Friday, July 29, 2016

Cerita Bapak

Saya merasa menjadi anak wedok paling beruntung karena punya bapak yang masih belum bosan memberikan nasehat. Meskipun kadang saya salah pengertian, kadang saya mikirnya bapak lagi ngomel ke saya :p

Saya beruntung menjadi putri beliau, salah satunya adalah karena saya merasa bapak seperti kamus berjalan saya. Meskipun sering juga bapak akan menyodorkan buku biar saya baca sendiri hehe. Menurut bapak, apa yang dibaca sendiri akan lebih melekat diingatan daripada daripada lewat lisan (padahal dikasus lainnya ada anak yang lebih mudah mengingat dari apa yang dia dengar). Aslinya saya aja sih yang males baca haha.

Kali ini saya akan cerita tentang salah satu nasehat bapak. Begini nasehatnya,

Permasalahan di dunia ini bukan soal cepat atau lambat saja. Tapi yang penting bisa memaknainya dan tetap husnudzan, percaya bahwa segala hal ada maknanya. Jangan marah-marah dulu dan kecewa. Ya meskipun manusia cenderung sukanya marah-marah dahulu.

Bapak lanjut bercerita,
Rombongan SMP X mau karyawisata ke Jogjakarta. Mereka naik bus dari Sidoarjo ke Jogja. Di perjalanan (masih daerah Jawa Tengah), ban bus pecah, sehingga perjalanan terhambat karena harus ganti ban. Beberapa ada yang kecewa karena insiden ban pecah tersebut. Bahkan ada yang menyalahkan panitia tidak bisa milih bus yang bagus. Ternyata saat itu juga terjadi gempa Jogja (tahun 2006) yang meluluhlantakkan Jogjakarta. Coba bus tersebut sudah sampai Jogja, apa yang terjadi? Belum tentu mereka selamat dari gempa. Bisa jadi lewat insiden ban bus pecah adalah cara Allah menyelamatkan mereka.

Lanjutannya,
Ada cerita lagi. Si A kuliah di IPB. Karena suatu hal, si A tidak bisa lulus cepat seperti teman lainnya, tetapi si A mengejar ketinggalannya di kesempatan berikutnya. Apa yang terjadi? Si A menjadi lulusan terbaik. Andaikan dia lulus bareng teman-temannya, dia nggak jadi lulusan terbaik lho. Dan setelah itu dia mendapat tawaran kerja di tempat yang diidam-idamkan banyak orang.
Selalu ada hal yang tidak dimengerti manusia. Tetapi akan makna dibalik semua yang biasanya bikin jengkel. Jadi nggak usah grusah-grusuh (baca: cepet-cepetan), dijalani saja dengan sebaik-baiknya.

Nasehat Bapak masih banyak yang pingin saya bagi disini. Selagi masih ingat, saya ingin menyimpannya melalui tulisan-tulisan disini, tapi dasarnya saya aja yang suka males nulis hehe. Semoga saya jadi rajin update blog ini.

ZOOTOPIA: Secuil Review

Ada satu film yang ceritanya sederhana, tetapi bermakna, yaitu Zootopia.
Zootopia menceritakan tentang seekor kelinci, Judy Hopps, yang mempunya cita-cita menjadi polisi (saya lupa istilah polisi difilm tersebut). Orang tua Judy pada awalnya ingin Judy mengikuti jejak kedua orang tuanya sebagai penjual wortel, tetapi orang tua Judy akhirnya mendukung impian Judy.


Judy adalah seekor kelinci yang pada awalnya diragukan kemampuannya di kantor kepolisian di Zootopia, tetapi dengan effort-nya yang tinggi dia berhasil membuktikan bahwa dia bisa.
Oh ya, saya jadi suka banget dengan soundtrack zootopia ini.

Ada satu bagian yang favorit banget dari film ini.

source of this image

Hidup itu tak semudah kita mengedipkan mata. Kita punya keterbatasan yang terkadang membuat kita berbuat kesalahan. Terkadang orang lain terlalu menutup mata dengan keterbatasan kita, atau bisa dibilang maunya melihat kita menjadi sosok yang sempurna. Dan itu melelahkan, bukan? Karena kita hanyalah manusia dengan segala keterbatasan yang progres kehidupannya berbeda-beda.

