Selatan, tepatnya di Namsan Tower, juga terdapat tempat khusus untuk menyematkan gembok cinta. Apa sih hubungannya dengan suatu tempat di Lombok yang sekilas saya ceritakan di awal? Sebenernya sih gak nyambung-nyambung amat, tapi ada benang merahnya, yaitu sama-sama tempat untuk mengutarakan/meletakkan harapan. *maksa ya? ^_^v

Namanya makam Loang Baloq. Tenang, saya tidak bermaksud cerita hal-hal menyeramkan. Berdasarkan papan info di makam terbut, makam tersebut adalah makam Maulana Syekh Gaus Abdurrazak. Waktu saya kesana ramai banget deh makamnya. Tujuan utama saya adalah ke pantai Loang Baloq, eh kok keramaian makam ini membuat saya penasaran, dan berujung saya mampir bentar.

Emang sih, jauh beda sama di Paris sama di Korsel sono yang hawa-hawanya romantis, kalau di makam Loang Baloq sini suasananya panaas.kekeke. Depannya udah pantai sih. Katanya, orang-orang yang ziarah ke makam ini banyak yang mengutarakan harapannya, harapan apa saja, dari jodoh, kesehatan, rizki, dll. Yang membuat unik adalah setelah anda menyematkan harapan-harapan anda bukan melalui gembok, melainkan melalui plastik. Yup, plastik. Plastik apa saja. Saya belum sempet nanya juga kenapa memakai plastk. Ada yang memakai sedotan, plastik bungkus makanana, kantong plastik. Tapi mereka memotong plastik-plastik itu menjadi kecil-kecil, bukan plastik gede langsung diiket -___- Plastik tersebut diikat dibatang dan akar-akar sebuah pohon besar ditengah wilayah makam.





Unik kan? kalau di luar negeri pada pake gembok, di Indonesia pake plastik. Kabarnya sih karena udah terlalu banyak plastik yang disematkan, pemerintah setempat mulai membatasi penggunaan plastik. Yah, kita lihat saja seperti apa kedepannya. Siapa tau saya ada rejeki mampir ke Lombok lagi, semoga bisa menengok lagi Loang Baloq ini. Jika harapan anda sudah terwujud, katanya sih anda harus melepaskan ikatan di pohon tersebut. Penasaran kah? Silakan berkunjung :)

Tempat-tempat tersebut, seperti di Loang Baloq, Namsan Tower, jembatan sungai Sein, merupakan tempat untuk mengutarakan impian atau harapan. Tempat-tempat tersebut mempunyai magnet terndiri bagi pengunjungnya. Mereka datang dengan harapan masing-masing. Yeah, come here and tell me your wish ;)

Thursday, May 15, 2014

Lost in Ngawi

Lebih tepatnya sih main ke Ngawi. Dulu, kalau mendengar "Ngawi", pikiran saya langsung mencerna, "Jauh banget". Ya iya lha jauh, kalau berangkatnya dari Sidoarjo.haha. Kalau berangkat dari Madiun kan lain lagi ceritanya. Jadi, ceritanya saya diajak menginap di rumah temen kantor, rumahnya mbak Dwi, di Ngawi. Saya sendiri sebelumnya belum pernah ke Ngawi. Paling kan cuma lewat Ngawi kalau mau ke Jogja. Pergi ke Ngawinya ini sih mungkin udah 2 bulan yang lalu. Ternyata wilayah Ngawi juga ada yang dingin (kirain panas), karena ada yang terletak di kaki gunung Lawu. Selama di Ngawi saya masuk angin mulu -.- Gak seru ya?hahaha. Saya nginep 2 malam di rumah mbak Dwi dan 2 malam itu pula saya masuk angin. Dingin banget deh. Saya aja gak berani mandi sore :p

