Tuesday, July 12, 2016

Reborn

Sebagian orang menggunakan momen tahun baru masehi ataupun hijriah sebagai titik balik mereka untuk menjadi pribadi yang lebih baik, menyusun target-target baru, dan mencoreti target yang sudah tercapai. Saya termasuk sebagian orang lainnya yang menggunakan momentum habisnya Ramadan sebagai titik reborn. Meskipun Ramadan tahun ini saya merasa kurang maksimal (kurang banget).

Semoga saya masih bisa bertemu Ramadan tahun depan dengan kejutan-kejutan lainnya. Dan tentunya saya mulai menyusun harapan-harapan baru yang tidak hanya sebatas harapan, tetapi harus direalisasikan.



Karena ini masih bulan syawal, saya memohon maaf atas segala salah dan khilaf. Semoga kita menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Amiin.

Saturday, July 2, 2016

Dibalik Judul Tugas Akhir

Saya berjanji pada diri saya sendiri untuk segera menuliskan ini setelah tugas akhir rampung. Topik tesis ini sangat jauh dari topik skripsi saya. Agak jauh juga dari konsentrasi jurusan yang saya ambil, tapi masih ada hubungannya, kok. Topik tesis saya tentang leadership.

Hmm...entah anda akan menilai saya seperti apa. Saya menuturkan ini dari kacamata saya dan tentunya beberapa teman merasakan hal yang sama.

Dulu, saat saya memutuskan resign dari tempat kerja pertama, saya terpikirkan untuk mengambil topik penelitian tentang kepemimpinan.
Saat itu saya mulai sering membandingkan tentang kepemimpinan di kantor cabang saya yang lama, dengan yang baru.
Jujur saja, salah satu alasan saya resign adalah karena pimpinannya (bukan alasan yang paling utama dan urgent sih). Saya berpikir mungkin karena ini cabang baru makanya pimpinannya bertindak seperti itu. Tapi, saya berpikir lagi, bukannya ini cabang baru, pimpinannya harus ekstra kerja keras dong untuk membangun cabang. Bukan hanya tugas mereka-mereka saja sih, butuh peranan karyawan juga. Nah, bagaimana cara mereka menggerakkan karyawannya untuk memenuhi tujuan perusahaan?
Tetapi yang saya rasakan saat itu pimpinan tidak saling akur dan saling kompor *curhat dimulai.

Ada beberapa sikap (sebagian besar sikap lebih tepatnya) yang belum bisa saya teladani dari beliau-beliau. Saya membandingkannya dengan pimpinan di kantor cabang lama yang saling mendukung, sinergi, dan kerja samanya yang baik.
Kantor tempat saya bekerja dahulu kala, dipimpin seorang pimpinan cabang, dimana dalam bekerja dibantu oleh manajer operasional dan manajer bisnis. Saat itu saya berada di divisi operasional. Saya masih ingat betul, manajer operasional di kantor cabang lama, mau menunggu saya menyelesaikan pekerjaan hingga diatas jam pulang, dan tentunya ada officer operational yang juga selalu ikut menunggu saya juga kalau kerjaan belum beres. Mereka juga menawarkan bantuan jika saya ada kesulitan. Bahkan, pak manajer selalu menawarkan diri untuk ikut mengisi ATM ketika petugasnya sedang ada tugas lain yang urgent. Tidak hanya itu, morning briefing setiap seminggu sekali dilakukan bersama-sama seluruh kantor untuk sharing apapun.