Saya pernah merasa bahwa frase "be your self'" itu sendiri tak sesederhana dan semudah saat menggembar-gemborkannya. Setelah beberapa kali blogwalking dan membaca sebuah buku, saya terinspirasi bagaimana menjalani usia seperempat abad agar lebih mature dan lebih memaknai serta menerapkan "be your self'" itu sendiri. Mungkin saya akan bercerita dilain kesempatan.

Jangan lupa senyum hari ini :)

POSTCARD

Halo semua,

Saya mempunyai kegemaran yang bisa dibilang udah nggak kekinian banget lah, karena ini eranya social media. Era dimana berkirim pesan sungguh sangatlah mudah dan real time. Ada gambar bagus, 'cekrek', kirim via messanger ke orang lain, grup, atau posting di instagram atau path.

Ada satu hal yang masih membuat saya senang, yaitu POSTCARD. Saya suka penasaran dengan tampilan feedjit (live traffic feed), ada yang buka dari kota-kota lain di Indonesia, bahkan ada dari luar negeri (meskipun saya mikirnya pasti orang Indonesia atau bule yang bisa bahasa Indonesia *ge-er karena tulisan saya di blog ini berbahasa Indonesia). Siapa sih yang bersedia membaca tulisan yang masih belum jelas arahnya ini hehe. Andai aja ya mereka mau kiriman postcard dari berbagai daerah.

Saya menyukai postcard sejak SMP. Waktu itu saya hanya suka membeli postcard di toko buku atau ketika sedang diluar kota. Waktu itu saya belum berpikir untuk mengirim postcard kemana gitu. Hingga suatu saat, saat saya sudah menginjak bangku kuliah, saya lupa gegara apa akhirnya ada yang bersedia mengirimkan postcard untuk saya. Waktu itu saya pingin banget bales postcardnya, sayangnya di postcardnya tidak tertera alamat lengkapnya.

Postcard kedua saya dapatkan dari mengikuti giveaway sebuah blog. Saya tidak menang sih, tetapi si pemilik blog baik banget, saya dikirimin sebuah postcard lucu.

Nah, beberapa minggu yang lalu saya akhirnya mengirim postcard untuk pertama kalinya. Awalnya mau kirim pakai perangko, tetapi petugas di kantor pos menyarankan saya tidak pakai perangko karena nanti saya sulit melacak. Bener juga sih, tapi kan seninya ya di perangko itu sendiri. Apalagi postcard pertama yang saya kirim ini ke Jepang. Agak takut juga kalau nggak sampai huhu. Akhirnya saya nurut aja sih sama mas petugas kantor posnya.

Kabar baiknya, nggak sampai sebulan postcard saya sampai. Uhuii senaaaaaang >.<





Nah, buat siapa aja yang mau berkirim postcard (kartu pos) boleh banget lho kirim ke saya, Insyaallah akan saya balas.

So, to anyone (wherever you are) who want to send a postcard to me, kindly text me through email first to get my address (merufira@gmail.com). I do really appreciate for your kindness sending me a postcard, I'll send you back a postcard too. Thank you :)

Tuesday, July 12, 2016

Reborn

Sebagian orang menggunakan momen tahun baru masehi ataupun hijriah sebagai titik balik mereka untuk menjadi pribadi yang lebih baik, menyusun target-target baru, dan mencoreti target yang sudah tercapai. Saya termasuk sebagian orang lainnya yang menggunakan momentum habisnya Ramadan sebagai titik reborn. Meskipun Ramadan tahun ini saya merasa kurang maksimal (kurang banget).

Semoga saya masih bisa bertemu Ramadan tahun depan dengan kejutan-kejutan lainnya. Dan tentunya saya mulai menyusun harapan-harapan baru yang tidak hanya sebatas harapan, tetapi harus direalisasikan.



Karena ini masih bulan syawal, saya memohon maaf atas segala salah dan khilaf. Semoga kita menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Amiin.