Selama dirumah mbak Dwi saya kerjaannya makan tidur makan tidur. Sesungguhnya saya malu kegiatannya itu-itu mulu. Tapi saya bantuin apa dikit langsung diteriakin suruh naruh kerjaan itu. Jadinya saya nonton tv upin-ipin bersama Adit, keponakan mbak Dwi yang masih TK. Agak siang saya dikasih buah rambutan, hasil memetik di halaman depan. Sayang, durennya belum mateng *plaaak. Dikasih rambutan mintanya duren ^.^v

putih-putihnya itu kena abunya Kelud

lucu banget si Adit
Hari Sabtu pagi, saya dan mbak Dwi bersiap-siap pergi ke Jamus. Sementara di Adit gak jadi ikut lantaran dia masuk sekolah. Kami berangkat sekitar jam 09.00 dan nyampe Jamus sekitar jam 10.30. Kami naik motor menuju Jamus. Jalan menuju Jamus penuh rintangan dah, udah belokannya tajam, nanjak pula. Yang paling kita takutin adalah hujan, makanya kami lumayan ngebut. Kata mbak Dwi sih jam 12 keatas seringkali hujan kalau di Jamus, makanya berangkatnya agak pagian. Berati 11 12 lha kayak di Sarangan. Akhirnya kami nyampe Jamus dengan selamat. Dan..pemandangannya baguuus sekali, kebun teh membentang nan hijau. Yang terkenal di Jamus selain hasil tehnya adalah bukit borobudur. Selain itu, di Jamus ada kolam renang umum. Tapi begitu saya lihat air dan situasinya, not recommended deh.hehe

Benar saja, sesampainya di Jamus udah mulai mendung






Sudah paham kan mengapa disebut bukit Borobudur? Yep, karena bentuk bukitnya mirip candi Borobudur.

Pulang dari Jamus, kami kehujanan. Oh ya, di Jamus banyak juga kok yang jual makanan. Ada penjual pentol (yang satu ini entah kenapa di Madiun, sarangan, dan Ngawi banyak banget yang jual), pentol bakar, bakso, mie ayam, dan beberapa makanan lain yang sederhana bikin dan penyajiannya. Setelah memasuki ke wilayah yang agak turun, maksudnya sudah dikaki gunung, udah gak hujan lagi.

Sorenya saya, mbak Dwi dan Adit jalan-jalan sekitar rumahnya. Saya lupa nama desanya apa. Semacam blusukan lha, tapi kami cuma menikmati alamnya saja.hihi. Lagi-lagi pas pulang kami bertiga kehujanan.




Malam hari, selepas Maghrib, sekitar rumah mbak Dwi udah sepi banget. Jadinya didalam rumah saja sambil nonton tv. Pas tidur malam, lagi-lagi saya masuk angin -.-
Keesokan hari Minggu, kami tidak kemana-mana. Saya sih pinginnya segera balik ke Madiun, tapi karena setiap sore disana hujan, akhirnya saya dan Mbak Dwi balik ke Madiun hari Senin jam 05.30. Dengan kecepatan super ngebutnya, jam 06.00 sudah nyampe Madiun. Anyway, terimakasih untuk mbak Dwi dan keluarganya yang sudah menampung saya. Terimakasih lagi karena saya dikasih bekal untuk sarapan di kos pas hari Seninnya. Maklum lah, anak kos.hahahaha.

Indonesia indaaah sekali. Setelah di Lombok yang notabene tempat wisatanya adalah pantai, kalau di sekitar Madiun ya gunung deh. Saya tidak menyangka bisa main hingga ke Ngawi. Setidaknya menambah pengalaman pernah main di Ngawi, tidak hanya lewat ketika akan ke Jogja.