Lha, di kantor cabang baru (tetap masih di divisi operasional), boro-boro mau menunggu kami lembur, yang ada pulang duluan sebelum jam resmi pulang kantor. Keesokan harinya tinggal marah (dan tidak memberikan solusi) kalau ada salah satu dari kami yang belum menyelesaikan pekerjaan kemarin. Kebetulan juga, karena masih cabang baru yang personelnya belum begitu banyak, saya merangkap menjadi petugas pengisi ATM (untungnya mesin ATMnya baru 1 buah, di depan kantor pula). Nah, pak manajer ini yang ada cuma nanyain saya, "udah selesai isi ATM nya?", disaat aktivitas tersebut sudah selesai dilakukan.
Petuahnya waktu morning briefing sih bermanfaat, tapi entah kenapa saya tidak termotivasi. Yang ada saya dongkol sendiri karena ucapannya tidak sesuai dengan yang dicontohkannya sehari-hari. Saya jadi sering berpikir, mungkin pak manajer ini syok karena berada di cabang baru yang memulai segalanya dari nol. Tetapi, bukannya ini kesempatan beliau untuk show ke kantor pusat bahwa beliau bisa handle masalah di kantor cabang baru yang permasalahannya mati satu tumbuh seribu *karena beliau ingin ditempatkan di kantor pusat. Entahlah, saat itu saya merasa kehilangan panutan. Bahkan, saat pimpinan cabang mengajak untuk morning briefing bersama, beliau memilih untuk morning briefing sendiri bersama tim operasional.

Nah, itu sekelumit cerita pengalaman saat bekerja di perusahaan yang sama, tetapi beda cabang. Mohon maaf kalau ceritanya terkesan menyudutkan dan subyektif. Kembali lagi di awal, kalau cerita ini dari kacamata saya pribadi.

Saat saya resign dan kembali memasuki dunia perkuliahan, saya dihadapkan tugas akhir, yaitu tesis. Sebelum saya mengajukan judul ini kepada kaprodi, judul awal saya tidak disetujui beliau. Saat itu saya menemukan sebuah artikel jurnal tentang turnover karyawan di sebuah perusahaan. Penelitian dari PwC (pricewaterhousecooper) tahun 2014 juga menunjukkan salah satu alasan karyawan keluar dari pekerjaan adalah karena pimpinannya (alasan ini bukan alasan utama, tetapi menjadi salah satu alasan lainnya selain karena mencari upah yang lebih tinggi). Berangkat dari pengalaman pribadi dan menemukan artikel jurnal yang mendukung serta hasil penelitiannya PwC, akhirnya saya mengajukan lagi judul ini kepada kaprodi. Alhamdulillah saat itu langsung diterima tanpa ada diskusi panjang seperti pada pengajuan judul pertama. Jadi, pada intinya tesis saya membahas ada pengaruh nggak sih kepemimpinan kepada kepuasan kerja, komitmen, dan loyalitas. Bagaimana kepemimpinan itu mempengaruhi ketiga variabel lainnya tersebut.

Selain itu, saya rasa, kantor adalah rumah kedua karyawan. Mereka menghabiskan sebagian besar waktunya di kantor. Tentu saja mereka akan mengalami suka duka didalamnya. Nah, peran si pimpinan tidak bisa diacuhkan dong, karena dia yang mengatur karyawannya. Saya rasa karyawan saat ini (tidak semuanya) berpikiran bahwa 'perusahaan sudah menggaji saya, maka saya akan bekerja'. Lebih dari itu, karyawan adalah manusia yang perlu dimanusiakan juga. Karyawan bukan mesin. Karyawan juga ingin didengar pendapatnya. Karyawan juga butuh mengembangkan kemampuan dirinya. Karyawan juga membutuhkan panutan yang tepat. Bagaimana bisa tujuan perusahaan tercapai jika karyawannya banyak yang tidak puas, tidak berkomitmen, tidak loyal. Ingat, rekrutmen juga membutuhkan biaya. Kalau turnover karyawan tinggi, perusahaan butuh waktu dan biaya lagi untuk merekrut orang baru. Belum lagi ada faktor kerahasiaan kantor yang sudah diketahui karyawan yang keluar tersebut. Hal ini akan terasa juga pada bank yang kehilangan karyawan marketing-nya. Apalagi marketing bagian funding yan sudah memiliki nasabah besar. Biasanya kemanapun dia pergi, nasabahnya yang sudah loyal akan ikut juga kemanapun si marketing ini pindah.

