Monday, May 23, 2016

Jalan-jalan ke Depo Pasar Ikan Sidoarjo

Kalau mau jalan-jalan ke Sidoarjo enaknya kemana?
Sering bingung kalau ditanya kalau ke Sidoarjo enaknya kemana.

Saya ada usul. Kalau ke Sidoarjo ke Depo Pasar Ikan yuk!
Apa? Pasar ikan? Ya, benar.
Sebagai arek darjo asli (lahir di Sidoarjo, bahkan ibu dan bapak juga asli Sidoarjo) harus pernah dong mengeksplorasi tempat-tempat seperti ini, biar tidak dipertanyakan ke-Sidoarjo-annya.
Suatu hari ada teman datang dari kota lain ke Sidoarjo, saya sebagai arek darjo bingung juga mau ngajak jalan kemana. Akhirnya saat itu saya mengajaknya ke Sentra Tas Tanggulangin dan ke Indah Bordir. hehehe. Fyi, Indah Bordir itu salah satu 'surga' belanja pakaian wanita dan pria (mungkin lebih tepat bagi wanita). Benar saja, teman saya pingin diajak lagi kesini padahal dia udah borong beberapa potong baju.

Duh, ngelantur. Kembali lagi ke Depo Pasar Ikan.
Dimana tempatnya? Jalan Lingkar Timur, Sidoarjo. Berada di km berapanya saya juga tidak hafal, browsing sana sini belum nemunya juga sama, hanya beralamatkan di jalan lingkar timur.
Saya sudah kesana baru dua kali ini, biasanya hanya saya lalui saja dan lingkar timur ini termasuk jalan yang jarang saya lalui. Hanya saja dua kali kemarin dari mengantar adik ke Juanda, karena masih pagi (kira-kira jam 06.00) akhirnya saya memutuskan lewat bawah (tidak lewat tol), lalu mampir kesini deh.

Pertama kali datang langsung excited. Mungkin waktu itu pas hari libur panjang, Depo Pasar Ikan nampak ramai pengunjung dan senangnya lagi pas musim berbagai ikan (kedatangan saya yang kedua ikan-ikannya tidak seberagam pas pertama kali datang).

Langsung saja deh saya dan ibu pilih-pilih ikan sampai bingung mau beli ikan apa. Ada kakap (kakap merah, kakap sirip kuning), ikan patin (ini asli tumpah ruah banget), ikan bandeng (apalagi ini, stoknya never ending), ikan gabus, cumi-cumi, udang, ikan gurami, ikan cucut, kepiting, ikan pindang, dan masih banyak lagi. Akhirnya kami cuma beli ikan patin sama pindang (ukurannya masih utuh, biasanya kalau beli kan udah di iris kecil-kecil). Yang tambah seneng lagi nih penjual ikannya juga menyediakan jasa membersihkan ikan (membersihkan isi perut ikan) dan memotong-motong ikan sesuai permintaan kita inginnya dipotong seperti apa dan menjadi berapa potong).





Coba lihat foto di bawah ini, ini ikan patin yang melimpah ruah. Ini baru satu penjual lho, masih banyak penjual lainnya.


Akhirnya kami membeli ikan patin dan pindang. Sampai rumah langsung praktek memasak setelah mendapat resep dari salah satu ibu-ibu pengunjung di Depo Pasar ikan. Ikan pindangnya dimasak menjadi Mangut. Asli enak banget (apalagi masakannya ibu, the master chef  di rumah kami)

Tak sempat plating yang cantik, langsung santap karena lapar :p


Harga ikan pindang saat itu (7 Mei 2016) 25.000/kg dan harga ikan patinnya lupa.
Ikan pindangnya ini dimasak mangut dengan mencampurkan daun kemangi ke masakan. Jujur saja, saya suka berabagai sayur (bahkan yang pahit pun seperti daun pepaya dan bunga turi) tetapi tidak untuk daun kemangi. Mungkin gegara baunya sih. Sebelum-sebelumnya tiap membeli penyetan, daun kemanginya akan saya gunakan untuk cuci tangan. Daun kemangi saya masukkan ke wadah yang terisi air (kobokan), lalu dibuat untuk cuci tangan biar tangan tidak bau amis lagi. Itu dulu, setelah makan Mangut ini saya jadi suka daun kemangi.