Saturday, July 2, 2016

Dibalik Judul Tugas Akhir

Saya berjanji pada diri saya sendiri untuk segera menuliskan ini setelah tugas akhir rampung. Topik tesis ini sangat jauh dari topik skripsi saya. Agak jauh juga dari konsentrasi jurusan yang saya ambil, tapi masih ada hubungannya, kok. Topik tesis saya tentang leadership.

Hmm...entah anda akan menilai saya seperti apa. Saya menuturkan ini dari kacamata saya dan tentunya beberapa teman merasakan hal yang sama.

Dulu, saat saya memutuskan resign dari tempat kerja pertama, saya terpikirkan untuk mengambil topik penelitian tentang kepemimpinan.
Saat itu saya mulai sering membandingkan tentang kepemimpinan di kantor cabang saya yang lama, dengan yang baru.
Jujur saja, salah satu alasan saya resign adalah karena pimpinannya (bukan alasan yang paling utama dan urgent sih). Saya berpikir mungkin karena ini cabang baru makanya pimpinannya bertindak seperti itu. Tapi, saya berpikir lagi, bukannya ini cabang baru, pimpinannya harus ekstra kerja keras dong untuk membangun cabang. Bukan hanya tugas mereka-mereka saja sih, butuh peranan karyawan juga. Nah, bagaimana cara mereka menggerakkan karyawannya untuk memenuhi tujuan perusahaan?
Tetapi yang saya rasakan saat itu pimpinan tidak saling akur dan saling kompor *curhat dimulai.

Ada beberapa sikap (sebagian besar sikap lebih tepatnya) yang belum bisa saya teladani dari beliau-beliau. Saya membandingkannya dengan pimpinan di kantor cabang lama yang saling mendukung, sinergi, dan kerja samanya yang baik.
Kantor tempat saya bekerja dahulu kala, dipimpin seorang pimpinan cabang, dimana dalam bekerja dibantu oleh manajer operasional dan manajer bisnis. Saat itu saya berada di divisi operasional. Saya masih ingat betul, manajer operasional di kantor cabang lama, mau menunggu saya menyelesaikan pekerjaan hingga diatas jam pulang, dan tentunya ada officer operational yang juga selalu ikut menunggu saya juga kalau kerjaan belum beres. Mereka juga menawarkan bantuan jika saya ada kesulitan. Bahkan, pak manajer selalu menawarkan diri untuk ikut mengisi ATM ketika petugasnya sedang ada tugas lain yang urgent. Tidak hanya itu, morning briefing setiap seminggu sekali dilakukan bersama-sama seluruh kantor untuk sharing apapun.

Lha, di kantor cabang baru (tetap masih di divisi operasional), boro-boro mau menunggu kami lembur, yang ada pulang duluan sebelum jam resmi pulang kantor. Keesokan harinya tinggal marah (dan tidak memberikan solusi) kalau ada salah satu dari kami yang belum menyelesaikan pekerjaan kemarin. Kebetulan juga, karena masih cabang baru yang personelnya belum begitu banyak, saya merangkap menjadi petugas pengisi ATM (untungnya mesin ATMnya baru 1 buah, di depan kantor pula). Nah, pak manajer ini yang ada cuma nanyain saya, "udah selesai isi ATM nya?", disaat aktivitas tersebut sudah selesai dilakukan.
Petuahnya waktu morning briefing sih bermanfaat, tapi entah kenapa saya tidak termotivasi. Yang ada saya dongkol sendiri karena ucapannya tidak sesuai dengan yang dicontohkannya sehari-hari. Saya jadi sering berpikir, mungkin pak manajer ini syok karena berada di cabang baru yang memulai segalanya dari nol. Tetapi, bukannya ini kesempatan beliau untuk show ke kantor pusat bahwa beliau bisa handle masalah di kantor cabang baru yang permasalahannya mati satu tumbuh seribu *karena beliau ingin ditempatkan di kantor pusat. Entahlah, saat itu saya merasa kehilangan panutan. Bahkan, saat pimpinan cabang mengajak untuk morning briefing bersama, beliau memilih untuk morning briefing sendiri bersama tim operasional.

Nah, itu sekelumit cerita pengalaman saat bekerja di perusahaan yang sama, tetapi beda cabang. Mohon maaf kalau ceritanya terkesan menyudutkan dan subyektif. Kembali lagi di awal, kalau cerita ini dari kacamata saya pribadi.