Berdasarkan hasil jawaban dari pertanyaan terbuka di kuesioner saya, sebagian besar karyawan di instansi tempat saya penelitian mengatakan bahwa mereka bisa meneladani pimpinannya tidak hanya dari perilaku sehari-hari pimpinannya, tetapi juga dari cerita dan sharing pimpinan tentang permasalahan yang dulu dia hadapi, dan bisa dijadikan jawaban permasalahan karyawannya saat ini. Kembali lagi, hasil penelitian saya belum bisa sepenuhnya digeneralisasi karena ini dilakukan di beberapa tempat. Hasilnya bisa saja berbeda jika dilakuka di instansi lain atau pada instansi yang sama tetapi beda wilayah.

Dari hal-hal tersebut, saya berpikir bahwa peran pemimpin tidak bisa diabaikan. Apalagi generasi Y sekarang ini yang energik dan kebanyakan bukan tipe yang 'manut-manut wae'. Oleh karena itu, topik tentang leadership ini masih bisa dieksplorasi lagi.

Lega karena tugas akhir ini sudah selesai, tetapi sedih juga sih. Moving forward wae lha :)

Sekian cerita saya,
Hati-hati dijalan untuk semuanya yang sedang perjalanan mudik.
Semoga kita jadi pribadi yang lebih baik dari hari kemarin.
Jangan lupa senyum hari ini :)
*terinspirasi dari manji

Monday, May 23, 2016

Jalan-jalan ke Depo Pasar Ikan Sidoarjo

Kalau mau jalan-jalan ke Sidoarjo enaknya kemana?
Sering bingung kalau ditanya kalau ke Sidoarjo enaknya kemana.

Saya ada usul. Kalau ke Sidoarjo ke Depo Pasar Ikan yuk!
Apa? Pasar ikan? Ya, benar.
Sebagai arek darjo asli (lahir di Sidoarjo, bahkan ibu dan bapak juga asli Sidoarjo) harus pernah dong mengeksplorasi tempat-tempat seperti ini, biar tidak dipertanyakan ke-Sidoarjo-annya.
Suatu hari ada teman datang dari kota lain ke Sidoarjo, saya sebagai arek darjo bingung juga mau ngajak jalan kemana. Akhirnya saat itu saya mengajaknya ke Sentra Tas Tanggulangin dan ke Indah Bordir. hehehe. Fyi, Indah Bordir itu salah satu 'surga' belanja pakaian wanita dan pria (mungkin lebih tepat bagi wanita). Benar saja, teman saya pingin diajak lagi kesini padahal dia udah borong beberapa potong baju.

Duh, ngelantur. Kembali lagi ke Depo Pasar Ikan.
Dimana tempatnya? Jalan Lingkar Timur, Sidoarjo. Berada di km berapanya saya juga tidak hafal, browsing sana sini belum nemunya juga sama, hanya beralamatkan di jalan lingkar timur.
Saya sudah kesana baru dua kali ini, biasanya hanya saya lalui saja dan lingkar timur ini termasuk jalan yang jarang saya lalui. Hanya saja dua kali kemarin dari mengantar adik ke Juanda, karena masih pagi (kira-kira jam 06.00) akhirnya saya memutuskan lewat bawah (tidak lewat tol), lalu mampir kesini deh.

Pertama kali datang langsung excited. Mungkin waktu itu pas hari libur panjang, Depo Pasar Ikan nampak ramai pengunjung dan senangnya lagi pas musim berbagai ikan (kedatangan saya yang kedua ikan-ikannya tidak seberagam pas pertama kali datang).

Langsung saja deh saya dan ibu pilih-pilih ikan sampai bingung mau beli ikan apa. Ada kakap (kakap merah, kakap sirip kuning), ikan patin (ini asli tumpah ruah banget), ikan bandeng (apalagi ini, stoknya never ending), ikan gabus, cumi-cumi, udang, ikan gurami, ikan cucut, kepiting, ikan pindang, dan masih banyak lagi. Akhirnya kami cuma beli ikan patin sama pindang (ukurannya masih utuh, biasanya kalau beli kan udah di iris kecil-kecil). Yang tambah seneng lagi nih penjual ikannya juga menyediakan jasa membersihkan ikan (membersihkan isi perut ikan) dan memotong-motong ikan sesuai permintaan kita inginnya dipotong seperti apa dan menjadi berapa potong).