Kedatangan saya yang kedua ke Depo Pasar Ikan ini tidak menjumpai ikan yang beragam. Mungkin sedang tidak musim. Kami kesulitan mencari penjual yang ada ikan pindang. Kami hanya menemukan 1 penjual, itu pun ikan pindang nya kecil-kecil, harganya 30.000/kg. Akhirnya kami beli ikan pindang (lagi) dan ikan kakap sirip kuning. Ikan kakap yang satu ini harganya 40.000/kg.
Nah, di Depo Pasar Ikan ini ada tempat lelang ikan juga. Jadi ada bangunan lagi yang letaknya agak kedepan. Disini tempat jual-beli ikan dalam skala besar. Sepertinya restoran-restoran yang menjual seafood belinya disini.

Ikan kakap sirip kuning yang bawah

Ikan kakap sirip kuningnya ini kami bakar disana karena ada jasa pembakar ikan juga. Seru kan, ada jasa bakar ikan juga. Ikan milik kami akan dibersihkan oleh mereka dan dibakar sudah dengan bumbu yang mereka sediakan. Pulangnya akan ditambah sambal tomat (ada yang pedas dan tidak pedas). Jasa bakar ikan ini harganya 15.000/kg. Jadi lebih baik anda tidak hanya bakar 1 ikan (yang mungkin beratnya tidak sampai 1kg, meskipun harganya juga mengikuti, misalnya hanya 8 ons makanya harganya tidak sampai 15,000). Mengapa? Karena antre-nya lama. Jasa bakar ikan ini hanya ada 1 disana (kesempatan buat yang mau buka usaha bakar ikan juga :p), rugi sama nunggunya kalau cuma bakar 1 ikan.


Nah, kalau mau sekalian santap disana juga bisa. Jasa bakar ikan ini juga menyediakan nasi dan lalapan, cocok untuk yang lagi lapar banget karena nunggu antre hehe.

Saya lupa tidak tanya salah satu penjual disana jam tutupnya Depo Pasar Ikan ini. Kalau bukanya sih, dari jam 05.00 penjualnya sudah berdatangan. Kebetulan dua kali saya kesana sekitar jam 06.30-07.00 dimana jam segitu sudah banyak pembelinya.
Satu lagi, mengingat ini Depo Pasar Ikan, kalau ada Ikan adaaa? Kucing. Yes, disini juga bertebaran kucing. Tapi kucing disini sepertinya sudah bosan dengan ikan, mereka cuma duduk-duduk kadang mondar-mandir tapi saya tidak menemukan mereka makan ikan.

Kalau ke Sidoarjo jangan lupa mampir ke Depo Pasar Ikan ya! Sekalian ikut mensukseskan program jatim makan ikan.




Disclaimer:
Tulisan ini murni ingin mengenalkan Depo Pasar Ikan ke masayarakat luas.

Sunday, May 22, 2016

Ranting-ranting



yang patah tumbuh, yang hilang berganti
Yang hancur lebur akan terobati
Yang sia-sia akan jadi makna
Yang terus berulang suatu saat henti
Yang pernah jatuh ‘kan berdiri lagi
Yang patah tumbuh, yang hilang berganti

(Banda Neira)




Kalau dirasa-rasa, kehidupan ini seperti ranting-ranting pohon. Ada masa dimana daunnya semi, ada masanya berguguran. Satu batang, bisa bercabang-cabang. Satu cabang memiliki banyak ranting. Diibaratkan masalah, tidak hanya satu masalah yang dihadapi. Selalu ada hambatan dan rintangan. Diibaratkan rezeki, juga selalu datang dari pintu mana saja dan bisa datang dari jalan tak terduga-duga. Diibaratkan pilihan, akan selalu ada berbagai kombinasi pilihan. Diibaratkan menjalani kehidupan, rasa-rasanya sudah melewati jalan ini itu tetapi belum menemukan ujung, bahkan terlihat ruwet, tapi teringat lagi pada ranting- ranting pohon, memang ada banyak ranting, tapi tetap ada ujungnya kok.  