Saat saya resign dan kembali memasuki dunia perkuliahan, saya dihadapkan tugas akhir, yaitu tesis. Sebelum saya mengajukan judul ini kepada kaprodi, judul awal saya tidak disetujui beliau. Saat itu saya menemukan sebuah artikel jurnal tentang turnover karyawan di sebuah perusahaan. Penelitian dari PwC (pricewaterhousecooper) tahun 2014 juga menunjukkan salah satu alasan karyawan keluar dari pekerjaan adalah karena pimpinannya (alasan ini bukan alasan utama, tetapi menjadi salah satu alasan lainnya selain karena mencari upah yang lebih tinggi). Berangkat dari pengalaman pribadi dan menemukan artikel jurnal yang mendukung serta hasil penelitiannya PwC, akhirnya saya mengajukan lagi judul ini kepada kaprodi. Alhamdulillah saat itu langsung diterima tanpa ada diskusi panjang seperti pada pengajuan judul pertama. Jadi, pada intinya tesis saya membahas ada pengaruh nggak sih kepemimpinan kepada kepuasan kerja, komitmen, dan loyalitas. Bagaimana kepemimpinan itu mempengaruhi ketiga variabel lainnya tersebut.

Selain itu, saya rasa, kantor adalah rumah kedua karyawan. Mereka menghabiskan sebagian besar waktunya di kantor. Tentu saja mereka akan mengalami suka duka didalamnya. Nah, peran si pimpinan tidak bisa diacuhkan dong, karena dia yang mengatur karyawannya. Saya rasa karyawan saat ini (tidak semuanya) berpikiran bahwa 'perusahaan sudah menggaji saya, maka saya akan bekerja'. Lebih dari itu, karyawan adalah manusia yang perlu dimanusiakan juga. Karyawan bukan mesin. Karyawan juga ingin didengar pendapatnya. Karyawan juga butuh mengembangkan kemampuan dirinya. Karyawan juga membutuhkan panutan yang tepat. Bagaimana bisa tujuan perusahaan tercapai jika karyawannya banyak yang tidak puas, tidak berkomitmen, tidak loyal. Ingat, rekrutmen juga membutuhkan biaya. Kalau turnover karyawan tinggi, perusahaan butuh waktu dan biaya lagi untuk merekrut orang baru. Belum lagi ada faktor kerahasiaan kantor yang sudah diketahui karyawan yang keluar tersebut. Hal ini akan terasa juga pada bank yang kehilangan karyawan marketing-nya. Apalagi marketing bagian funding yan sudah memiliki nasabah besar. Biasanya kemanapun dia pergi, nasabahnya yang sudah loyal akan ikut juga kemanapun si marketing ini pindah.

Berdasarkan hasil jawaban dari pertanyaan terbuka di kuesioner saya, sebagian besar karyawan di instansi tempat saya penelitian mengatakan bahwa mereka bisa meneladani pimpinannya tidak hanya dari perilaku sehari-hari pimpinannya, tetapi juga dari cerita dan sharing pimpinan tentang permasalahan yang dulu dia hadapi, dan bisa dijadikan jawaban permasalahan karyawannya saat ini. Kembali lagi, hasil penelitian saya belum bisa sepenuhnya digeneralisasi karena ini dilakukan di beberapa tempat. Hasilnya bisa saja berbeda jika dilakuka di instansi lain atau pada instansi yang sama tetapi beda wilayah.

Dari hal-hal tersebut, saya berpikir bahwa peran pemimpin tidak bisa diabaikan. Apalagi generasi Y sekarang ini yang energik dan kebanyakan bukan tipe yang 'manut-manut wae'. Oleh karena itu, topik tentang leadership ini masih bisa dieksplorasi lagi.

Lega karena tugas akhir ini sudah selesai, tetapi sedih juga sih. Moving forward wae lha :)

Sekian cerita saya,
Hati-hati dijalan untuk semuanya yang sedang perjalanan mudik.
Semoga kita jadi pribadi yang lebih baik dari hari kemarin.
Jangan lupa senyum hari ini :)
*terinspirasi dari manji

Monday, May 23, 2016

Jalan-jalan ke Depo Pasar Ikan Sidoarjo

Kalau mau jalan-jalan ke Sidoarjo enaknya kemana?
Sering bingung kalau ditanya kalau ke Sidoarjo enaknya kemana.