Tuesday, May 6, 2014

Sesaot : Alternatif Wisata NonPantai di Lombok

Apa sih pertama kali yang anda pikirkan tentang Lombok? Pedas? Ya, memang masakan khas Lombok notabene rasanya pedas. Ataukah Pantai? Yup, benar sekali. Pantai di Lombok bertebaran dimana-mana. Mungkin ada yang mencari tempat wisata selain pantai di Lombok. Sebenernya tempat wisata di Lombok yang selain pantai juga bertebaran dimana-mana. Kali ini saya mau bercerita tentang Sesaot.

Sesaot merupakan salah satu desa di kawasan Narmada, di Lombok Barat. Kebetulan waktu itu saya ke Sesaot bersama-sama dengan keluarga bu lek aka tante. Lama perjalanan dari kota Mataram ke Sesaot memakan waktu kurang lebih 1 jam. Cukup dekat karena dari Mataram ke Narmada juga tidak terlalu jauh. Sepanjang perjalanan ke Sesaot anda akan bertemu dengan sawah, ladang, kebun Durian (sayang pas lagi gak musim), hutan lindung, dan perusahaan air Narmada (Minuman Kebanggaan Warga NTB). Sayangnya, saya lupa tidak beli baterai untuk kamera pocket, akhirnya jeprat jepretnya pake kamera handphone. Sebenernya tante bawa kamera DSLR, tapi saya juga lupa belum ngopy file-file disitu -.-v

Sebenernya mengunjungi Sesaot sangatlah menarik. Waktu itu kami datang disalah spot yang sangat rindang dan tentu saja amat sejuk. Namun, pemandangan itu jadi kurang menarik karena banyaknya warga yang mandi dan tidak jauh disitu beberapa warga sekitar ada yang mencuci pakaian dan karpet. Hmm..mungkin bisa jadi wacana pemerintah setempat agar Sesaot lebih dikelolah lagi, biar kayak di Suranadi.

Alhasil, kami pindah tempat agak jauh. Nah, disitu sebenernya sama aja, banyak warga mandi di kali.huhu. Mungkin mereka tidak kuat godaan untuk mandi karena air di sungai Sesaot sangat jernih dan berwarna biru. Akhirnya kami duduk-duduk dipinggir sungai sambil makan nyemil. Pemandangan di sekitar sungai Sesaot juga tak kalah indah. Dipinggir-pinggir sungai masih banyak pepohonan yang membuat rindang sekitarnya. Banyak batu dengan ukuran yang lumayan besar di sungai Sesaot. Lumayan deh, bisa dibuat duduk santai. Nah, ini deh hasil jepretan pake kamera handphone.





Menurut saya sih, Sesaot ini masih alami. Jadi, mending pemerintah daerah setempat lebih memperhatikan lagi, karena lumayan lho pulang dari Sesaot pikiran jadi fresh lagi. Tidak menutup kemungkinan kan pengunjung juga semakin ramai kesini.

Sebelum ke Sesaot kita melewati Narmada. Nah, disitu terdapat pemandian yang konon katanya airnya bisa bikin awet muda. Selain itu, bisa juga mampir ke Suranadi. Suranadi memiliki pemandian umum juga dan jangan tanya dinginnya. Brrr...dingin banget. Jangan lupa setelah mandi dipemandian Suranadi, mampirlah untuk membeli sate bulayak. Kawasan Suranandi ini sejalur dengan Sesaot. Sebelum ke Sesaot, kita akan melewati Suranadi. Suranadi juga memiliki hutan lindung yang masih banyak monyetnya. Selain itu, terdapat pura Ulon, pura Pangentas, dan pura Pabersihan. Lagi-lagi waktu ke Suranadi saya hanya sedikit mengabadikan gambar sekitar.