Friday, May 20, 2016

Problema dengan Detail

Wah, sudah bulan Mei. Sebentar lagi Juni dong, lalu Juli, lalu Agustus dan seterusnya.

Sebenarnya saya beberapa kali mencoba untuk update blog lebih sering lagi, tapi ujung-ujungnya adalah masuk draft.
Kenapa masuk draft? Karena saya menulis terlalu panjang lebar dan membuat saya tidak 'pas' ketika mau publish.
Problema saya dalam menulis (disamping memang pemalas :p) dari dulu sampai sekarang yaitu saya cenderung terlalu detail dalam menceritakan sesuatu.
Ya, saya ingin menulis singkat namun mendalam, tapi selalu gagal.

Saya masih ingat saat masih SD saya suka menulis cerpen. Tapi cerpen tersebut rasanya tidak patut disebut dengan cerita pendek karena saya menulisnya terlalu detail sehingga panjaaang. Misalnya, cerita tentang seorang anak yang selalu juara dikelasnya. Dalam cerpen tersebut saya akan menceritakan detail tentang karakter anak tersebut. Begitu pula dengan hal-hal remeh lainnya, contohnya anak tersebut berangkat sekolah naik sepeda. Saya akan menceritakan mengapa anak tersebut memilih naik sepeda ke rumahnya, sepedanya warna apa, merknya apa, selama perjalanan ke sekolah dia menemukan apa saja di jalan, dan lain sebagainya.
Begitu juga dalam blog ini, ada beberapa cerita yang ujung-ujungnya masuk draft.

Dulu, dalam pelajaran Bahasa Indonesia, pasti seringkali kita disuruh menulis cerita tentang apapun (cerita habis liburan semester, cerita tentang cita-cita, cerita tentang apapun lah). Biasanya adalah kita disuruh menulis cerita dengan ketentuan tertentu, misalnya minimal 1 halaman. Nah, saya pasti tidak akan mengalami kesulitan dalam menulis cerita, bahkan saya bisa menulis hingga bablas melebihi ketentuan. Beberapa teman sering bergumam, "duh, saya nulis apalagi ya?". Saya hanya akan mengerutkan dahi sambil membatin, "ya tulis aja apa yang pingin kamu ceritakan ke bu guru".

Sayangnya sih, semenjak SMP saya jadi malas menulis lagi (nah, kayak gini ini saya sebenernya ngempet gak cerita kenapa malas menulis semenjak SMP). Oke, saya jadi cerita karena ada semacam dorongan saya harus menjelaskan alasan. Semenjak SMP saya lebih keranjingan baca komik dan novel karena punya teman sekelas hobi banget baca komik dan novel yang baik hati banget minjemin koleksi-koleksinya ke saya. Jadi hobi banget tuker-tukeran koleksi buku. Tuh kan, saya jadi menuliskan alasan gak suka nulis lagi padahal dunia gak pingin tahu kenapa saya jadi gak suka menulis saat SMP..

Intinya sih saya pingin belajar menulis minimalis tapi mendalam. Yang penting-penting aja gitu yang ditulis, tapi kadang merasa ada yang kurang kalau tidak menulis detail.
Hmmm..oke, mari mencoba menulis singkat. Dan satu hal yang penting adalah istiqamah menulis (duh, ini kan indikator dalam penelitian saya, kok jadi nongol disini, kenapa juga jari-jari saya ngetik itu).
Kalau begini saya jadi mikir, detail dan bertele-tele (dalam kasus saya) jadi beda tipis deh? :(

Friday, January 1, 2016

Sup Tomat dan Sepatu Basah : A Review

Postingan pertama pada hari pertama di tahun 2016, dengan pertama kali pula posting tentang review buku.