Coba lihat foto di bawah ini, ini ikan patin yang melimpah ruah. Ini baru satu penjual lho, masih banyak penjual lainnya.


Akhirnya kami membeli ikan patin dan pindang. Sampai rumah langsung praktek memasak setelah mendapat resep dari salah satu ibu-ibu pengunjung di Depo Pasar ikan. Ikan pindangnya dimasak menjadi Mangut. Asli enak banget (apalagi masakannya ibu, the master chef  di rumah kami)

Tak sempat plating yang cantik, langsung santap karena lapar :p


Harga ikan pindang saat itu (7 Mei 2016) 25.000/kg dan harga ikan patinnya lupa.
Ikan pindangnya ini dimasak mangut dengan mencampurkan daun kemangi ke masakan. Jujur saja, saya suka berabagai sayur (bahkan yang pahit pun seperti daun pepaya dan bunga turi) tetapi tidak untuk daun kemangi. Mungkin gegara baunya sih. Sebelum-sebelumnya tiap membeli penyetan, daun kemanginya akan saya gunakan untuk cuci tangan. Daun kemangi saya masukkan ke wadah yang terisi air (kobokan), lalu dibuat untuk cuci tangan biar tangan tidak bau amis lagi. Itu dulu, setelah makan Mangut ini saya jadi suka daun kemangi.


Kedatangan saya yang kedua ke Depo Pasar Ikan ini tidak menjumpai ikan yang beragam. Mungkin sedang tidak musim. Kami kesulitan mencari penjual yang ada ikan pindang. Kami hanya menemukan 1 penjual, itu pun ikan pindang nya kecil-kecil, harganya 30.000/kg. Akhirnya kami beli ikan pindang (lagi) dan ikan kakap sirip kuning. Ikan kakap yang satu ini harganya 40.000/kg.
Nah, di Depo Pasar Ikan ini ada tempat lelang ikan juga. Jadi ada bangunan lagi yang letaknya agak kedepan. Disini tempat jual-beli ikan dalam skala besar. Sepertinya restoran-restoran yang menjual seafood belinya disini.

Ikan kakap sirip kuning yang bawah

Ikan kakap sirip kuningnya ini kami bakar disana karena ada jasa pembakar ikan juga. Seru kan, ada jasa bakar ikan juga. Ikan milik kami akan dibersihkan oleh mereka dan dibakar sudah dengan bumbu yang mereka sediakan. Pulangnya akan ditambah sambal tomat (ada yang pedas dan tidak pedas). Jasa bakar ikan ini harganya 15.000/kg. Jadi lebih baik anda tidak hanya bakar 1 ikan (yang mungkin beratnya tidak sampai 1kg, meskipun harganya juga mengikuti, misalnya hanya 8 ons makanya harganya tidak sampai 15,000). Mengapa? Karena antre-nya lama. Jasa bakar ikan ini hanya ada 1 disana (kesempatan buat yang mau buka usaha bakar ikan juga :p), rugi sama nunggunya kalau cuma bakar 1 ikan.


Nah, kalau mau sekalian santap disana juga bisa. Jasa bakar ikan ini juga menyediakan nasi dan lalapan, cocok untuk yang lagi lapar banget karena nunggu antre hehe.

Saya lupa tidak tanya salah satu penjual disana jam tutupnya Depo Pasar Ikan ini. Kalau bukanya sih, dari jam 05.00 penjualnya sudah berdatangan. Kebetulan dua kali saya kesana sekitar jam 06.30-07.00 dimana jam segitu sudah banyak pembelinya.
Satu lagi, mengingat ini Depo Pasar Ikan, kalau ada Ikan adaaa? Kucing. Yes, disini juga bertebaran kucing. Tapi kucing disini sepertinya sudah bosan dengan ikan, mereka cuma duduk-duduk kadang mondar-mandir tapi saya tidak menemukan mereka makan ikan.

Kalau ke Sidoarjo jangan lupa mampir ke Depo Pasar Ikan ya! Sekalian ikut mensukseskan program jatim makan ikan.