Saya ada usul. Kalau ke Sidoarjo ke Depo Pasar Ikan yuk!
Apa? Pasar ikan? Ya, benar.
Sebagai arek darjo asli (lahir di Sidoarjo, bahkan ibu dan bapak juga asli Sidoarjo) harus pernah dong mengeksplorasi tempat-tempat seperti ini, biar tidak dipertanyakan ke-Sidoarjo-annya.
Suatu hari ada teman datang dari kota lain ke Sidoarjo, saya sebagai arek darjo bingung juga mau ngajak jalan kemana. Akhirnya saat itu saya mengajaknya ke Sentra Tas Tanggulangin dan ke Indah Bordir. hehehe. Fyi, Indah Bordir itu salah satu 'surga' belanja pakaian wanita dan pria (mungkin lebih tepat bagi wanita). Benar saja, teman saya pingin diajak lagi kesini padahal dia udah borong beberapa potong baju.

Duh, ngelantur. Kembali lagi ke Depo Pasar Ikan.
Dimana tempatnya? Jalan Lingkar Timur, Sidoarjo. Berada di km berapanya saya juga tidak hafal, browsing sana sini belum nemunya juga sama, hanya beralamatkan di jalan lingkar timur.
Saya sudah kesana baru dua kali ini, biasanya hanya saya lalui saja dan lingkar timur ini termasuk jalan yang jarang saya lalui. Hanya saja dua kali kemarin dari mengantar adik ke Juanda, karena masih pagi (kira-kira jam 06.00) akhirnya saya memutuskan lewat bawah (tidak lewat tol), lalu mampir kesini deh.

Pertama kali datang langsung excited. Mungkin waktu itu pas hari libur panjang, Depo Pasar Ikan nampak ramai pengunjung dan senangnya lagi pas musim berbagai ikan (kedatangan saya yang kedua ikan-ikannya tidak seberagam pas pertama kali datang).

Langsung saja deh saya dan ibu pilih-pilih ikan sampai bingung mau beli ikan apa. Ada kakap (kakap merah, kakap sirip kuning), ikan patin (ini asli tumpah ruah banget), ikan bandeng (apalagi ini, stoknya never ending), ikan gabus, cumi-cumi, udang, ikan gurami, ikan cucut, kepiting, ikan pindang, dan masih banyak lagi. Akhirnya kami cuma beli ikan patin sama pindang (ukurannya masih utuh, biasanya kalau beli kan udah di iris kecil-kecil). Yang tambah seneng lagi nih penjual ikannya juga menyediakan jasa membersihkan ikan (membersihkan isi perut ikan) dan memotong-motong ikan sesuai permintaan kita inginnya dipotong seperti apa dan menjadi berapa potong).





Coba lihat foto di bawah ini, ini ikan patin yang melimpah ruah. Ini baru satu penjual lho, masih banyak penjual lainnya.


Akhirnya kami membeli ikan patin dan pindang. Sampai rumah langsung praktek memasak setelah mendapat resep dari salah satu ibu-ibu pengunjung di Depo Pasar ikan. Ikan pindangnya dimasak menjadi Mangut. Asli enak banget (apalagi masakannya ibu, the master chef  di rumah kami)

Tak sempat plating yang cantik, langsung santap karena lapar :p


Harga ikan pindang saat itu (7 Mei 2016) 25.000/kg dan harga ikan patinnya lupa.
Ikan pindangnya ini dimasak mangut dengan mencampurkan daun kemangi ke masakan. Jujur saja, saya suka berabagai sayur (bahkan yang pahit pun seperti daun pepaya dan bunga turi) tetapi tidak untuk daun kemangi. Mungkin gegara baunya sih. Sebelum-sebelumnya tiap membeli penyetan, daun kemanginya akan saya gunakan untuk cuci tangan. Daun kemangi saya masukkan ke wadah yang terisi air (kobokan), lalu dibuat untuk cuci tangan biar tangan tidak bau amis lagi. Itu dulu, setelah makan Mangut ini saya jadi suka daun kemangi.