Judul buku ini adalah Sup Tomat & Sepatu Basah, pengarangnya adalah Uki Lukas.
Bisa dibilang ini adalah salah satu buku terbaik yang pernah saya baca. Simple, cool, yet so deep.
Buku ini begitu sederhana, tetapi maknanya mendalam tanpa menggurui yang berlebihan.
Kalau ala-ala juri salah satu ajang pencarian bakat sih gini, "aku sih yes" :p



Bab-bab awal disuguhi pengalaman penulis yang kakinya tidak sengaja tercebur ke panci berisi sup tomat yang akan diikutkan dalam lomba memasak di sekolah. Karena penulis takut perbuatannya diketahui orang lain, penulis diam saja dan mengharuskan ia berbohong bahwa penulis alergi tomat agar tidak memakan sup tersebut.
Hingga bab berikutnya bergulir, penulis bercerita dengan sederhana tentang kehidupan sehari-hari. Bagaimana orang tua seharusnya mengajarkan anaknya agar tidak tamak dari hal kecil, misalnya daat makan di restoran all you can eat.
Penulis juga menuturkan bahwa nama adalah identitas seseorang. Memberikan julukan kepada orang lain belum tentu membuat orang tersebut bahagia atau biasa saja, bisa jadi julukan tersebut dianggap sebagai menunjukkan kelemahan atau kekurangan orang tersebut.
Ada lagi bagian yang menarik yaitu ketika penulis diminta pendapat oleh temannya yang bosan dengan pekerjaannya sekarang ini. Penulis memberikan pendapatnya namun si teman nyatanya belum keluar juga dari pekerjaannya. Semuanya kembali pada masing-masing individu, apakah sebenarnya memang ia ingin 'mengubah nasib' ataukah sebenarnya takut untuk mengubah nasib.

Satu bab yang masih saya ingat adalah tentang impian. Bahwa memang tidak semua mimpi jadi kenyataan, walaupun negitu mimpi tersebut tidak pernah menjadi sia-sia.

Berikut akan saya tampilkan beberapa bagian menarik dari buku ini.







Acknowledge : recommended by my sister and borrowed from her, thanks :D

Thursday, December 31, 2015

2015 : A Review

Halo, Long time no see :D

Hari ini adalah hari terakhir ditahun 2015. Cepet banget 2015 berakhir.

Tahun 2015 menjadi tahun dimana saya melakukan beberapa hal yang sebelumnya belum pernah lakukan. Ada satu hal yang terwujud, saya melakukan satu hal dimana dulu bayangin aja nggak pernah, takut dan ogah-ogahan, tetapi sekitar tahun 2013/2014an kepikiran untuk mencoba hal tersebut, yaitu belajar ngelapak hihihi. Mungkin kalau gak ada partner-nya sampai sekarang pun belum terwujud. Alhamdulillah, akhirnya ngincipin juga suka duka dunia bisnis *ecie bisnis

Kemudian tahun 2015 ini banyak acara yang 'mungkin' seharusnya sudah saya datangi dari jaman dulu. Bisa dikatakan ini adalah wujud kesibukan yang dilakukan dari sosok yang sibuk mencari kesibukan hehe.
Pertama, bisa datang ke konferensinya TEDx Tugu Pahlawan. Asli ini keren. Speaker-nya inspiring sekali, bahkan ada disalah satu sesi saya hampir saja mbrebes mili, lalu mikir, "duh, umur sudah 20 something masih gini-gini aja" :')

Kedua, datang ke munasnya HIPMI. Ini juga kebetulan lihat spanduk dijalan acaranya terbuka untuk umum. Lalu, melihat narasumbernya oke-oke banget dan jarang banget bisa ketemu mereka dalam satu acara. Ada gubernur BI, ketua OJK, Ketua Badan Ekonomi Kreatif, dan CEO Bukalapak. Aslinya pingin datang dihari kedua karena ada Sandiaga Uno, tetapi penyakit mager seketika datang melenyapkan niat baik. Gak apa-apalah, yang penting sudah datang ke sesi hari pertama. Yang inspiring banget sih waktu Pak Triawan Munaf (Ketua Badan Ekonomi Kreatif) dan CEO Bukalapak, rasanya mereka membuat orang lain untuk selalu optimis.