Selamat berpelesir di Lombok. Mungkin ini bisa menjadi alternatif wisata nada ketika di Lombok dan sedang mencari tempat wisata non Pantai. Wilayah Narmada ini cukup dekat dengan kota Mataram. Jadi, bolehlah tengok kawasan ini jika anda sedang di wilayah Lombok Barat. Happy travelling :)

Sunday, April 20, 2014

Jackpot

Sometimes, work means JENUH. Terkadang saya begitu merindukan suasana kantor. Terkadang saya sangat jenuh dengan rutinitas kantor. Suatu hari, ada sosialisasi dari kantor pusat mengenai manjemen risiko. Setiap unit kerja memiliki risiko sendiri-sendiri. Misalnya, dibagian back office memiliki risiko salah membukukan transaksi, salah kurs, salah dalam menafsirkan cek/BG yang masuk, dll. Saat ngisi risiko-risiko yang mungkin sudah terjadi, berasa lagi ujian, banyaak banget. Kadang-kadang pengendali internal suka menggaungkan ati-ati kena zero deffect -____- oh men, seriously. Zero deffect merupakan sebutan jika kita melakukan kesalahan fatal.

Kedatangan tim dari kantor pusat membuat kita melek betapa pentingnya meminimalkan risiko disetiap unit kerja. Ada post test diakhir sesi dan ada tanya jawab. Daaan, saya memberanikan diri menjawab salah satu pertanyaan dari tim kantor pusat. Diakhir acara saya dapat coklat silverqueeennn. Yaudah deh, tak perlulah saya sensor, soalnya lagi malas ngedit. Tentunya pilihan hadiah tidak ada hubungannya sama sekali dengan perusahaan tempat saya bekerja sekarang.

Kemudian, ada salah satu tim pusat tanya ke saya. "Mbak, disini yang berjilbab berapa orang? Saya ada sedikit oleh-oleh" :)
Jackpot kedua dapat oleh-oleh. Mungkin ini sederhana saja, dapat coklat dan oleh-oleh jilbab. Alhamdulillah. Biar semangat lagi menyimak sosialisasi.hehehe. Terimakasih :)

Saturday, March 22, 2014

New Family

Hidup terus mengalir. Setelah lulus dari SD, beranjak SMP, memulai kehidupan dimasa SMA, lulus, hidup sebagai mahasiswa, berakhir dengan wisuda, dan tibalah di masa bekerja. Setelah lulus kuliah saya dihadapkan dua pilihan antara lanjut S2 atau bekerja. Saya memilih option bekerja dan suatu saat saya ingin kembali ke bangku kuliah *Aamiin.

Pada postingan lama saya, saya pernah bercerita betapa kita harus menghargai masa-masa masih bebas karena belum terikat dengan suatu pekerjaan. Dan, sekarang saya dihadapkan kondisi dimana hari Sabtu dan Minggu terasa amat sangat berarti. Serius deh!

Bekerja disektor perbankan yang jam pulangnya gak menentu, paling cepet bisa pulang jam 17.15, bisa juga kok sampe nginep di kantor. Nginap di kantor ini merupakan pengalaman pertama saya lho. Saya pindah ke kantor cabang Madiun, dan manajer saya menyertakan saya di tim closing akhir tahun. Lumayan juga sih, pengalaman pertama saya lihat kembang api secara langsung pas malam pergantian tahun ya disini, waktu ikut jadi tim closing.ahahahaha. Dannn, awal tahun 2014 lalu disambut dengan dag dig dug menunggu hasil laporan keuangan tahunan.