Disclaimer:
Tulisan ini murni ingin mengenalkan Depo Pasar Ikan ke masayarakat luas.

Sunday, May 22, 2016

Ranting-ranting



yang patah tumbuh, yang hilang berganti
Yang hancur lebur akan terobati
Yang sia-sia akan jadi makna
Yang terus berulang suatu saat henti
Yang pernah jatuh ‘kan berdiri lagi
Yang patah tumbuh, yang hilang berganti

(Banda Neira)




Kalau dirasa-rasa, kehidupan ini seperti ranting-ranting pohon. Ada masa dimana daunnya semi, ada masanya berguguran. Satu batang, bisa bercabang-cabang. Satu cabang memiliki banyak ranting. Diibaratkan masalah, tidak hanya satu masalah yang dihadapi. Selalu ada hambatan dan rintangan. Diibaratkan rezeki, juga selalu datang dari pintu mana saja dan bisa datang dari jalan tak terduga-duga. Diibaratkan pilihan, akan selalu ada berbagai kombinasi pilihan. Diibaratkan menjalani kehidupan, rasa-rasanya sudah melewati jalan ini itu tetapi belum menemukan ujung, bahkan terlihat ruwet, tapi teringat lagi pada ranting- ranting pohon, memang ada banyak ranting, tapi tetap ada ujungnya kok.  

Friday, May 20, 2016

Problema dengan Detail

Wah, sudah bulan Mei. Sebentar lagi Juni dong, lalu Juli, lalu Agustus dan seterusnya.

Sebenarnya saya beberapa kali mencoba untuk update blog lebih sering lagi, tapi ujung-ujungnya adalah masuk draft.
Kenapa masuk draft? Karena saya menulis terlalu panjang lebar dan membuat saya tidak 'pas' ketika mau publish.
Problema saya dalam menulis (disamping memang pemalas :p) dari dulu sampai sekarang yaitu saya cenderung terlalu detail dalam menceritakan sesuatu.
Ya, saya ingin menulis singkat namun mendalam, tapi selalu gagal.

Saya masih ingat saat masih SD saya suka menulis cerpen. Tapi cerpen tersebut rasanya tidak patut disebut dengan cerita pendek karena saya menulisnya terlalu detail sehingga panjaaang. Misalnya, cerita tentang seorang anak yang selalu juara dikelasnya. Dalam cerpen tersebut saya akan menceritakan detail tentang karakter anak tersebut. Begitu pula dengan hal-hal remeh lainnya, contohnya anak tersebut berangkat sekolah naik sepeda. Saya akan menceritakan mengapa anak tersebut memilih naik sepeda ke rumahnya, sepedanya warna apa, merknya apa, selama perjalanan ke sekolah dia menemukan apa saja di jalan, dan lain sebagainya.
Begitu juga dalam blog ini, ada beberapa cerita yang ujung-ujungnya masuk draft.

Dulu, dalam pelajaran Bahasa Indonesia, pasti seringkali kita disuruh menulis cerita tentang apapun (cerita habis liburan semester, cerita tentang cita-cita, cerita tentang apapun lah). Biasanya adalah kita disuruh menulis cerita dengan ketentuan tertentu, misalnya minimal 1 halaman. Nah, saya pasti tidak akan mengalami kesulitan dalam menulis cerita, bahkan saya bisa menulis hingga bablas melebihi ketentuan. Beberapa teman sering bergumam, "duh, saya nulis apalagi ya?". Saya hanya akan mengerutkan dahi sambil membatin, "ya tulis aja apa yang pingin kamu ceritakan ke bu guru".

Sayangnya sih, semenjak SMP saya jadi malas menulis lagi (nah, kayak gini ini saya sebenernya ngempet gak cerita kenapa malas menulis semenjak SMP). Oke, saya jadi cerita karena ada semacam dorongan saya harus menjelaskan alasan. Semenjak SMP saya lebih keranjingan baca komik dan novel karena punya teman sekelas hobi banget baca komik dan novel yang baik hati banget minjemin koleksi-koleksinya ke saya. Jadi hobi banget tuker-tukeran koleksi buku. Tuh kan, saya jadi menuliskan alasan gak suka nulis lagi padahal dunia gak pingin tahu kenapa saya jadi gak suka menulis saat SMP..

