Tuesday, September 16, 2014

Katanya (2)

Katanya, dunia kerja itu kejam. Iyee, bener. Kejam banget. Ada yang beneran baik. Ada yang pura-pura baik. Ada yang tulus ngajarin. Ada yang pura-pura tulus. Ada yang baik di depan, di belakang nusuk. Ada yang rendah hati padahal ilmunya Subhanallah banget deh, udah membumbung tinggi. Eeh..ada yang belagu padahal juga ilmunya ya belum mumpuni *maaf. Ada yang jabatannya dirut aja bukan, tapi udah main suruh ini itu. Ada yang suka senggol menyenggol antar teman biar naik pangkat. Ada yang emang pinter terus naik pangkat, tapi nunggu 10 tahun dulu. Mungkin ada juga sih staf reguler yang gak nyampe 10 tahun naik pangkat. Makanya ikut ODP/MDP/MT dan sejenisnya biar cepet naik pangkat *lhoo? Serius, kalau mau cepet menduduki level manajemen ya ikut jalur-jalur itu. XD

Ada yang apatis. Ada yang berjuang dan selalu nyemangati timnya karena pingin perusahaan 'tumbuh'. Naah, si pembangkit semangat ini udah berkobar-kobar banget deh yaa, eeeh, seketika ada pihak lain yang jadi air buat matiin api semangat. Ada yang gak mau tau urusan anak buah. Ada yang sangat care dengan kerjaan anak buah. Ada yang nungguin anak buah sampe pulang. Eeh..ada yang ngacir duluan. Kerjaan lu, ya kerjaan lu, selesain, gue nggak mau tau pokoknya harus kelar. Tentunya masih banyak lagi deh realita di dunia kerja. Terserah sih mau jadi yang kek gimana. Dulu, pas kuliah mungkin kita punya pandangan tersendiri atau yang sering dibilang idealis. Begitu masuk dunia kerja, hmmm..belum tentu idealis masih bisa dipegang teguh. Syukur banget deh kalau emang bisa mempertahankan idealis. Lagi-lagi, idealis atau realistis itu terserah anda, tentunya risiko jangan dilupakan.

Menurut saya nih, sebagian orang (Sebagian lho ya, bukan berarti keseluruhan), dengan semakin tinggi jabatan atau semakin banyak pengalamannya, ada kecenderungan semakin ia ingin menunjukkan 'siapa' dirinya ke orang lain. Semacam wujud kebutuhan penghargaan kalau kata Pak Maslow. Sah-sah saja sih kalau pingin dapat pengahargaan, tapi rasa-rasanya akan lebih terhormat kalau cara untuk mendapatkannya dilakukan dengan sopan tanpa senggol dan bacok. Lagi-lagi, terserah anda mau jadi apa, dengan cara apa dan bagaimana, risikonya gimana. Kalau saya sih sangat tidak menganjurkan cara-cara yang 'tidak memanusiakan manusia' dalam menggapai impian.

Monday, September 8, 2014

Simple Story From Bu Sri Kambing

Suatu hari, saya diajak bulek/tante wawancara didaerah Lombok Tengah. Bayangin BIL (bandara Internasional Lombok) aja jauh dari Mataram, apalagi ini belum tau persis tempatnya dimana, jadi lah kami berdua mengurungkan niat bawa mobil, disamping karena tidak tau medan, tidak tau entah nanti gangnya sempit mobil bisa masuk apa tidak, juga biar simple ketika nanya ke penduduk sekitar.

Eeng iing eeng, tempatnya lebih jauh dari BIL, malah melewati BIL. Dulu, kalau lewat BIL bawaannya pingin pulang. Setelah nanya sana sini, akhirnya sampai ke rumah Bu Sri kambing ini. 

Namanya Bu Sri, tapi terkenal dengan Bu Sri Kambing. Panggilan dengan embel-embel kambing didapat karena beliau berjuang untuk menghidupi anak-anaknya melalui ternak kambing. Suaminya seorang PNS yang gajinya tidak mencukupi kehidupan keluarganya. Pada suatu hari seorang anaknya memecah celengannya dan putra beliau dengan sangat sukarela membelikan uang tabungannya tersebut untuk membeli kambing. dari situlah bermula kegiatan Bu Sri sebagai penggembala kambing. Yang menarik adalah Bu Sri memperlakukan kambing peliharaannya layaknya manusia, jika sakit juga diberikan obat yang sama untuk manusia, diberikan susu layaknya bayi. Hingga lama kelamaan kambing-kambing semakin banyak dan ada seekor kambing yang dari tingkah lakunya mengisyaratkan dia menyayangi Bu Sri layaknya ibunya sendiri.