Saya jadi kangen dengan teman-teman di kantor cabang lama. Kangen Mas Atmo buat authorize transaksi dan selalu ngasih tahu mana yang bener dan salah, kangen mbak Linda yang selalu heboh dengan dagangan dan cerita tentang anaknya, kangen mbak Bulan yang suka nyanyi (tiap kita ngomong sesuatu pasti dia nyayi), kangen saya suka sewot ke mas Hari dan gangguin kerjaan dia karena di komputer saya kagak ada aplikasi RTGS, kangen Mas Budi ngingetin saya pelimpahan pajak dan nyetak nota debet, kangen para prabakti yang suka nungguin saya nulis mau pesen makan siang apa (saya mesti lama mau makan apa karena saya belum doyan makanan sana), kangen mas Jaka ngasih laporan setoran ke BI atau bank lain, kangen para Teller ngasih slip pelimpahan payment point, kangen mbak-mbak CS minta 10 rupiah, kangen sosialisasi PKO sampe ngantuk, kangen mbak Sitha yang sama-sama suka jejepangan dan kekoreaan, kangen mbak Dinda, mas Doni, mas Hadi karena kita satu angkatan masuk, kangen nelpon AO nagih para CA, kangen ditanyain list penerima pensiunan, kangen mbak Anggi yang suka minta cetak laporan autodebet nasabahnya dan minta special rate buat ngirim valas, kangen semuaa muaa deh. Kangen ngurus payroll lagi. Oh ya, saya pernah lho, watu itu awal bulan, lagi banyak-banyaknya payroll. Tugas payroll saya belum kelar, tapi ada sosialisasi PKO. Di mesin ATM depan karyawan dari perusahaan lain sudah pada ngantri mau ambil gaji, tapi gajinya belum saya upload. Mati deh saya, sampe security nelpon banyak yang nunggu gajian. Gomen ^.^v

Saya memang hanya 6 bulan di kantor cabang Mataram, namun mereka sudah seperti keluarga. Kerja dibank, mengharuskan rutinitas saya kembali teratur. Bangun pagi jam 05.00, lalu saya tidur lagi. Jam 6.30 bangun, mandi, dan  bersiap-siap ke kantor. Jam 7.30 saya sudah harus tiba di kantor karena jam layanan dibuka pulul 08.00.

Hari kerja saya Senin-Jumat. Otomatis setiap hari waktu saya banyak dihabiskan di kantor. Bertemu dengan atasan maupun teman sejawat. Karena waktu kami banyak dihabiskan di tempat kerja, bertemu hampir setiap hari, tentu saja kami jadi akrab. Bahkan kami seperti keluarga sendiri. Berbagi makanan, berbagi cerita, curcol, dan sebagainya. Terkadang kami keluar untuk makan bersama dihari libur. Kalau ada tim audit ikut cemas bersama, pokoknya satu masalah yang dibuat oleh seorang staf menjadi masalah bersama, ditanggung bersama-sama.

Pun begitu juga ketika saya pindah di kantor cabang Madiun. Bertemu teman-teman baru lagi. Apalagi kantor cabang Madiun ini kantor cabang yang baru dibuka, jadi terasa sekali jatuh bangunnya merintis :')
Kadang ketawa-ketiwi bareng, kadang saling beradu argumen, kadang melankolis bareng, makan nasi jotos bareng karena untuk mengirit *HAHAHA, saling berebut melobi untuk mendapatkan arisan bulanan, dan masih banyak lagi deh.hahahaha

Yaah, mungkin karena waktu kami jarang bertemu keluarga sendiri-sendiri, maka terjalinlah keakraban. Saya pernah dengar ada yang bilang, yang jauh jadi dekat, yang dekat jadi jauh. Seperti ini sih kehidupan, dimana ada pertemuan nanti ada perpisahan juga. Lepas dari kuliah, berpisah dengan yang sudah akrab, disambut dengan perjumpaan teman-teman baru yang lama kelamaan seperti keluraga sendiri. Mungkin ini juga bayaran dari kami yang jauh dari keluarga. Fyi, di kantor baru ini yang asalnya Madiun hanya beberapa aja, lainnnya dari luar kota juga. Bahkan ada yang dari Makassar. Satu lagi, keluarga ibu kos baik di Mataram ataupun di Madiun sudah saya anggap seperti orang tua sendiri. Bertambahlah keluarga baru lagi. Bahkan saya jadi suka kangen dengan keluarga Pak Ketut sama Bu Kadek. Kangen mbak Putri dan mbak Meirin yang seperti keluarga kecil kecil di kos Mataram.