Intinya sih saya pingin belajar menulis minimalis tapi mendalam. Yang penting-penting aja gitu yang ditulis, tapi kadang merasa ada yang kurang kalau tidak menulis detail.
Hmmm..oke, mari mencoba menulis singkat. Dan satu hal yang penting adalah istiqamah menulis (duh, ini kan indikator dalam penelitian saya, kok jadi nongol disini, kenapa juga jari-jari saya ngetik itu).
Kalau begini saya jadi mikir, detail dan bertele-tele (dalam kasus saya) jadi beda tipis deh? :(

Friday, January 1, 2016

Sup Tomat dan Sepatu Basah : A Review

Postingan pertama pada hari pertama di tahun 2016, dengan pertama kali pula posting tentang review buku.

Judul buku ini adalah Sup Tomat & Sepatu Basah, pengarangnya adalah Uki Lukas.
Bisa dibilang ini adalah salah satu buku terbaik yang pernah saya baca. Simple, cool, yet so deep.
Buku ini begitu sederhana, tetapi maknanya mendalam tanpa menggurui yang berlebihan.
Kalau ala-ala juri salah satu ajang pencarian bakat sih gini, "aku sih yes" :p



Bab-bab awal disuguhi pengalaman penulis yang kakinya tidak sengaja tercebur ke panci berisi sup tomat yang akan diikutkan dalam lomba memasak di sekolah. Karena penulis takut perbuatannya diketahui orang lain, penulis diam saja dan mengharuskan ia berbohong bahwa penulis alergi tomat agar tidak memakan sup tersebut.
Hingga bab berikutnya bergulir, penulis bercerita dengan sederhana tentang kehidupan sehari-hari. Bagaimana orang tua seharusnya mengajarkan anaknya agar tidak tamak dari hal kecil, misalnya daat makan di restoran all you can eat.
Penulis juga menuturkan bahwa nama adalah identitas seseorang. Memberikan julukan kepada orang lain belum tentu membuat orang tersebut bahagia atau biasa saja, bisa jadi julukan tersebut dianggap sebagai menunjukkan kelemahan atau kekurangan orang tersebut.
Ada lagi bagian yang menarik yaitu ketika penulis diminta pendapat oleh temannya yang bosan dengan pekerjaannya sekarang ini. Penulis memberikan pendapatnya namun si teman nyatanya belum keluar juga dari pekerjaannya. Semuanya kembali pada masing-masing individu, apakah sebenarnya memang ia ingin 'mengubah nasib' ataukah sebenarnya takut untuk mengubah nasib.

Satu bab yang masih saya ingat adalah tentang impian. Bahwa memang tidak semua mimpi jadi kenyataan, walaupun negitu mimpi tersebut tidak pernah menjadi sia-sia.

Berikut akan saya tampilkan beberapa bagian menarik dari buku ini.







Acknowledge : recommended by my sister and borrowed from her, thanks :D

Thursday, December 31, 2015

2015 : A Review

Halo, Long time no see :D

Hari ini adalah hari terakhir ditahun 2015. Cepet banget 2015 berakhir.

Tahun 2015 menjadi tahun dimana saya melakukan beberapa hal yang sebelumnya belum pernah lakukan. Ada satu hal yang terwujud, saya melakukan satu hal dimana dulu bayangin aja nggak pernah, takut dan ogah-ogahan, tetapi sekitar tahun 2013/2014an kepikiran untuk mencoba hal tersebut, yaitu belajar ngelapak hihihi. Mungkin kalau gak ada partner-nya sampai sekarang pun belum terwujud. Alhamdulillah, akhirnya ngincipin juga suka duka dunia bisnis *ecie bisnis

Kemudian tahun 2015 ini banyak acara yang 'mungkin' seharusnya sudah saya datangi dari jaman dulu. Bisa dikatakan ini adalah wujud kesibukan yang dilakukan dari sosok yang sibuk mencari kesibukan hehe.
Pertama, bisa datang ke konferensinya TEDx Tugu Pahlawan. Asli ini keren. Speaker-nya inspiring sekali, bahkan ada disalah satu sesi saya hampir saja mbrebes mili, lalu mikir, "duh, umur sudah 20 something masih gini-gini aja" :')