Berkah dari ternak kambing ini adalah Bu Sri mendapatkan tambahan penghasil hingga bisa menyekolahkan anak-anaknya ke jenjang tinggi. Pada mulanya, Bu Sri mendapat banyak cemohan dari tetangga, namun lama kelamaan para tetangga banyak juga yang menanyakan tips merawat Kambing. Bu Sri pun lama kelamaan semakin berjaya hingga beliau mempunyai semacam paguyuban. Dalam paguyuban tersebut ada peraturan yang melarang menjual kambing kalau jumlah kambing di kandang kurang dari 3 ekor. Selain itu, kalau mau menjual kambing harus lapor ke koordinator.

Kegiatan beternak bu Sri ini begitu inspiratif karena dianggap mampu mengangkat derajat baik diri sendiri dan keluarga, juga mengangkat derajat wanita lain yang masuk di paguyuban (kelompok ternak). Perlu diketahui, banyak istri yang ditinggal suami sebagai TKI di luar negeri, mereka ini diberdayakan oleh Bu Sri melalui programnya tersebut. Penghargaan pun mulai datang ke Bu Sri Kambing.

Sebenernya masih ada cerita lagi mengenai sistem bagi hasil Bu Sri ini kepada kelompok ternaknya. Tapi saya agak-agak lupa, maklum waktu itu saya cuma dengerin tanpa nyatet. Bu Sri ini pribadinya juga ramah, beliau berulang kali mengajak kami makan terlebih dahulu, tapi dengan berat hati kami menolak dengan halus karena kami mau meliput nasi balap puyung. Bahkan, selang beberapa hari setelah wawancara pun Bu Sri masih sms mengajak keluar bersama.

Sayangnya, dokumentasi bersama Bu Sri ini tidak terlalu banyak. Waktu tante wawancara saya sungkan mau jepret-jepret karena beliau bercerita hingga berkaca-kaca dan membuat kami terharu.



Begitulah perjuangan seorang istri demi kelangsungan hidup keluarga. Tak hanya bermanfaat bagi keluarganya, Bu Sri juga mengangkat derajat tetangganya. Saya jadi ingat suatu hadist yang mengatakan bahwa sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Huuuaa, kalau gini jadi meraba diri sendiri, sudah ngapain aja saya ini? :(

KABUR KE PACITAN (2)

Episode 2 Kabur Ke Pacitan

Siang hari yang semakin terik, sekitar pukul 13.00 kami melanjutkan ke Pantai berikutnya. Kami penasaran dengan Pantai Watu Karung. Perjalanan dimulai dengan suntikan semangat lagi. Tapiii, semakin kita jauh dari dari Klayar semakin sempit dan jelek (belum beraspal) jalan yang kita lewati, semakin berkelok-kelok plus naik turun dan kami merasanya nggak nyampai-nyampai tujuan.

Sepanjang perjalanan nanya kebeberapa penduduk setempat. Mungkin kami nanya 7 aatau 8 orang dan semua menjawab udah deket mas, kira kira 1 km lagi. Wow, sekilo lagi, okee cuus lanjut. Hingga mobil rombongan belakang mungkin mulai lelah dan jenuh, mereka nawarin kita balik atau lanjut. Pada akhirnya kita sepakat lanjut karena sudah sejauh ini. Beny sang sopir pun tidak mau ketinggalan bertanya kepada penduduk setempat menggunakan bahasa Jawa yang usut punya usut dia salah pertanyaan ke bapak itu.
Beny           : "Pak, mboten tangglet" (Pak, ndak tanya)
Bapak         : Diam
Mas Nanda : "Ben, kamu tadi tanya apaan? Pak, nderek tangglet, Watu Karung tasik tebih?" Akhirnya mas Nanda yang nanya
Bapak        : "Sekitar sekilo lagi, mas. Melu jalan iku ae, lurus, nanti ambil yang kanan"
Dasar Beny, mboten tangglet kan artinya ndak tanya, makanya kok bapak yang ditanya diem aja -_-"
Fyi, sekilo kita sama sekilo penduduk setempat itu beda banget. Kayaknya jauh deket mereka bilang sekilo.hahaha