Begitulah alur kehidupan saya akhir-akhir ini. Saya juga belum tahu bagaimana nasib saya berikutnya. Saya tetap disini atau saya akan berpindah tempat lagi. Kalaupun nantinya saya tidak disini lagi, dimanapun itu, bertemu orang baru lagi, semoga menjadi keluarga baru yang lebih fantastis lagi :)

Operasional Buki Madiun

Sunday, February 2, 2014

Budaya Suku Sasak : Nyongkolan

Kalau di Jawa Timur, khususnya di Sidoarjo, saat ini lagi hits-hitnya musik patrol. Kurang tau juga sih di Surabaya mulai marak atau enggak. Musik patrol itu semacam drumband mini *menurutku. Jadi ada yang main gambang, drum, ditambahi ada yang main kenong, dll (aku lupa nama alat musiknya ^^v ). Biasanya grup patrol ini dipanggil kalau ada acara mantenan ataupun sunatan. Saya sih baru sekali liat patrol ini.hehe.

Nah, kalau di Mataram ada namanya nyongkolan. Itu sih adat suku sasak untuk pesta pernikahan. Fyi, suku sasak adalah suku asli orang Lombok. Dalam nyongkolan, pihak lelaki yang akan bertandang ke rumah perempuan, sepanjang jalan akan dikarak bersama pasangannya. Karakan itu diisi musik-musik melayu dengan irama yang bikin goyang-goyang para pengantar/pengiring. Para pengiring ini memakai baju kebaya. Bisa dibayangkan lha ya betapa hebohnya kalau ada nyongkolan. Katanya sih, sekarang ini nyongkolan mulai dibatasi soalnya bikin macet. Bayangkan aja, orang-orang asik-asik joget disisi lain ada orang yang buru-buru mau ke BIL tapi macet karena ada nyongkolan ini.

Sopir taxi pernah cerita, nanti kalau udah dirumah pihak perempuan, akan ada semacam pantun-pantunan. Jadi, dari pihak lelaki dan perempuan akan ada perwakilan yang saling berbalas pantun. Mereka dapat bayaran lho yang mewakili dari masing-masing pihak dan bayarannya mahal karena mereka harus cepet dalam membalas pantun. Namun, semakin kesini, acara pantun-pantunan itu semakin jarang diadakan.

Selama aku di Mataram, mungkin udah 3 kali lihat nyongkolan. Karena musiknya yang bikin orang gabisa gak noleh itu, jadinya saya bela-belain lihat nyongkolan dari sebrang jalan. Katanya juga, kalau disana ada nikahan dan pihak keluarga lelaki gak ngadain nyongkolan, maka mereka akan jadi bahan gunjingan tetangga. Bahkan, para tetangga akan bela-belain patungan untuk ngadain nyongkolan. Kabarnya sih mahal untuk ngadain nyongkolan itu. Lebih dari 3 juta gitu biayanya. Yah, mungkin ada pihak keluarga yang menganggap 3 juta itu murah, namun kan ada juga 3 juta itu lebih baik digunakan untuk yang lain.

Coba cek deh foto nyongkolan yang berhasil aku abadikan, kurang jelas sih sebenernya soalnya buru-buru motonya.hehe. Nyongkolan difoto-fotoku ini adalah nyongkolan didaerah Karang Bedil, pas gak dijalan raya utama, melainkan digang-gang perumahan.
Manten Cowok yang Memakai Baju Biru

Manten Cewek yang Memakai Baju Biru


Hebohnya Crew Nyongkolan

Penyanyi Bersama Sound Systemnya

Tuh Kan Goyang-goyang Sepanjang Jalan

Saturday, January 25, 2014

Induk Semang

Ketika saya menginjak bangku kuliah, saya memutuskan untuk ngekos. Ya, saya memilih untuk kos meskipun rumah saya dikota sebelah Surabaya, yaitu di Sidoarjo. Perjalanan dari rumah k kos sekitar 1 jam (naik motor). Capek juga lho motoran 1 jam itu. Apalagi sepanjang jalan panasnya pol-polan, macet, dan asap dimana-mana. Nanti takutnya telat nyape kampus, jadi capek dan konsen kuliah :p