Ketiga, datang ke workshopnya holopis. Workshop-nya bertemakan "Gardening for Dummies". Sempet email panitianya untuk memastikan bahwa acara ini memang tentang tanam-menanam *LOL. Gak tau kenapa waktu itu curious banget sama acara ini. Pas hari H, saya datang agat telat, 15 menitan, eh, ternyata baru 1 orang panitianya aja yang datang. Semakin was-was kan jadinya. Akhirnya muterin dulu galeri biennalle Jatim, lumayan, cuci mata. Akhirnya workshop dimulai 1,5 jam kemudian dari jadwal dan pesertanya yang hadir hanya 2, padahal ada wartawan Jaw* Pos lho bikin liputan -_-
Show must go on dong, acara tetap berlangsung, lalu ada satu peserta lagi datang dan beberapa panitianya ikut nimbrung, jadi kelihatan agak banyakan hehe.
Mulai belajar deh mengenai benih dan mendapatkan benih, lalu acara tanam menanam dimulai.
Pesertanya dikasih buah tangan tanaman yang sudah ditanam tadi. Sampai sekarang masih hidup lho tanaman okranya di rumah, yeay!

by holopis
Apalagi ya?
Oh, ada 1 lagi. Ini yang super nggak nyambung sebenernya dengan pengalaman saya selama ini. Tapi ini menarik. Akhir-akhir ini semakin marak anak muda bikin start up, nah saya anak ekonomi, kudet beginian, diajakin ikut dalam sebuah tim bikin start up. Pertamanya gak mau, tapi mikir lagi ini menarik. Yaa, benar saja, meskipun saya roaming dengan istilah-istilah mereka, tetapi sempat incipin sesi mentoring. Sengaja datang ke sesi mentoring yang general, bukan yang khusus programming. Bingo, lagi-lagi so inspiring sekali. Ada Ko Rolles yang selalu memotivasi dan cerita yang masih inget sampai sekarang tentang telur Colombus, intinya setiap orang bisa melakukan hal-hal yang hebat, tetapi begitu keduluan orang lain, biasanya ada saja yang mencemooh, "gitu doang mah gampang". Nah, kalau gampang, tiap individu memiliki kesempatan yang sama untuk melakukan hal yang hebat, kenapa gak duluan? Kalau kurang jelas, coba googling tentang telur Colombus ini :p
Kemudian ada Ko Yansen pernah bilang gini, kebetulan ada yang mengabadikan kutipannya. "while a lot of people want to be successful, I choose to be useful. I always believe that the world would be a much better place if everyone want to be useful for others. To be successful is always about yourself, but being useful is always about people."
Menurut mereka ini, melalui start up, maka kita bisa membantu banyak orang, memudahkan orang-orang melalui teknologi informasi.


Terimakasih 2015, memberikan kesempatan sekaligus pembelajaran yang seringkali bikin sedih juga XD

Bagaimana dengan 2015 mu?


Selamat tahun baru, semoga 2016 menjadi pribadi yang lebih baik!
Penasaran 2016 bakalan seperti apa ;)

Wednesday, September 2, 2015

Explore Yogyakarta: Manisnya And Or Bookstore

Akhirnya menginjakkan kaki kembali ke Yogya setelah terakhir kali kesana tahun 2013 dimana tidak sampai setengah hari saja saya disana.
Biarlah saya dibilang out of date, yang penting hati ini senang, karena ini adalah pertama kali saya ke Yogya naik kereta api. Kemudian, pertama kali juga saya naik bus trans Yogya. Pertama kali ke House of Raminten. Pertama kali ke alun-alun Kidul (Saya mengunjungi Alun-alun Kidul di siang hari, biar gak mainstream dong). Sementara semua yang saya sebutkan tadi adalah sesuatu/tempat yang sudah sangat sering dilakukan atau kunjungi oleh kebanyakan orang.