Taraaa..Pantai Watu Karung tak kalah eksotiknya dengan Pantai Klayar. Kalau Pantai Watu Karung lebih kayak private beach gitu deh. Lebih sepi dan ombaknya juga sedikit lebih bersahabat. Tak lama-lama kami langsung main-main deh.
Langit Biruuuuu
Hingga tragedi terjadi, hape saya kecelup di pantai -_-"
Oknumnya terpampang lho ya disini -_-"
Akhirnyaaa, nyemplung laut lagi setelah sekian lama.hahaha. Pas di Gili Trawangan saya pernah ikut paket snorkling, tapi saya gak berani nyemplung terlalu lama gegara pas ombaknya lagi lumayan, juga sejujurnya saya gak bisa renang T.T Waktu itu, saya nyemplung gak nyampe 5 menit karena tiba-tiba pelampung saya hampir lepas dan akhirnya buru-buru saya naik ke kapal lagi, gak berani nyemplung lagi deh T.T

Ketika kami asik main di Pantai Watu Karung, cuaca juga mendukung, matahari mulai turun, jadi gak terlalu menyengat deh. Kurangnya disini sih, kami tidak menjumpai penjual makanan disekitar Pantai. Tapi ada beberapa bungalow dan rumah penduduk yang membuka jasa kamar mandi untuk bilas-bilas.



Overall seneng banget deh. Berasa gak sia-sia kita menelusuri jalan sampai nanya 7 apa 8 orang ya buat nyampe sini. Capeknya dijalan kebayar sudah setelah nyampe di Watu Karung. Kami disini sampai jam 16.00, lalu kita pulang balik ke Madiun karena esok sudah harus kerja lagi. memang sih, kita rencana berkunjung minim 3 pantai, tapi rencana hanya rencana, waktu gak memungkinkan kita lanjut. Alhamdulillah banget deh ada liburan sehari nyempil ditengah minggu yang memungkinkan kita kabur dari Madiun.
Kalau inget pas liburan ini jadi kangen mereka deh, biasanya tiap hari ketemu, dari pagi sampai sore bahkan malam. Semoga saja rencana trip kami di bulan Desember jadi. Tunggu cerita berikutnya ya :)
Pacitan is very beautiful!!! Tidak ada salahnya anda-anda memasukkan Pacitan sebagai salah satu tujuan berwisata.
Saya-Mbak Suli-Mbak Puji-Mbak Kandy (Dari Kiri ke Kanan)
Padahal udah bawa baju ganti buat nyemplung. Tapi tragedi dicemplungin datang duluan.
Sekedar tips, kalau mau ke Pacitan pastikan anda membawa driver yang lihai, mengingat medannya yang cukup curam, berkelok-kelok, sempit, dan terjal. Tapi terbayar kok rasa capek di jalan dengan suguhan pemandangan yang eksotis. Bawa makanan dan minuman yang banyak juga disarankan karena tidak banyak penjual di Watu Karung, bahkan kami tidak menjumpai saat berkunjung (kami beranggapan sudah terlalu siang nyampe sehingga penjual udah pada tutup). Tetep waspada juga dengan ombak di Pantai ini, meskipun tidak sebesar ombak di Klayar. Oh ya, menurut saya sih, berlibur ke Pacitan tidak cukup sehari karena denger-denger masih banyak pantai yang indah.

Cukup sekian dari saya, terimakasiiih sudah menyimak. Have a great day ppl \o/

Sunday, September 7, 2014

KABUR KE PACITAN (1)

Haloo semua ^^
Pingin posting sesuatu tapi gak punya bahan, dan akhirnya saya memutuskan berbagi cerita sekelumit tentang Pacitan.
Sebenernya kaburnya ini udah lama dan dilakukan bareng-bareng temen kantor. Jadi, waktu itu ada liburan kecepit karena ada event nasional. Pada mau pulang kok ya nanggung, tapi berdiam diri di Madiun juga bukan merupakan pilihan yang tepat. So, its time to explore Madiun dan sekitarnya. Pilihan jatuh ke PACITAN. Jauh sih sebenernya dari Madiun, tapi mumpung perjalanannya dimulai dari Madiun, jadi yuuk langsung kabuur. Dibandingin kalau perjalanannya dari Sidoarjo atau Surabaya hayoo, mending dari Madiun kan.hehehe. Sehari sebelumnya kita mulai browsing deh tempat mana yang bakalan kita kunjungi selama sehari di Pacitan. Estimasi sudah dirancang, realisasinya meleset ciiint *pake istilahnya pak OO kalau bikin estimasi dan realisasi Laba Rugi hahaha