Kedatangan saya yang kedua ke Depo Pasar Ikan ini tidak menjumpai ikan yang beragam. Mungkin sedang tidak musim. Kami kesulitan mencari penjual yang ada ikan pindang. Kami hanya menemukan 1 penjual, itu pun ikan pindang nya kecil-kecil, harganya 30.000/kg. Akhirnya kami beli ikan pindang (lagi) dan ikan kakap sirip kuning. Ikan kakap yang satu ini harganya 40.000/kg.
Nah, di Depo Pasar Ikan ini ada tempat lelang ikan juga. Jadi ada bangunan lagi yang letaknya agak kedepan. Disini tempat jual-beli ikan dalam skala besar. Sepertinya restoran-restoran yang menjual seafood belinya disini.

Ikan kakap sirip kuning yang bawah

Ikan kakap sirip kuningnya ini kami bakar disana karena ada jasa pembakar ikan juga. Seru kan, ada jasa bakar ikan juga. Ikan milik kami akan dibersihkan oleh mereka dan dibakar sudah dengan bumbu yang mereka sediakan. Pulangnya akan ditambah sambal tomat (ada yang pedas dan tidak pedas). Jasa bakar ikan ini harganya 15.000/kg. Jadi lebih baik anda tidak hanya bakar 1 ikan (yang mungkin beratnya tidak sampai 1kg, meskipun harganya juga mengikuti, misalnya hanya 8 ons makanya harganya tidak sampai 15,000). Mengapa? Karena antre-nya lama. Jasa bakar ikan ini hanya ada 1 disana (kesempatan buat yang mau buka usaha bakar ikan juga :p), rugi sama nunggunya kalau cuma bakar 1 ikan.


Nah, kalau mau sekalian santap disana juga bisa. Jasa bakar ikan ini juga menyediakan nasi dan lalapan, cocok untuk yang lagi lapar banget karena nunggu antre hehe.

Saya lupa tidak tanya salah satu penjual disana jam tutupnya Depo Pasar Ikan ini. Kalau bukanya sih, dari jam 05.00 penjualnya sudah berdatangan. Kebetulan dua kali saya kesana sekitar jam 06.30-07.00 dimana jam segitu sudah banyak pembelinya.
Satu lagi, mengingat ini Depo Pasar Ikan, kalau ada Ikan adaaa? Kucing. Yes, disini juga bertebaran kucing. Tapi kucing disini sepertinya sudah bosan dengan ikan, mereka cuma duduk-duduk kadang mondar-mandir tapi saya tidak menemukan mereka makan ikan.

Kalau ke Sidoarjo jangan lupa mampir ke Depo Pasar Ikan ya! Sekalian ikut mensukseskan program jatim makan ikan.




Disclaimer:
Tulisan ini murni ingin mengenalkan Depo Pasar Ikan ke masayarakat luas.

Sunday, May 22, 2016

Ranting-ranting



yang patah tumbuh, yang hilang berganti
Yang hancur lebur akan terobati
Yang sia-sia akan jadi makna
Yang terus berulang suatu saat henti
Yang pernah jatuh ‘kan berdiri lagi
Yang patah tumbuh, yang hilang berganti

(Banda Neira)




Kalau dirasa-rasa, kehidupan ini seperti ranting-ranting pohon. Ada masa dimana daunnya semi, ada masanya berguguran. Satu batang, bisa bercabang-cabang. Satu cabang memiliki banyak ranting. Diibaratkan masalah, tidak hanya satu masalah yang dihadapi. Selalu ada hambatan dan rintangan. Diibaratkan rezeki, juga selalu datang dari pintu mana saja dan bisa datang dari jalan tak terduga-duga. Diibaratkan pilihan, akan selalu ada berbagai kombinasi pilihan. Diibaratkan menjalani kehidupan, rasa-rasanya sudah melewati jalan ini itu tetapi belum menemukan ujung, bahkan terlihat ruwet, tapi teringat lagi pada ranting- ranting pohon, memang ada banyak ranting, tapi tetap ada ujungnya kok.