Yogya sangat manis, salah satu tempat manis yang paling berkesan adalah And Or Bookstore.
Berbekal motor sewaan dan GPS, sampailah saya dan adik ke And Or Bookstore.
Letaknya memang agak nyempil sih diantara toko-toko lain yang berjejer sepanjang jalan Bougenville. Oh ya, alamat lengkapnya adalah Jalan Bougenville IC Karangasem CTX, Gejayan, Sleman, Yogyakarta. Dekat dengan UNY.

Sempat penasaran dengan Roti Papi nya, ternyata belum ready saat itu. Fyi, And Or Bookstore ini tidak hanya menjual buku (yang bisa dibaca ditempat karena rata-rata secondhand book) tetapi juga ada cafe di lantai dasar, sedangkan toko bukunya berada di lantai dua.



Begitu masuk, wah, saya terkagum-kagum. Sangat unik dan bikin mulut komat kamit sendiri, "so cute, so cute", berulang-ulang. Pingin banget deh punya beginian di rumah. Semoga suatu hari nanti bisa punya semacam ini *.*

Menawan, bukan?

Fixed, saya kesengsem dengan toko buku ini.
Kebetulan saat kami datang, toko buku ini sedang disewakan menjadi studio foto wisuda, jadinya bagian tertentu saja yang bisa kami nikmati.

Bagaimana dengan sudut yang ini?

Aah, tapi tidak mengapa. Setelah cek buku ini itu dibeberapa bagian rak, justru mata saya tertarik pada satu buku kecil, dongeng putri tidur. Segera saya ambil dan beruntungnya, saya mendapatkan buku cerita tersebut edisi ilustrasi 3D minimalis di dalamnya. Mungkin di toko buku seperti gramedia, banyak dijual seperti itu, tetapi mendapatkan buku dongeng tersebut di And Or Bookstore tidak kalah menariknya seperti menemukan harta karun. Aaak, I found a cute book.

Manis dan Menawan

Beruntungnya juga sempat ketemu dengan salah satu ownernya yang bule. Ternyata dia membuat toko buku itu dengan temannya (join an). Saat saya membayar buku dongeng tersebut, si bule menawari saya untuk memakai kantong plastik atau tidak. Saya menolak menggunakan plastik selain buku tersebut kecil, juga hitung-hitung mengurangi penggunaan plastik. Wah, bagus juga, And Or Bookstore menawari pembeli untuk menggunakan kantong plastik atau tidak, mengingat saat ini jarang ada toko menawari pembelinya menggunakan kantong plastik atau tidak, yang ada mereka diam saja sambil memasukkan barang ke plastik, tanpa menawari pembeli.
Ah, bingo, berarti ini juga pertama kalinya saya membeli sesuatu dengan ditawari terlebih dahulu menggunakan plastik atau tidak.

Itulah salah satu manisnya Yogyakarta. Sepertinya pilihan yang tidak salah, saya pernah berharap bisa tinggal di kota manis ini. Someday, semoga ada kesempatan lagi untuk menggali Yogyakarta lebih dalam lagi. 

Thursday, July 23, 2015

Pernah Mudik

Seumur-umur, saya merasakan mudik lebaran baru 2 kali.
Pertama, mudik dari Mataram. Kedua, mudik dari Madiun. Seneng banget deh waktu itu bisa merasakan mudik. Jauh-jauh hari udah mantengin tiket pulang sekalian balik. Waktu itu saya dikasih libur agak panjang, ngurus reschedule tiket pun saya belain jauh-jauh ke BIL karena kantor perwakilan maskapai tersebut nggak ada di kota Mataram. Biaya reschedulenya Alhamdulillah murah, malah mahal ongkos dari Mataram ke BIL (mau naek motor malas amat karena pas puasa).