Fyi, per orang ngeluarin dana 50k untuk kabur ke Pacitan ini. Buat beli bensin sama makan disana. Alhamdulillah, pak manajer ngasih ijin kami buat bawa 2 mobil kantor. Jadi lebih iriit deh XD

Sebelumnya sudah disepakati kita kumpul di kantor jam 05.30, dan lagi-lagi realisasinya jam 6.00 belum ada yang nongol. Akhirnya saya tinggal deh nyari sesuatu yang bisa dimakan ke alun-alun. Pas balik ternyata udah 4 orang yang datang. Jam 07.00 deh baru berangkat dari kantor dan nyampe Pacitan sekitar pukul 10.30, agak lama sih, soalnya kita juga berhenti-henti mampir ind*maret dan nanya sana-sini. Padahal Beny udah maksimal banget nyetirnya, sampe mbak kandy mabok darat.

Berhenti dulu, tengok udara luar

Tujuan pertama kita adalah KLAYAR. Perjalan menuju klayar dipenuhi kekaguman kita sepanjang jalan dan bolak-balik ngeri juga sih, tikungan dan lebar jalannya, wow banget pokoknya. Untunglah ada Beny yang magang kuliahnya dulu di PO M*ra dan Sumb*r Sel*m*t hahahhaha. Becanda kalau ini.

Tadaaa...finally nyampe pantai Klayar. Sampai di klayar bukannya langsung nyemplung ke pantai, malah langsung ngemper nyari makan, pada lapar setelah menempuh perjalanan yang wow sekali. Harga makanan di area Pantai Klayar standar tempat wisata. Jangan lupa pesen es kelapa muda atau es degannya sekalian lho, biar lebih berasa dipantai.
Parkiran Pantai Klayar
Lafaar
Selesai makan, baru deh main sampe gosong. Waktu kami datang, suasana Pantai Klayar masih sepi. Kami datang pas panas-panasnya >.< tapi kan udah nyampe sini, gak mau dong nyia-nyiain kesempatan. Kalau dibandingkan dengan destinasi berikutnya, pantai Klayar ini termasuk ramai pengunjungnya, banyak yang jualan makanan pula. Rencananya mau nyebur kami urungkan, ganti rencana nyeburnya di destinasi berikutnya aja. Pantai Klayar ini BAGUS BANGET deh, gak kalah kok sama pantai-pantai di Lombok. Berikut hasil dokumentasi kami :)
Saya suka warna langitnya :)


Nah, di Pantai Klayar ini ada spot yang unik banget. Ada batu yang besar banget dan menuju kesana sebenernya harus sama guidenya, tapi saya dan beberapa teman ketinggalan, karena asik foto-foto dulu, akhirnya kami menuju ke batu gede sendiri. Nah, uniknya lagi disana kan ombaknya gede banget tuh, di batu itu ada air yang nyembur kalau pas ombaknya kenceng. Pas pertama kali liat sih saya kaget, soalnya lagi asik-asik lewat eh, ada air muncul kayar air mancur gitu. Sayangnya gak terabadikan air mancur tsb, yang ada muka saya pas kaget yang dipoto *.*

FYI, agak waspada ya di area ini, soalnya ombaknya bener-bener kenceng





Sekitar Pukul 13.00 kita meninggalkan Pantai Klayar, menuju ke destinasi berikutnya. Nah, destinasi berikutnya ini tidak kalau heboh perjalanan menuju tempat tersebut, malah lebih heboh.
Secara keseluruhan sih saya puas banget di Pantai Klayar. Selain disuguhkan keindahan alamnya yang ciamik, disitu tersedia fasilitas umum yang memadai. Sepanjang tepi pantai banyak penjual makanan, tersedia toilet umum yang lumayan bersih, dan pantainya lumayan bersih juga. Semoga aja tetep bersih sampai nanti. Pantai Klayar ini cocok untuk liburan keluarga maupun dengan pasangan :p
Tips aja nih, jangan sampai kehabisan duit disana karena kemarin kami tidak menjumpai ATM yang deket dengan wisata pantai Klayar ini, jadi tarik tunai di kota dulu ya buat jaga-jaga.
Harapan saya sih, semoga sekitar Pantai Klayar ini mulai dibangun motel atau hotel yang memadai. Agak jauh soalnya kalau mau ke kota buat cari ke penginapan.
Okee, cukup sekian dan terimakasih sudah menyimak. Tunggu cerita berikutnya ya :D