Kedua, datang ke munasnya HIPMI. Ini juga kebetulan lihat spanduk dijalan acaranya terbuka untuk umum. Lalu, melihat narasumbernya oke-oke banget dan jarang banget bisa ketemu mereka dalam satu acara. Ada gubernur BI, ketua OJK, Ketua Badan Ekonomi Kreatif, dan CEO Bukalapak. Aslinya pingin datang dihari kedua karena ada Sandiaga Uno, tetapi penyakit mager seketika datang melenyapkan niat baik. Gak apa-apalah, yang penting sudah datang ke sesi hari pertama. Yang inspiring banget sih waktu Pak Triawan Munaf (Ketua Badan Ekonomi Kreatif) dan CEO Bukalapak, rasanya mereka membuat orang lain untuk selalu optimis.

Ketiga, datang ke workshopnya holopis. Workshop-nya bertemakan "Gardening for Dummies". Sempet email panitianya untuk memastikan bahwa acara ini memang tentang tanam-menanam *LOL. Gak tau kenapa waktu itu curious banget sama acara ini. Pas hari H, saya datang agat telat, 15 menitan, eh, ternyata baru 1 orang panitianya aja yang datang. Semakin was-was kan jadinya. Akhirnya muterin dulu galeri biennalle Jatim, lumayan, cuci mata. Akhirnya workshop dimulai 1,5 jam kemudian dari jadwal dan pesertanya yang hadir hanya 2, padahal ada wartawan Jaw* Pos lho bikin liputan -_-
Show must go on dong, acara tetap berlangsung, lalu ada satu peserta lagi datang dan beberapa panitianya ikut nimbrung, jadi kelihatan agak banyakan hehe.
Mulai belajar deh mengenai benih dan mendapatkan benih, lalu acara tanam menanam dimulai.
Pesertanya dikasih buah tangan tanaman yang sudah ditanam tadi. Sampai sekarang masih hidup lho tanaman okranya di rumah, yeay!

by holopis
Apalagi ya?
Oh, ada 1 lagi. Ini yang super nggak nyambung sebenernya dengan pengalaman saya selama ini. Tapi ini menarik. Akhir-akhir ini semakin marak anak muda bikin start up, nah saya anak ekonomi, kudet beginian, diajakin ikut dalam sebuah tim bikin start up. Pertamanya gak mau, tapi mikir lagi ini menarik. Yaa, benar saja, meskipun saya roaming dengan istilah-istilah mereka, tetapi sempat incipin sesi mentoring. Sengaja datang ke sesi mentoring yang general, bukan yang khusus programming. Bingo, lagi-lagi so inspiring sekali. Ada Ko Rolles yang selalu memotivasi dan cerita yang masih inget sampai sekarang tentang telur Colombus, intinya setiap orang bisa melakukan hal-hal yang hebat, tetapi begitu keduluan orang lain, biasanya ada saja yang mencemooh, "gitu doang mah gampang". Nah, kalau gampang, tiap individu memiliki kesempatan yang sama untuk melakukan hal yang hebat, kenapa gak duluan? Kalau kurang jelas, coba googling tentang telur Colombus ini :p
Kemudian ada Ko Yansen pernah bilang gini, kebetulan ada yang mengabadikan kutipannya. "while a lot of people want to be successful, I choose to be useful. I always believe that the world would be a much better place if everyone want to be useful for others. To be successful is always about yourself, but being useful is always about people."
Menurut mereka ini, melalui start up, maka kita bisa membantu banyak orang, memudahkan orang-orang melalui teknologi informasi.


Terimakasih 2015, memberikan kesempatan sekaligus pembelajaran yang seringkali bikin sedih juga XD

Bagaimana dengan 2015 mu?


Selamat tahun baru, semoga 2016 menjadi pribadi yang lebih baik!
Penasaran 2016 bakalan seperti apa ;)