Kos pertama saya di Jl. Gubeng Airlangga 2 No.30. Hahahaha, saya masih hafal nama jalan dan no rumah. Gimana gak lupa, saya hampir 3 tahun kos disitu. Kos kedua saya tetep di Jl. Gubeng Airlangga 2 tapi no rumahnya saya lupa. Kos ketiga di Jl. Gubeng Airlangga 6 dan saya juga lupa no rumahnya. Kos keempat di Jl. Dharmawangsa IX dan lagi-lagi saya lupa no rumahnya. Saya sebenarnya gak mau pindah-pindah kos kayak gitu. Tapi, apa daya, mau dikata apa. Kami warga Guber 2 No.30 diminta ibu kos pindah kos dengan alasan kos mau direnovasi. Well, ujung-ujungnya kita cuma lihat yg direnovasi adalah pintu kamar saja.

Setelah saya lulus dan diterima kerja di Lombok, saya hijrah deh ke Mataram. Saya juga ngekos disana meskipun ada bibi di Mataram. Kos saya di Mataram di Jl. Merak No.9, dekat banget sama kantor. Kalau jalan kaki dari kos ke kantor nggak nyampe 5 menit.

Kehidupan saya terus bergulir, saya mutasi ke kota Madiun. Saya lagi-agi ngekos. Kos pertama di Jl. Merpati (lupa no berapa) dan hanya 12 hari saya disitu lalu pindah ke Jl. Salak Barat VI No.D-10.

Pindah dari satu kos ke kos yang lain tentu saja saya mengamati karakter masing-masing induk semang aka pemilik kos. Induk semang di Surabaya cenderung cuek *bukan bermaksud menjelek-jelekkan. Mungkin banyak juga induk semang di Surabaya yg baik hati tapi saya belum bertemu mereka. Lain lagi dengan induk semang di Mataram dan Madiun. Mereka ini superr baik *bukan bermaksud memuji-muji juga. Saya menulis berdasarkan apa yang saya alami. Induk semang di Mataram dan madiun berasa orangtua sendiri. Mereka memperlakukan anak kos seperti keluarga sendiri. Bukan bermaksud membanding-bandingkan kok. Atau saya yang belum bertemu induk semang di Mataram dan di Madiun yang cuek-cuek.

Seringkali perlakuan induk semang yang super baik ini bikin sungkan. Terkadang saya nitip buah, uangnya bakalan saya ganti, eh tapi ujungnya saya gak boleh ganti. Belum lagi kalau pas libur kerja dibuatin teh dan diberi makanan seperti kue-kue basah. Saya mau pulang ke Sidoarjo jam 3 pagi, saya nggak boleh naik taxi, mereka yang ngantar saya ke stasiun. Bayangkan, belum shubuh, pagi-pagi buta mereka ngeluarin mobil untuk ngantar saya ke stasiun. Gimana saya jadi gak sungkan.hehe. Yah, pokoknya masih banyak sih kebaikan-kebaikan induk semang di Mataram dan Madiun. Semoga kebaikan kalian Allah yang membalas. Padahal juga induk semang di Mataram non-muslim, tapi baiknya ke anak kos juga nggak diragukan lagi deh.

Intinya sih, saya jadi tau bagaimana mereka treating customernya. Mereka tahu caranya agar konsumennya gak lari. Yah, meskipun sih menurut saya itu murni kebaikan mereka, bukan semata-mata demi kelancaran bisnis. Gara-gara sering ngekos, suatu hari nanti saya pingin punya bisnis kos ^^ Aamiin. Semoga duitnya segera ngumpul ya xD