Friday, September 5, 2014

Katanya

Kata peribahasa, jadilah seperti padi, semakin berisi maka semakin menunduk. Berat sama dipikul ringan sama dijinjing. Pada kenyataannya, saya pernah disuatu lingkungan yang tidak berfungsi lagi makna peribahasa itu. Yang ada harusnya ia sudah menjadi padi yang matang dan berisi, tapi kenyataan sebaliknya. Yang harusnya dilingkungan itu senang bersama, sedih bersama, eeh malah "itu urusanmu ya urusin sendiri". Ataukah saya yang terlalu idealis? Mungkin karena saya pernah dilingkungan dimana seperti padi yang semakin berisi ia semakin menunduk dan dimana berat sama dipikul ringan sama dijinjing, saya merasa di Indonesia masih ada kok orang-orang seperti itu dan saya pingin banget bisa seperti mereka.
Kalau paham kenapa sih nggak mau ngasih tau? Kalau bisanya menuntut orang lain harus sempurna, tapi kenapa begitu dituntut balik hanya untuk membayar denda keterlambatan (contohnya) kagak mau? Bagaimana saya harus respect kepada anda kalau sikap anda sendiri menurut saya belum bisa dijadikan panutan? Katanya respect to other, tapi cuma pingin tahu semuanya kelar dan beres, kalau ada yang salah marah tanpa pingin tahu apa sih yang membuat kerjaan itu salah. Curcol banget ya saya hahahaha. 

Jangan sampai katanya peribahasa itu hanya tinggal katanya doang tanpa ada realisasinya. Menurut saya sih ya, sehebat dan sekeren apapun seseorang tetapi kalau attitude gak bagus sih menurut saya nothing :)
Keep fighting deh teman-teman disana :) Mari menjadi pribadi yang lebih baik.

Sawang Sinawang

Rumput tetangga tampak lebih hijau. Mungkin bukan saya saja yang pernah merasakan ini. Lihat si A dapet kerjaan mapan dan sesuai yang dia harapkan, trus bentar lagi nikah *eeey ini sirik banget saya hahaha. Si B juga gak kalah keren, dapat kerjaannya cepet bin mapan, tapi hobinya tetep bisa jalan, travelling kesana kemari, belanja apa aja yang dia mau *envy lagi. Si C terbang ke negara lain dapet beasiswa bergengsi *tetep envy, dan masih banyak contohnya lagi. Kok ya rasa-rasanya hidup saya penuh dengan ke-envy an. LOL. Begitu saya mendongak, wiiih, enak bener kehidupan si ini, si itu. Kemudian saya jadi meraba-raba diri sendiri, kok hidup saya gini-gini banget ya? Rasa-rasanya semuanya sudah mencapai apa yang mereka impikan, tapi saya masih disini-sini saja. Kalau ada yang mengalami kayak saya, hore banget ya, berarti saya gak sendirian XD

Terkadang, apa yang kita lihat tak selamanya benar seperti itu. Ada yang menurut kita si D udah enak banget deh kehidupannya, tapi kita juga gak tau kan sebenernya dia menikmati itu apa gak. Bisa jadi, si D merasa itu bukanlah pencapainnya yang sesungguhnya, melainkan karena tuntutan bla bla bla. Terkadang saya berpikir, belum tentu juga orang lain tidak iri dengan diri kita, kita aja yang gak tau. Mungkin menurut kita, hal yang udah kita lakuin itu biasa-biasa saja, tapi bisa saja orang lain merasa itu awesome (sedikit menghibur diri). Nah, itu dia yang namanya sawang sinawang. Bahkan kadang saya berpikir, ya Allah enak banget ya si E, si F, si G dan lain-lainnya, tapi saya lupa bersyukur atas karunia-Nya kepada saya selama ini.