Pun juga begitu saat mudik dari kota Madiun. Jauh-jauh hari mulai cek tiket kereta. Saya nggak bayangin kalau harus naik bus, macetnya duh duh duh. Mending naik kereta turun stasiun Gubeng (kalau malem kereta Madiun-Sidoarjo gak ada hiks), paling kena macetnya pas perjalanan ke Sidoarjo saat melewati jalan A. Yani.

Waktu mudik LOP-SUB, senengnya bukaan main. Dapet libur duluan *big thanks to my SPV, alhasil saya masih bisa buber dengan teman-teman, meskipun cuma sehari saja sempetnya, tetep Alhamdulillah banget deh, karena waktu itu rasanyaa rinduu sekali Sidoarjo-Surabaya.

Mudik MAD-SGU juga seneng banget karena mudiknya rame-rame, errr bertiga aja sih sebenernya dan hampir tiap minggu kami pulangnya juga bareng naik kereta atau bus. hehehe. tapi sueneng banget, akhirnya libur tiba setelah merasakan hectic banget beberapa hari mendekati libur, selain karena ada pengambilan gaji, THR, gaji ke-13 para pensiunan, juga penukaran uang baru dan isi ATM yang sempet ada selisih sampe lembur hingga hampir jam 24.00 di kantor :') Aduh, jadi rindu dengan teman-teman. Kami bersyukur tiada tara karena mendapat tiket tujuan Surabaya Gubeng dengan jadwal reguler (bukan kereta tambahan), karena beberapa teman mendapat tiket dari kereta tambahan tersebut dan mengalami keterlambatan kedatangan kereta, alhasil nunggu beberapa jam di stasiun Madiun, padahal saat itu kami sudah tiba di stasiun Gubeng.

Sebagai warga aseli Sidoarjo, mudik adalah hal yang pernah menjadi wishlist saya karena sumur-umur belum pernah mudik. Keluarga juga asli Sidoarjo. Silaturrahim saat lebaran pun di Sidoarjo. Bersyukur sekali akhirnya pernah mengalami mudik dan mendapatkan kelancaran dalam mudik.

Menjalang lebaran kemarin, media sosial ramai dengan teman-teman yang sedang merantau dan mengalami hambatan dalam mudik. Gunung Raung meletus sehingga bandara di Jawa Timur ditutup. Ada yang tetep tetap mudik dengan jatah libur lebaran yang minim dan ada yang membatalkan mudik (I know your feeling, libur lebaran nggak jadi pulang huhuhu). Ada pula yang sedang merantau di negeri orang, dengan situasi yang mungkin belum mendukung untuk pulang, jadinya belum berkesempatan mudik lebaran.

Salah satu perasaan yang paling menyenangkan adalah ketika mudik. Serius. Rasanya gak sabar ketemu orang tua, kembali ke rumah, berkumpul dengan keluarga, menyantap masakan rumah, dan lain sebagainya. Rasanya kita mendapat suntikan energi untuk menghadapi ke perantauan yang jauh dari keluarga. Kemudian, saat akan kembali ke perantauan adalah saat-saat yang rasanya-kalau-bisa-pause-pasti bakalan saya pause. Tidak semua orang beruntung mendapat pekerjaan pertama yang 'sesuai' dan terlebih lagi dekat rumah. Tapi dengan merantau akan membawa cerita tersendiri dan memberikan pembelajaran tersendiri. Satu pembelajaran yang saya dapat adalah, dengan merantau (jauh dari rumah), kamu akan jadi tangguh :')

Entahlah, dimasa depan saya bakalan merasakan mudik lagi atau enggak :)

Ngomong-ngomong, mumpung masih bulan syawal nih, saya mengucapkan Taqabbalallhu minna wa minkum. Selamat idul fitri 1436 H. Mohon maaf atas segala kesalahan maupun kekecewaan. Semoga kita menjadi pribadi yang lebiiiiiih baik lagi. Aamiin