Kalau kata Rando Kim sih gini, "Setiap bunga akan mekar ketika saatnya tiba, forsythia, kamelia, dan bunga-bunga lain. Bebungaan itu tahu kapan mereka akan mekar, tidak seperti kebanyakan dari kita yang selalu ingin mendahului yang lain. Apakah kamu merasa tertinggal dari teman-temanmu? Apakah kamu merasa telah menyia-yiakan waktu sementara teman-temanmu mulai melangkah menuju kesuksesan? Jika kamu berpikir demikian, ingatlah bahwa kamu memiliki masa mekarmu sendiri, begitu juga dengan teman-temanmu. Musimmu belum datang. Namun, ia pasti akan datang ketika kuncupmu terbuka. Mungkin kuncup itu mekar lebih lama dari yang lain, tetapi ketika sampai pada waktunya, kamu akan mekar dengan begitu indah dan menawan seperti bebungaan lain yang telah mekar sebelum dirimu. Jadi, angkatlah kepalamu dan bersiaplah menyambut musimmu. Ingat, kamu begitu menakjubkan!"
Iyaa, saya sangat merasa itu, saya yang masih mengejar impian. Jadi menggalau gini, hahahaha. Setidaknya kalimat dari Rando Kim berasa suntikan semangat \o/ Bismillah, kita akan punya musim sendiri untuk mekar :)

Saturday, May 17, 2014

Tell Me Your Wish

Sama seperti judul salah satu lagu SNSD "tell me your wish", kali ini saya akan bercerita tentang suatu tempat untuk mengutarakan harapan anda, tempat tersebut di Lombok. Tidak jauh dari kota Mataram. Letaknya dekat dengan Pantai Loang Baloq.

Paris memiliki suatu tempat, yaitu jembatan yang melintasi sungai Seine. Sepanjang jembatan tersebut tersemat beribu-ribu gembok cinta. Pasangan-pasangan dari berbagai penjuru dunia menyematkan gembok cinta mereka dan berharap kelak cinta mereka abadi. Tidak hanya di Paris, di Korea Selatan, tepatnya di Namsan Tower, juga terdapat tempat khusus untuk menyematkan gembok cinta. Apa sih hubungannya dengan suatu tempat di Lombok yang sekilas saya ceritakan di awal? Sebenernya sih gak nyambung-nyambung amat, tapi ada benang merahnya, yaitu sama-sama tempat untuk mengutarakan/meletakkan harapan. *maksa ya? ^_^v

Namanya makam Loang Baloq. Tenang, saya tidak bermaksud cerita hal-hal menyeramkan. Berdasarkan papan info di makam terbut, makam tersebut adalah makam Maulana Syekh Gaus Abdurrazak. Waktu saya kesana ramai banget deh makamnya. Tujuan utama saya adalah ke pantai Loang Baloq, eh kok keramaian makam ini membuat saya penasaran, dan berujung saya mampir bentar.

Emang sih, jauh beda sama di Paris sama di Korsel sono yang hawa-hawanya romantis, kalau di makam Loang Baloq sini suasananya panaas.kekeke. Depannya udah pantai sih. Katanya, orang-orang yang ziarah ke makam ini banyak yang mengutarakan harapannya, harapan apa saja, dari jodoh, kesehatan, rizki, dll. Yang membuat unik adalah setelah anda menyematkan harapan-harapan anda bukan melalui gembok, melainkan melalui plastik. Yup, plastik. Plastik apa saja. Saya belum sempet nanya juga kenapa memakai plastk. Ada yang memakai sedotan, plastik bungkus makanana, kantong plastik. Tapi mereka memotong plastik-plastik itu menjadi kecil-kecil, bukan plastik gede langsung diiket -___- Plastik tersebut diikat dibatang dan akar-akar sebuah pohon besar ditengah wilayah makam.





Unik kan? kalau di luar negeri pada pake gembok, di Indonesia pake plastik. Kabarnya sih karena udah terlalu banyak plastik yang disematkan, pemerintah setempat mulai membatasi penggunaan plastik. Yah, kita lihat saja seperti apa kedepannya. Siapa tau saya ada rejeki mampir ke Lombok lagi, semoga bisa menengok lagi Loang Baloq ini. Jika harapan anda sudah terwujud, katanya sih anda harus melepaskan ikatan di pohon tersebut. Penasaran kah? Silakan berkunjung :)

Tempat-tempat tersebut, seperti di Loang Baloq, Namsan Tower, jembatan sungai Sein, merupakan tempat untuk mengutarakan impian atau harapan. Tempat-tempat tersebut mempunyai magnet terndiri bagi pengunjungnya. Mereka datang dengan harapan masing-masing. Yeah, come here and tell me your wish ;)